{"id":372495,"date":"2025-11-13T16:42:40","date_gmt":"2025-11-13T09:42:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=372495"},"modified":"2025-11-13T16:42:40","modified_gmt":"2025-11-13T09:42:40","slug":"menonton-drama-korea-reply-1988-setelah-10-tahun-rilis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menonton-drama-korea-reply-1988-setelah-10-tahun-rilis\/","title":{"rendered":"Menonton Drama Korea Reply 1988 yang Legendaris setelah 10 Tahun Rilis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari terakhir, media sosial dipenuhi dengan peringatan 10 tahun drama korea (Drakor) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reply 1988<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Drakor yang satu ini memang legendaris. Banyak yang bilang drakor ini menjadi \u201cpintu pembuka\u201d mengenal drakor. Mungkin memang sebagus itu, saya belum pernah menontonnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk marathon <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reply 1988 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">setelah direkomendasikan oleh seorang teman. Salah satu hal yang bikin saya tertarik menontonnya adalah setting ceritanya di era 80-an. Bayangan saya tentu seperti series <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/hiburan\/netflix-siapkan-serial-spin-off-stranger-things\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Stranger Things<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sama-sama mengambil era 80-an.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reply 1988<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menceritakan lima teman sepermainan satu komplek. Ada Deok-sun, si anak tengah yang bingung mau jadi apa. Ada juga Choi Taek, pemain go profesional Korea yang demen tidur, Jung Hwan OKB yang bercita-cita jadi tentara, Sun Woo anak yatim yang sayang banget pada ibu dan adiknya. Tidak ketinggalan, Dong-Ryong anak guru killer yang rindu pada ibunya yang sibuk kerja kantoran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diceritakan mereka sudah berkawan lebih dari 10 tahun hingga kini duduk di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/bertahan-hidup-di-bangku-sma-dengan-menyontek-saat-ujian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bangku SMA<\/a>. Nggak cuma menceritakan lima teman sepermainan itu saja, drama Korea ini menceritakan lika-liku kehidupan keluarga mereka dengan segala serba-serbinya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Reply 1988 Drama Korea yang lengkap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya Reply 1988 adalah paket lengkap . Ada adengan yang bisa bikin tertawa terbabak-bahak, terutama kelakuan konyol Deok-sun yang kayak Nobita. Adegan yang bikin marah pun ada. Tidak ketinggalan adegan yang bikin gemes ketika beberapa tokoh di dalamnya saling jatuh cinta. Adegan yang bikin banjir mata pun diselipkan. Misalnya, Sun Woo yang nggak tega melihat ibunya rela kerja gosok WC agar dia bisa masuk kuliah. Itu baru satu, lainnya masih banyak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak lupa, drakor ini pun menampilkan banyak lika-liku kehidupan tahun 80-an seperti mendengarkan musik pakai kaset, menelepon pakai pesawat telepon rumah\/telepon umum, hingga sejumlah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/produk-budaya-pop-memberi-kita-stereotip-atas-bahasa-bahasa-tertentu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pop-culture<\/a> tahun 80-an. Baik pop culture Barat maupun pop culture Korea Selatan yang tentunya relate untuk saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengenalkan Korea Selatan \u201clawas\u201d dengan sangat baik\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai drakor kedua yang saya tonton sampai tamat (<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/full-house-drakor-pertama-yang-saya-tonton-sampai-tamat\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">drakor yang pertama saya tonton sampai tamat adalah Full House<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reply 1988<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini kembali membuka mata soal Korea. Kali ini, saya menyadari kenapa Korea Selatan bisa jadi negara maju. Di tahun 80-an, generasi mudanya giat banget belajar sedari bangku sekolah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini didukung juga dengan Pemerintahnya yang nggak sekadar omon-omon belaka. Mereka turut berkontribusi dengan mencetak guru berkualitas, fasilitas sekolah yang berkualitas, kurikulum berkualitas. Pokoknya menyiapkan segalanya yang mereka anggap perlu untuk mencetak generasi berkualitas yang bisa kita lihat saat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, kehidupan orang Korea Selatan tidak selamanya indah seperti drama Korea. Mereka nggak seromantis di drakor-drakor. Banyak warganya patriarkis dan <a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/mengenal-misoginis-seseorang-yang-membenci-wanita-secara-ekstrem\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">misoginis<\/a>. Tapi hei, kita bisa meniru apa yang baik dari mereka dan tinggalkan yang jeleknya, bukan? Seperti etos kerja dan kedisiplinan yang harus ditiru seluruh rakyat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>Sepuluh tahun berlalu setelah rilis, drakor <em>Reply 1988\u00a0<\/em>masih saja bisa dinikmati dan relevan bagi penontonnnya. Drakor ini juga bisa memberi gambaran betapa berkembang Negeri Gingseng dan betapa maju industri drama di sana. Sebagai penonton, selain terhibur, saya juga terkagum.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Raden Muhammad Wisnu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/drama-korea-typhoon-family-dan-fenomena-perintis-vs-pewaris\/\"><b><i>Drama Korea Typhoon Family, Membahas yang Terlewat dalam Debat Perintis vs Pewaris di Media Sosial<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menonton drama Korea Reply 1988 setelah 10 tahun rilis menyadarkan saya betapa bagus ceritanya dan bertapa berkembang industri drakor. <\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":372656,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13118],"tags":[1307,154,3914,959,13258,5503],"class_list":["post-372495","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serial","tag-drakor","tag-drama","tag-korea","tag-korea-selatan","tag-korsel","tag-reply-1988"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372495","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372495"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372495\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/372656"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}