{"id":374288,"date":"2025-11-25T15:58:05","date_gmt":"2025-11-25T08:58:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=374288"},"modified":"2025-11-26T07:58:27","modified_gmt":"2025-11-26T00:58:27","slug":"5-alasan-orang-klaten-lebih-memilih-plesir-ke-jogja-daripada-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-orang-klaten-lebih-memilih-plesir-ke-jogja-daripada-solo\/","title":{"rendered":"5 Alasan Orang Klaten Lebih Memilih Plesir ke Jogja ketimbang Solo, padahal Sama-sama Dekat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Klaten, perjalanan ke Jogja dan Solo itu begitu mudah dilakukan. Mereka bisa menggunakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/krl-jabodetabek-bikin-iri-pekerja-jawa-timur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KRL<\/a> yang hadir tiap satu jam sekali. Pilihan transportasi lain juga banyak, ada bus hingga transportasi online.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau aksesnya sama-sama mudah, kebanyakan orang Klaten yang saya temui lebih memilih plesir ke Jogja daripada Solo. Ada beberapa alasan yang mendorongnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Suasana Jogja lebih menarik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja dan Solo memang mirip, tapi Jogja jauh lebih menarik dan hidup. Pilihannya wisatanya pun rasa-rasanya lebih banyak. Mau mencari wisata kuliner, sejarah, budaya, alam, hingga belanja semua ada. Belum lagi, kedai kopi hingga toko buku dengan konsep unik. Semuanya ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo juga menarik sebenarnya. Hanya saja, terlalu mirip dengan suasana klaten. Sementara, kebanyakan orang plesir itu mencari suasana baru. Nah, kalau suasana yang dituju mirip dengan Klaten, ngapan liburan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-orang-klaten-lebih-memilih-plesir-ke-jogja-daripada-solo\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: #2 Pariwisata yang terus berkembang dan selalu ada yang baru&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#2 Pariwisata yang terus berkembang dan selalu ada yang baru\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah sejak lama Jogja menyandang status Kota Wisata. Tidak heran kalau fasilitas dan infrastruktur terkait pariwisata di sana begitu siap dan lengkap. Tidak hanya itu, dari tahun ke tahun, ekosistemnya pun terus berkembang. Destinasi wisata baru pun semakin beragam. Museum kreatif, kafe tematik, studio seni, area outdoor, hingga spot foto spot foto menarik. Warga Klaten cari apa aja pasti ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, orang yang sudah ke Jogja selalu punya alasan untuk kembali lagi. Sebab, tempat ini selalu punya hal baru. Dan, kota ini pas untuk dikunjungi dalam kelompok yang punya berbagai macam selera liburan karena ada banyak pilihan di sana.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kuliner lebih menarik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner juga menjadi alasan kuat untuk mengunjungi Jogja. Ada bakpia menjadi oleh-oleh wajib. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sate-klatak-pak-jede-jogja-paling-enak-di-lidah-orang-semarang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sate klatak<\/a>, gudeg, mangut lele, dan bakmi Jawa. Ada juga restoran yang menjajakan kuliner dari daerah dan negara lain di sana. Nggak heran kalau, orang Klaten sering sengaja datang secara khusus hanya untuk sarapan, makan siang, atau makan malam di kota ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Solo sebenarnya juga kaya. Namun, menurut saya, branding kuliner Jogja jauh lebih kuat. Banyak merek kuliner atau warung yang menembus media sosial. Hal inilah yang membuat warga Klaten merasa lebih penasaran untuk mencoba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak aneh jika banyak orang Klaten mengatakan bahwa liburan ke Jogja kadang hanya berarti mencari makanan tertentu yang sedang viral. Aktivitas sederhana itu sudah cukup untuk membuat perjalanan berharga.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Jogja muncul di banyak budaya populer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja muncul di banyak karya populer. Banyak film, lagu, novel menempatkan Jogja sebagai latar yang hangat dan penuh kenangan. Representasi ini mempengaruhi cara orang melihat kota tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Klaten pun jadi turut penasaran dengan gambaran yang selama ini ada di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Budaya_populer\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">budaya populer<\/a>. Benarkah Kota Pelajar ini memang demikian? Jogja menjadi kota yang terasa dekat secara emosional. Dan, hal ini mendorong mereka untuk mampir tiap kali ada kesempatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Ada semacam ikatan emosional lebih dalam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entahlah. Orang-orang Klaten yang saya temui kebanyakan punya ikatan emosional lebh dalam dengan Jogja daripada Solo. Entah dahulu pernah tinggal di sana, pernah sekolah di sana, atau sekadar sering berwisata ke Jogja. Ada pula yang pernah kuliah selama bertahun-tahun atau bekerja di Kota Pelajar ini. Semuanya menjadi suatu pengalaman yang membekas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja menjadi tempat penuh kenangan. Itu mengapa, ketika mampir untuk plesir atau keperluan lain, kebanyakan orang Klaten serasa menemukan potongan masa lalu yang masih hidup. Perasaan itu membuat Jogja menjadi tujuan favorit ketika mereka ingin mengingat hal-hal baik yang pernah dilewati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah, 5 alasan orang Klaten lebih memilih berlibur ke Jogja daripada ke Solo. Jogja memberikan ruang untuk hidup sejenak di luar rutinitas. Sementara Solo tetap menjadi kota yang nyaman. Namun, Solo tidak selalu menjadi jawaban ketika rasa ingin <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tempat-wisata-jogja-yang-tak-perlu-dikunjungi-lagi-cukup-sekali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">liburan<\/a> muncul.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-diam-diam-lebih-urban-daripada-bantul\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Klaten Diam-diam Lebih Urban daripada Bantul.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja dan Solo sama-sama mudah diakses dari Klaten. Namun, bagi orang Klaten, Jogja lebih menarik sehingga lebih senang plesir ke sana. <\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":374732,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,8095,31315,2284,5533,10038],"class_list":["post-374288","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-klaten","tag-orang-klaten","tag-solo","tag-tempat-wisata","tag-wisata-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=374288"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374288\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/374732"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=374288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=374288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=374288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}