{"id":373497,"date":"2025-11-20T10:38:12","date_gmt":"2025-11-20T03:38:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=373497"},"modified":"2025-11-20T10:38:12","modified_gmt":"2025-11-20T03:38:12","slug":"penderitaan-orang-bantul-yang-kuliah-di-sleman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penderitaan-orang-bantul-yang-kuliah-di-sleman\/","title":{"rendered":"Orang Bantul Kalau ke Sleman Rasanya Dekat, tapi Orang Sleman ke Bantul Rasanya Jauh Banget: Penderitaan Mahasiswa Nglaju PP"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi orang Bantul yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-bantul-dan-motoran-adalah-orang-paling-tabah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliah<\/a> di Sleman itu bukan cuma soal menempuh jarak. Pengalaman ini juga tentang nasib.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Antara sabar menghadapi kemacetan, sabar menghadapi cuaca yang tidak menentu, dan menghadapi chat dosen yang tiba-tiba bilang \u201cKuliah hari ini online ya!\u201d Padahal, saya udah separuh jalan, rambut sudah lepek, dan bensin sudah habis separuh. Rasanya ingin marah tapi dalam hati \u201cYa udahlah,\u201d yang akhirnya cuma bisa putar balik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pertanyaan abadi untuk anak Bantul yang kuliah di Sleman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang saya berpikir bahwa kesabaran mahasiswa Bantul ada di tingkat yang maksimal. Hanya kami yang benar-benar tahu rasanya harus bangun tiga jam lebih awal sebelum kelas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Bantul, tepatnya di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pundong,_Bantul\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pundong<\/a>, dan kuliah di Sleman, tidak heran ketika teman-teman yang ngekos bertanya, \u201cKenapa PP? Rumahmu jauh banget, mending ngekos.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan itu sering saya dengar sampai hampir semester akhir. Bagi mereka, ngekos adalah pilihan paling praktis, efisien, dan hemat. Tapi bagi saya, pulang setelah kuliah terdapat rasa yang tidak bisa dijelaskan. Saya bisa tidur di kasur sendiri dan menikmati makanan yang sudah siap di rumah, tanpa perlu memikirkan, \u201cMakan apa ya hari ini?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Keinginan vs realita\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun begitu, terkadang muncul sedikit keinginan untuk ngekos. Khususnya ketika rasanya sedang capek-capeknya menghadapi jam kelas yang sangat pagi. Apalagi ketika sibuk mengikuti kepanitiaan maupun organisasi yang membuat saya tinggal lebih lama di kampus sampai malam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lewat keluh kesah itu, saya pernah menyampaikan niat untuk ngekos kepada teman sesama orang Bantul. Tapi bukannya mendukung, dia malah tertawa sambil berkata, \u201cHalah, ngapain ngekos. Lama-lama juga terbiasa. Lagi pula cuma beda berapa menit sampai di Sleman.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin memang benar, sebagai orang Bantul, jarak bukan masalah besar dan seperti kata orang tua saya, \u201cEnak di rumah Nak. Hemat pengeluaran bulanan dan bisa kumpul terus. Lagian cuma di Sleman.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya saya sadar. Jadi mahasiswa PP bukan cuma tentang perjuangan di jalan, tapi juga tentang bertahan di antara dua dunia antara realita dan kasur empuk di rumah.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih capek jauh dari rumah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, saya pernah mendengar kata-kata \u201cOrang Bantul kalau ke Sleman rasanya dekat, tapi orang Sleman ke Bantul rasanya jauh banget.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kalau dipikir, memang realita yang saya temui ya seperti itu. Ketika saya bilang rumah saya Bantul, mereka langsung mengatakan kalau itu jauh sekali dan saya selalu membantah dengan mengatakan \u201cHalah cuma satu jam.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa, jarak satu jam itu terasa ringan di sisi Bantul, tapi berat di sisi Sleman. Mungkin karena kami sudah terbiasa berdamai dengan waktu dan bensin. Terlebih hidup kami bergantung di kabupaten Sleman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, setiap orang punya pertimbangan masing-masing, ada yang memilih ngekos, ada juga yang tetap PP seperti saya. Bagi saya, perjalanan bolak-balik itu bukan hanya soal lelah, tapi ada kepuasan tersendiri ketika bisa pulang, melepas penat di ruang yang sudah dikenal sejak kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun harus bangun lebih pagi dan pulang lebih malam, setidaknya saya tahu ke mana harus kembali setiap hari, yaitu ke rumah yang selalu menanti. Lalu, jika suatu hari ada yang bertanya lagi, \u201cNggak capek PP tiap hari?\u201d saya akan menjawab dengan santai, \u201cCapek sih, tapi lebih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merantau-di-jogja-lebih-enak-dibanding-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">capek kalau jauh dari rumah<\/a>.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Bernadetha Natasya Mega Pramana<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-bukan-untuk-kaum-mendang-mending-pikir-ulang-kalau-mau-tinggal-di-sini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul Bukan untuk Kaum Mendang-Mending, Pikir Ulang kalau Mau Tinggal di Sini!<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><i><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cOrang Bantul kalau ke Sleman rasanya dekat, tapi orang Sleman ke Bantul rasanya jauh banget.\u201d\u00a0Kalimat itu kok rasanya benar adanya.<\/p>\n","protected":false},"author":3142,"featured_media":373499,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5766,115,31203,31204,7235,31202],"class_list":["post-373497","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bantul","tag-jogja","tag-kuliah-di-sleman","tag-kuliah-nglaju","tag-sleman","tag-tinggal-di-bantul"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373497","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3142"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=373497"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373497\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/373499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=373497"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=373497"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=373497"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}