{"id":372905,"date":"2025-11-15T16:39:47","date_gmt":"2025-11-15T09:39:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=372905"},"modified":"2025-11-16T16:18:31","modified_gmt":"2025-11-16T09:18:31","slug":"jombang-dan-lamongan-sama-sama-menderita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jombang-dan-lamongan-sama-sama-menderita\/","title":{"rendered":"Jombang dan Lamongan, Saudara Senasib Sependeritaan: Sama-sama Dihimpit Tetangga yang Maju, Sama-sama Punya Infrastruktur Remuk"},"content":{"rendered":"<p><em>Saya kira, hanya Lamongan, kabupaten yang nasibnya sial. Begitu berkunjung ke Jombang, saya jadi sadar kalau saya amat salah<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Lamongan, saya sudah terbiasa iri dengan tetangga kabupaten yang selalu saja ada gebrakan: Tuban yang makin banyak open space, Gresik yang makin industrial, dan Mojokerto yang makin estetik. Sementara Lamongan? Ya begitulah. Ia seakan hidup damai bersama jalan berlubang, tambalan tak berkesudahan, dan pejabat yang lebih suka selfie ketimbang membenahi masalah mendasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi belakangan saya sadar, ternyata Lamongan tak sendirian dalam penderitaan ini. Ada satu kabupaten yang nasibnya serupa, bahkan mungkin lebih nestapa, yakni Kabupaten Jombang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit cerita, beberapa bulan ini, saya sering melintasi Jombang. Dan jujur saja, rasa dejavu itu langsung muncul. Kota ini seperti dipaksa stagnan di tengah tetangga yang melaju kencang: Mojokerto yang berkembang, Kediri makin berkelas, sementara Jombang masih di tempat yang itu-itu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya yang orang sana juga mengatakan, \u201cDari dulu, Jombang memang kayak gini. Tak pernah ada kemajuan.\u201d Dan setelah beberapa kali ke sana, saya akhirnya percaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan di Jombang nggak bisa diandalkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai wong Lamongan, saya sangat paham bagaimana rasanya hidup dengan jalan raya yang berlubang, serta penuh tambal sulam. Maksud saya, ini bukan jalan gang, ini jalan raya lho, yang harusnya memang sesuai dengan definisi jalan raya yang menghubungkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ternyata, Jombang juga mengidap penyakit yang sama. Hampir nggak ada ruas yang mulus dari ujung ke ujung. Berkendara di sana selalu dipenuhi rasa istighfar, dan mbatin, \u201cIki dalan opo seh rek?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Program Jombang yang jalan di tempat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluhan terbesar saya pada Lamongan adalah pemerintah daerahnya yang suka gemar ikut acara seremonial, senang dokumentasi, tapi minim gebrakan yang benar-benar terasa manfaatnya. Dan rupanya Jombang juga ikut-ikutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kedua daerah ini potensi ada. Jombang misalnya, ia punya <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Wonosalam,_Jombang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wonosalam<\/a> yang cemerlang. Kalau mau, daerah tersebut bisa dibuat \u201cJombang Lantai Dua\u201d dengan konsep wisata alam. Tapi, balik lagi, itu kalau mau. Sebab, yang terlihat sampai hari ini adalah, Wonosalam cuma terasa ada, tanpa disentuh serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamongan pun tak kalah tragis. Wisata Bahari Lamongan (WBL) boleh punya wahana berkelas, tapi jalan menuju ke sana rusak. Tak pernah mulus. Maksud saya, ini wisata andalan tapi jalan rayanya hancur lebur. Jan, piye jane cara berpikirnya?<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jombang-dan-lamongan-sama-sama-menderita\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Tetangga yang terlalu maju<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Dihimpit tetangga yang terlalu maju<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu tiap daerah selalu punya sisi kelam. Namun, tetap saja ada yang bisa diharapkan. Hanya saja, kalau menengok Jombang dan Lamongan, rasanya kami hanya bisa pasrah dan mengamini \u201crumput tetangga lebih hijau\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bahkan merasa secara geografis harusnya Jombang dan Lamongan ini dipindah saja. Sebab, terlalu lamban perkembangannya dengan tetangga sekitar. Jika Lamongan hanya geleng-geleng melihat open space Tuban yang makin keren, warga Jombang juga demikian. Mereka dibuat iri-dengki dengan kondisi jalan Mojokerto yang kebanyakan mulus, atau Kediri yang punya bandara, serta penataan kota yang makin ciamik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka wajar kalau Jombang san Lamongan seperti sahabat senasib. Sama-sama punya tetangga yang jika dibandingkan, terasa terlalu rajin, terlalu progresif, dan terlalu ambisius. Sehingga membuat stagnansi ini makin terasa menyesakkan dada.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tak ada harapan (katanya)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat betul, teman saya bilang, \u201cDari dulu sampai sekarang, Jombang nggak pernah benar-benar maju. Siapa pun Bupatinya, rasanya tetap gini-gini saja.\u201d Dan di titik itu saya langsung merasa punya kedekatan emosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, pada akhirnya, Lamongan dan Jombang ini memang seperti saudara kembar. Sama-sama terjepit perkembangan tetangga, sama-sama punya potensi yang mangkrak, dan sama-sama punya jalan raya yang bikin misuh tiap kali dilewati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kapan dua kabupaten ini bisa mengejar ketertinggalan. Tapi selama itu belum terjadi, mungkin satu-satunya hiburan hanyalah saling melirik dan berkata, \u201cTenang, kamu tidak sendirian.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/melihat-sisi-lain-jombang-yang-nggak-diketahui-orang-banyak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Melihat Sisi Lain Jombang yang Nggak Diketahui Orang Banyak, Saya Tulis supaya Nggak Ada Lagi yang Salah Kaprah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya kira, hanya Lamongan, kabupaten yang nasibnya sial. Begitu berkunjung ke Jombang, saya jadi sadar kalau saya amat salah.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":371168,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14216,31160,31161,2250,31162],"class_list":["post-372905","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jombang","tag-kualitas-jalan-di-jombang","tag-kualitas-jalan-di-lamongan","tag-lamongan","tag-wonosalam-jombang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372905"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372905\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/371168"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}