{"id":373046,"date":"2025-11-26T10:58:13","date_gmt":"2025-11-26T03:58:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=373046"},"modified":"2025-11-26T10:58:13","modified_gmt":"2025-11-26T03:58:13","slug":"8-aturan-tak-tertulis-di-solo-yang-wajib-kalian-tahu-sebelum-datang-ke-sana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-aturan-tak-tertulis-di-solo-yang-wajib-kalian-tahu-sebelum-datang-ke-sana\/","title":{"rendered":"8 Aturan Tak Tertulis di Solo yang Wajib Kalian Tahu Sebelum Datang ke Sana"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Liburan akhir tahun akan tiba, jalanan Solo mulai ramai dengan kendaraan pelat luar kota. Ada yang sengaja datang untuk wisata kuliner, ada yang berburu batik, ada pula yang hendak nonton pertandingan sepak bola. Apa pun tujuan kalian ke Solo, ada baiknya kalian memahami beberapa aturan tak tertulis yang berlaku di kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biar nggak sampai bikin malu diri sendiri atau malah jadi bahan omongan warga lokal, simak baik-baik sepuluh aturan tak tertulis berikut ini:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jangan asal ngebut di jalan-jalan kecil\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo penuh dengan gang-gang kecil yang jadi shortcut andalan warga. Tapi jangan karena jalan sepi terus kalian ngebut kayak lagi balapan. Jalan-jalan kecil ini sering dipakai dua arah sekaligus meski lebarnya cuma pas-pasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi, di gang ini sering ada anak kecil main, motor parkir sembarangan, atau tukang sayur keliling yang tiba-tiba nongol. Kalau kalian ngebut dan kejadian apa-apa, yang salah tetap kalian sebagai pendatang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pelan-pelan saja. Nikmati pemandangan kampung yang asri daripada kebut-kebutan yang ujungnya malah nabrak tanaman warga.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Pahami &#8220;jam karet&#8221; ala wong Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian bikin janji dengan orang Solo, siapkan mental untuk menunggu 15-30 menit lebih lama. Ini bukan berarti mereka nggak menghargai waktu, tapi memang budaya &#8220;jam karet&#8221; masih kental di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Solo punya ritme hidup yang santai. Mereka lebih suka ngobrol dulu sama tetangga, mampir warung kopi, atau sekedar ngeliat situasi dulu sebelum berangkat. Ketepatan waktu bukan prioritas utama, yang penting semua berjalan dengan nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kalian orangnya super on time, lebih baik kasih toleransi atau atur strategi, seperti bilang janji jam 2, padahal acara mulai jam 3.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Siap-siap ditawari makan berkali-kali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Wis mangan durung?&#8221; (Sudah makan belum?) adalah sapaan sakral di Solo. Kalau kalian bertamu ke rumah warga, bersiaplah ditawari makan atau minum berkali-kali. Bahkan kalau kalian bilang sudah kenyang, mereka tetap akan memaksa dengan halus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan paksaan yang menjengkelkan, tapi cara orang Solo menunjukkan keramahan dan penghormatan kepada tamu. Menolak dengan tegas bisa dianggap nggak sopan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang perlu kalian lakukan adalah terima saja dengan senang hati, meski cuma sekedar ngecap atau minum sedikit. Lagipula, siapa sih yang nolak makanan enak di Solo?<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Hormati tradisi dan ritual lokal di Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo adalah kota yang kaya tradisi Jawa. Kalian akan sering menemukan ritual seperti kirab (pawai budaya), tirakatan menjelang hari besar, atau kebiasaan nyekar (ziarah) ke makam leluhur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian kebetulan melihat atau terlibat dalam momen-momen ini, bersikaplah hormat. Jangan asal jepret foto atau berkomentar sembarangan. Tanyakan dulu boleh atau tidak, dan ikuti aturan yang ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat, kalian datang sebagai tamu. Menghormati tradisi lokal adalah cara paling sederhana untuk diterima di tengah masyarakat Solo.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Biasakan menyapa dengan &#8220;monggo&#8221; atau &#8220;pareng&#8221; di Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian melewati pemukiman warga atau gang-gang kecil, jangan lupa menyapa dengan &#8220;monggo&#8221; (silakan) atau &#8220;pareng&#8221; (permisi\/pamit). Ini adalah kebiasaan orang Solo yang sangat dihargai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sapaan sederhana ini menunjukkan kalau kalian menghormati warga lokal dan nggak sok jadi tuan rumah di kampung orang. Orang Solo sangat menghargai pendatang yang mau beradaptasi dengan budaya mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian mau lebih diterima dan dibantu warga lokal, jangan pelit senyum dan sapa. Dijamin mereka akan lebih ramah dan bahkan mau ngasih info tempat makan enak yang nggak ada di Google.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Jaga etika berbahasa dan berucap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Solo terkenal dengan tutur kata yang halus dan lemah lembut. Mereka nggak suka keributan dan lebih menghargai komunikasi yang sopan. Jadi, kalau kalian ngobrol dengan warga lokal, tahan ego untuk nggak berbicara dengan nada tinggi atau kasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi kalau kalian lagi di tempat umum atau pemukiman warga. Berbicara keras bisa dianggap nggak sopan dan bikin kalian jadi sorotan negatif. Orang Solo mungkin nggak akan menegur langsung, tapi mereka akan ingat dan menjauhkan diri dari kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, turunkan volume suara, gunakan bahasa yang santun, dan tersenyumlah saat bertemu warga lokal. Keramahan itu menular, kok.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Ekstra hati-hati melewati Jalan Slamet Riyadi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jalan_Slamet_Riyadi_(Surakarta)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Slamet Riyadi<\/a> adalah ikon Solo yang terkenal. Tapi buat pendatang, jalanan ini punya jebakan, seperti ada rel kereta api yang nongol di tengah jalan! Ini bukan rel mati yang cuma jadi pajangan, tapi rel aktif yang masih dilewati Kereta Batara Kresna jurusan Solo-Wonogiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, rel ini sering nggak terlihat jelas, terutama buat yang jarang lewat sini. Kedua, permukaan rel itu licin kayak es. Kalau kalian nggak hati-hati, motor bisa terpeleset dan kalian langsung jadi tontonan gratis warga sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kurangi kecepatan saat melewati rel, fokus ke jalan, dan jangan sambil main HP. Percayalah, keselamatan jauh lebih penting daripada update Instagram story.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Jangan parkir sembarangan di Rel Kereta Trade Center<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih soal rel kereta. Kalau kalian mampir ke BTC (Beteng Trade Center), jangan coba-coba parkir di perlintasan rel kereta yang ada di depannya. Banyak orang mengira rel itu sudah mati karena jarang ada kereta lewat. Padahal, rel itu masih aktif!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kereta Batara Kresna masih rutin melintas di jam-jam tertentu. Kalau kalian parkir di sana, siap-siap diusir Dishub lewat pengeras suara yang bikin malu satu kota. Atau lebih seru lagi, kereta datang dan kalian harus angkut motor sendiri sambil ditertawakan orang sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada malu, mending cari parkiran yang beneran aman. Lagipula, parkir resmi di BTC banyak kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itulah delapan aturan tak tertulis di Solo yang sebaiknya kalian pahami. Mungkin terdengar banyak, tapi sebenarnya ini semua tentang menghargai budaya lokal dan berusaha beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian bisa mengikuti aturan-aturan ini, dijamin kunjungan ke Solo akan jadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. Jangan cuma datang, foto-foto, terus pulang. Rasakan kehangatan dan keramahan Wong Solo yang sesungguhnya. Selamat menjelajah di Kota Solo!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-cuma-ramah-ke-wisatawan-tapi-tidak-ke-warga-lokal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Solo, Kota yang Hanya Ramah ke Wisatawan, tapi Tidak ke Warga Lokal<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biar nggak sampai bikin malu diri sendiri atau jadi bahan omongan warga, simak baik-baik sepuluh aturan tak tertulis di Solo berikut ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":307596,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[31322,31323,20820,13208,2284],"class_list":["post-373046","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aturan-tak-tertulis-solo","tag-beteng-trade-center","tag-jalan-slamet-riyadi","tag-ka-batara-kresna","tag-solo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373046","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=373046"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373046\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307596"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=373046"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=373046"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=373046"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}