{"id":372962,"date":"2025-11-20T13:45:11","date_gmt":"2025-11-20T06:45:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=372962"},"modified":"2025-11-20T13:39:31","modified_gmt":"2025-11-20T06:39:31","slug":"panduan-singkat-memahami-keraton-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-singkat-memahami-keraton-solo\/","title":{"rendered":"Panduan Singkat Memahami Keraton Solo, Biar Nggak Nanya \u201cKenapa Bukan Gusti Bhre yang Jadi Raja?\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin ketika sedang ngobrol, sambil membuka TikTok, istri saya menanyakan, kenapa bukan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/cerita-di-balik-penobatan-gusti-bhre-penguasa-baru-mangkunegaran-yang-berusia-muda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Gusti Bhre<\/a> yang terkenal itu yang menjadi raja? Dua orang yang berebut tahta itu siapa? Terus apa hubungannya dengan Jogja? Dan banyak pertanyaan lainnya. Iya, beberapa hari terakhir, lini masa ramai betul membahas kisruh suksesi Keraton Solo. Semua orang memperhatikan, termasuk istri saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah ngobrol, saya jadi kepikiran, sepertinya bukan cuma istri saya yang penasaran. Di luar sana ada banyak orang yang juga penasaran. Sebab, sejauh yang saya amati di kolom komentar konten pemberitaan, ada banyak pertanyaan serupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiklah, berikut coba saya rangkumkan isi obrolan saya dengan istri, sekaligus memberikan pemahaman singkat seputar Keraton Solo.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perjanjian Giyanti<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum melangkah jauh ke keraton dan segala hiruk-pikuk sukesi yang belakangan ramai, mari lebih dulu mengenal <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Perjanjian_Giyanti\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perjanjian Giyanti (1755)<\/a>. Perjanjian yang membuat Kraton Jogja dan Keraton Solo berpisah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, awalnya Jogja dan Solo ini satu wilayah, kemudian berpisah dan menjadi dua wilayah yang berbeda. Di satu sisi, lahirlah Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono. Di sisi lain, berdiri Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwono sebagai penguasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua nama ini, Hamengku Buwono dan Pakubuwono, kelak menjadi garis keturunan panjang yang bertahan hingga hari ini. Lengkap dengan segala dinamika, intrik, sekaligus tradisi yang terus dirawat. Dan, dari sinilah (Perjanjian Giyanti) cerita panjang dua keraton Jawa itu bermula.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengenal Hamengkubuwono, Pakualaman, Pakubuwono, Mangkunegaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang masih asing, ini memang bikin mumet. Sederhananya begini, Hamengku Buwono adalah Sultan Yogyakarta, dan dalam konteks sekarang, otomatis menjabat sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/jika-aku-menjadi-gubernur-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)<\/a>. Di Jogja, ada pula Pakualaman, sebuah kadipaten kecil yang dipimpin Adipati Paku Alam dan melekat sebagai wakil gubernur dalam struktur pemerintahan DIY.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama halnya dengan Jogja, Solo juga punya dua struktur. Di sana, penguasa utamanya adalah Pakubuwono, atau Raja Surakarta yang memimpin Keraton Solo. Selain itu, Solo juga memiliki Mangkunegaran, yang dipimpin oleh seorang Pangeran atau Adipati Mangkunegara. Keduanya sama-sama institusi budaya, tapi berasal dari garis kekuasaan yang berbeda sejak masa kolonial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, konflik yang sekarang ramai itu adalah soal suksesi Pakubuwono, bukan Mangkunegaran. Dan, FYI saja, Gusti Bhre adalah Mangkunegara X. Nah, kini pertanyaan \u201cKenapa bukan Gusti Bhre yang jadi raja?\u201d sudah terjawab. Ya tentu saja karena memang bukan wilayahnya. Selain itu, jabatan Pakubuwono hanya bisa digantikan oleh penerus garis Kasunanan, bukan Mangkunegaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keraton Solo ini ikut pemerintahan atau nggak?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah menjawab seputar soal Gusti Bhre, istri saya kembali bertanya soal status Keraton Solo. Saya kira banyak orang juga penasaran, Keraton Solo itu masih bagian dari pemerintahan nggak sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, untuk memahami jawabannya, perbandingan paling mudah adalah dengan Jogja. Di Yogyakarta, Sultan otomatis menjabat sebagai Gubernur DIY. Begitu pula Paku Alam otomatis menjadi Wakil Gubernur. Keduanya berada dalam struktur formal pemerintahan negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Solo berbeda total. Keraton Solo tidak menjadi bagian dari pemerintahan formal. Perannya kini lebih sebagai lembaga budaya yang melestarikan tradisi, menjaga upacara adat, menjadi simbol sejarah. Dan, tentu saja menjadi pusat pariwisata warisan Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jika Jogja adalah wilayah yang kekuasaan tradisionalnya dilembagakan secara negara, Solo berdiri sebagai institusi budaya yang menjaga memori dan tradisi. Tidak ada jabatan gubernur atau wakil gubernur yang otomatis diwariskan dari keraton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, akhir kata, dengan panduan singkat ini, semoga saja pertanyaan \u201cLho, kok bukan Gusti Bhre yang jadi raja?\u201d tidak lagi terdengar di mana-mana. Sebaliknya, semakin banyak orang yang bisa menjelaskan dengan tenang dan percaya diri bahwa posisi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/keren-mangkunegara-x-bangun-taman-pracima-untuk-ruang-publik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mangkunegara<\/a> dan Pakubuwono memang berada di jalur yang berbeda. Bahwa Gusti Bhre adalah Mangkunegara X, sementara takhta Pakubuwono hanya bisa diwarisi oleh garis Kasunanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-punya-segalanya-tapi-masih-kalah-sama-jogja\/\"><b><i>Solo Punya Segalanya, tapi Masih Kalah Pamor sama Jogja.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang yang belum paham Keraton Solo mempertanyakan kenapa Gusti Bhre yang terkenal itu tidak masuk dalam daftar pewaris takhta.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":373550,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[31221,31222,115,22321,10303,13912,24865,31223,17530,2284],"class_list":["post-372962","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gusti-bhre","tag-hamengkubuwono","tag-jogja","tag-keraton-solo","tag-kraton-jogja","tag-mangkunegaran","tag-pakualaman","tag-pakubuwono","tag-perjanjian-giyanti","tag-solo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372962","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372962"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372962\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/373550"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}