{"id":373260,"date":"2025-11-19T10:15:17","date_gmt":"2025-11-19T03:15:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=373260"},"modified":"2025-11-19T10:16:09","modified_gmt":"2025-11-19T03:16:09","slug":"5-fakta-menarik-tentang-kebumen-yang-jarang-diketahui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-fakta-menarik-tentang-kebumen-yang-jarang-diketahui\/","title":{"rendered":"5 Fakta Kebumen yang Jarang Diketahui Orang, Membuat Kabupaten Ini Terus Berada di Bawah Stigma Daerah Tertinggal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang muncul di benak ketika mendengar nama Kebumen? Mungkin, yang terbayang adalah kabupaten pinggiran di ujung barat daya Jawa Tengah dengan deretan pantai cantik yang belum banyak dijamah wisatawan. Atau mungkin, muncul ingatan tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-kebumen-wajib-dikunjungi-wisatawan-bikin-lupa-pulang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pantai Menganti<\/a> yang viral dengan pasir putihnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, izinkan saya, sebagai orang yang lahir dan besar di Kebumen menjelaskan, sisi lain tentang kampung halaman ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kebumen punya geopark yang diakui UNESCO<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahukah kamu kalau Kebumen sebenarnya menyimpan sesuatu yang bahkan nggak dimiliki kota besar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada April 2025, Geopark Kebumen resmi diakui sebagai UNESCO Global Geopark. Ini bukan pencapaian kecil. Geopark ini menyimpan kisah tentang batuan tertua di Jawa dan bukti terbaik teori tektonik lempeng di Asia Tenggara. Di kawasan Karangsambung, tersimpan jejak dasar samudra purba berusia 80 juta tahun yang terangkat menjadi daratan cikal bakal terbentuknya Pulau Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Geopark Kebumen dijuluki &#8220;The Mother of Earth&#8221; karena kekayaan geodiversitas, biodiversitas, dan warisan budaya yang dimilikinya. Kawasan ini mencakup 41 situs geologi, 8 situs biologi, dan 10 situs budaya yang tersebar di 22 kecamatan. Jadi, buat yang masih bilang Kebumen &#8220;nggak ada apa-apanya,&#8221; coba deh datang dan lihat sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Punya dua waduk raksasa yang jadi lumbung padi Jawa Tengah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal kedua yang jarang disorot adalah peran vital Kebumen sebagai penyangga ketahanan pangan Jawa Tengah. Kebumen memiliki dua waduk besar, yaitu <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Waduk_Sempor\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Waduk Sempor<\/a> dan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Waduk_Wadaslintang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Waduk Wadaslintang<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waduk Wadaslintang adalah bendungan dengan inti basah tertinggi di dunia hingga tahun 2006, tingginya mencapai 116 meter dengan kapasitas 443 juta meter kubik. Sementara Waduk Sempor punya sejarah kelam pada 1967, bendungan pembantu Waduk Sempor jebol dan menelan korban jiwa sebanyak 127 orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua waduk ini mampu menyuplai kebutuhan irigasi bagi areal persawahan di Kebumen dan Purworejo seluas lebih dari 30.000 hektar. Menghasilkan tambahan 210.000 ton beras per tahun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat dukungan ini, Kebumen mampu surplus beras 150 ribu ton per tahun. Jadi, setiap kamu makan nasi di Jawa Tengah, ada kemungkinan berasnya berasal dari sawah yang diairi oleh waduk di Kebumen.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kota Walet dengan ritual panen yang mistis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen adalah pusat produksi sarang walet terbesar di Indonesia. Kawasan karst Gombong Selatan dengan ratusan gua alami menjadi habitat ideal bagi burung walet. Yang bikin unik, proses pemanenan sarang walet di Kebumen harus dilakukan dengan rangkaian ritual adat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut kepercayaan warga setempat, sarang burung walet adalah milik Nyi Roro Kidul, penguasa pantai selatan. Makanya, sebelum panen harus ada ritual meminta izin lengkap dengan sesaji, pembacaan mantra, hingga pagelaran wayang kulit. Bagi orang luar ini mungkin terdengar takhayul, tapi bagi warga Kebumen, ini adalah bentuk penghormatan terhadap alam dan kepercayaan turun-temurun.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kebumen punya 53 kilometer garis pantai eksotis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen memang sederhana. Bahkan bisa dibilang &#8220;ketinggalan&#8221; dalam hal fasilitas urban. Di Kebumen tidak ada mal, bioskop, atau gedung pencakar langit. Mayoritas anak sekolah masih menggunakan sepeda onthel dan sangat minim kawasan industri sehingga polusi udaranya masih bersih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi di balik kesederhanaan itu, Kebumen menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga dengan adanya alam. Garis pantai sepanjang 53 kilometer di daerah selatan Kebumen menjadi destinasi menarik yang belum banyak diketahui.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berjajar pantai-pantai cantik, di antaranya ada Menganti dengan pasir putihnya yang langka di Jawa Tengah, Karang Bolong dengan tebing kapur berlubang yang ikonik, Surumanis yang tersembunyi, Pantai Suwuk yang sering ramai dan masih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap pulang kampung, saya selalu bersyukur. Meski Kebumen nggak punya Starbucks atau XXI, setidaknya saya punya akses ke puluhan pantai cantik yang masih asri. Karena kadang, kebahagiaan nggak selalu soal seberapa maju fasilitasnya, tapi seberapa dekat kita dengan alam.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Slogan &#8220;Ora Ngapak Ora Kepenak&#8221; yang Jadi Identitas kultural Kebumen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta terakhir yang paling relate buat saya sebagai orang Kebumen adalah slogan khas daerah ini &#8220;Ora Ngapak Ora Kepenak&#8221;. Slogan ini menjadi cerminan identitas kultural yang kuat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi warga Kebumen, berbicara tanpa dialek <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebumen-bukan-sebatas-tempat-singgah-di-antara-jogja-purwokerto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ngapak<\/a> itu terasa hambar, nggak berjiwa. Ngapak adalah cara kami mengekspresikan diri dengan santai, blak-blakan, tapi tetap hangat dan ramah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Slogan ini juga menjadi bagian dari gerakan pelestarian bahasa daerah yang semakin langka di Indonesia. Yang melakukannya adalah komunitas-komunitas seperti Republik Ngapak. Komunitas ini aktif mengajarkan bahasa daerah Banyumasan kepada generasi muda agar nggak punah tergerus modernisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap bertemu teman-teman dari luar daerah, mereka selalu kaget dengan logat ngapak yang kental. &#8220;Kok ngomongnya aneh?&#8221; kata mereka. Tapi bagi saya, itulah yang bikin Kebumen tetap punya karakter. Di tengah gencarnya homogenisasi budaya, Kebumen masih setia mempertahankan bahasanya. Dan itu patut diapresiasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngapak bukan cuma soal pelafalan huruf &#8220;a&#8221; yang khas, tapi juga tentang bagaimana kami melihat dunia dengan santai, apa adanya, dan nggak perlu ribet. Filosofi hidup yang sederhana tapi penuh makna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya pribadi, lahir dan besar di sini adalah anugerah. Meski kampung halaman ini sederhana, tapi kaya akan hal-hal yang jauh lebih berharga dari gemerlap kota besar dengan alam yang masih asri, sejarah yang dalam, dan identitas budaya yang kuat. Dan saya bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan Kebumen menuju pengakuan dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebumen-berubah-drastis-kini-sejajar-sama-jogja-dan-purwokerto\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saran Pikir Dua Kali Sebelum ke Kebumen Itu Benar tapi Itu Dulu karena Sekarang Nggak Lagi Mengenaskan, Sejajar sama Jogja dan Purwokerto<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><i><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Izinkan saya, sebagai orang yang lahir dan besar di Kebumen menjelaskan, 5 fakta tentang kampung halaman saya yang jarang diketahui orang.<\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":373280,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10004,23982,10477,31191,20548,31192,25343],"class_list":["post-373260","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-tengah","tag-kabupaten-kebumen","tag-kebumen","tag-lumbung-padi-jawa-tengah","tag-pantai-menganti","tag-waduk-sempor","tag-waduk-wadaslintang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=373260"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373260\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/373280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=373260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=373260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=373260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}