{"id":372187,"date":"2025-11-12T15:15:31","date_gmt":"2025-11-12T08:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=372187"},"modified":"2025-11-13T12:18:04","modified_gmt":"2025-11-13T05:18:04","slug":"film-pangku-gerbang-saya-memahami-isu-gender","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-pangku-gerbang-saya-memahami-isu-gender\/","title":{"rendered":"Film Pangku Jadi Gerbang untuk Saya sebagai Laki-laki Memahami Isu Gender"},"content":{"rendered":"<p><i>Sekadar mengingatkan, tulisan ini mengandung spoiler film Pangku yang sedang diputar di bioskop ~<\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film garapan aktor kawakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/wikimo\/tokoh\/reza-rahadian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Reza Rahadian<\/a>, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tengah diputar di bioskop. Film ini diperbincangkan karena menjadi debut Reza sebagai sutradara. Selain itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dinilai mampu mengangkat fenomena sosial dan gender secara apik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menceritakan dinamika kehidupan perempuan yang bekerja sebagai pramuria di sebuah warung kopi di jalur Pantura. Asal tahu saja, di warung-warung kopi Jalur Pantura ada realitas sosial Kopi Pangku. Warung-warung kopi kecil kerap memberikan \u201cservice tambahan\u201d yang disediakan oleh para pramuria. Adapun pelanggannya dari kalangan supir truk dan ada pula kalangan buruh pekerja informal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, tokoh utama yang diceritakan sebagai orang tua tunggal dalam film bekerja sebagai pramuria di warung-warung tersebut. Dia memiliki seorang anak yang harus dihidupi dengan bekerja sebagai pramuria kopi pangku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tulisan ini saya nggak akan membahas detail ceritanya. Saya hanya ingin berbagi pengalaman setelah menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengkritisi konstruksi sosial akan peran laki-laki dan perempuan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai laki-laki yang lahir di masyarakat patriarkis, ekspektasi bahwa laki-laki lebih superior dari perempuan begitu kuat. Sejak lahir, konstruksi sosial membentuk perspektif tentang maskulinitas inheren dengan peran-peran di lingkungan, seperti menjadi pemimpin dan menjadi pemberi nafkah kaum perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, di Jawa, perempuan sering dianggap sebagai <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/sebagai-perempuan-jawa-saya-tidak-merasa-ditindas-jadi-kanca-wingking\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">kanca wingking <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">atau dalam bahasa Indonesia dikenal istilah teman belakang. Artinya, perempuan hanya boleh melakukan hal-hal di ranah domestik. Pekerjaan domestik ini biasanya sepaket dengan anggapan perempuan kelompok yang lemah dan selalu di bawah laki-laki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, yang ditampilkan di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">justru sebaliknya. Tokoh utama merupakan orang tua tunggal yang digambarkan begitu kuat. Tokoh utama tahan banting melewati persoalan demi persoalan dalam hidup. Walau belakangan, hal semacam ini juga tidak baik untuk diglorifikasi karena jadi mengaburkan ketidakadilan yang kerap dialami oleh orang tua tunggal.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Film <em>Pangku\u00a0<\/em>jadi gerbang pembuka<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang menonton, saya merasa merasa \u201ctertampar\u201d sebagai laki-laki. Saya merasa tokoh utama dalam film <em>Pangku<\/em> lebih kuat dari kebanyakan laki-laki yang pernah saya temui. Dia tak hanya mengurus persoalan domestik. Dia juga mencari nafkah untuk keluarga kecilnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas alur itu terdengar asing bagi saya yang selama ini hidup di lingkungan patriarkis. Saya berpandangan, bahwa laki-laki lebih superior daripada perempuan. Itu mengapa, posisi seperti pemimpin dan pencari nafkah sudah sewajarnya jadi tanggung jawab laki-laki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, sedikit demi sedikit, pandangan ini terkikis ketika nonton <em>Pangku<\/em>. Perempuan ternyata juga bisa sekuat laki-laki. Perempuan ternyata bisa memegang peran-peran di luar ranah domestik. Bahkan, bisa menjadi pemimpin setidaknya bagi keluarga kecilnya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesadaran ini menuntut saya untuk melihat perempuan bukan sebagai kelompok kelas ke-2. Kesadaran ini juga yang menyadarkan saya bahwa kebijakan-kebijakan yang tidak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/abang-saleh-upin-ipin-karakter-tepat-untuk-mengenalkan-gender\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">berperspektif gender<\/a> masih bertebaran di sana-sini. Kebijakan yang menciptakan ketidakadilan masih banyak dirasakan oleh perempuan di tengah masyarakat . <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu ini tidak hanya soal laki-laki atau perempuan. Ini adalah upaya mewujudkan relasi yang setara, pembagian kerja yang adil antara laki-laki dan perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin perjalanannya masih panjang untuk memahami isu <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Gender\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gender<\/a> dan banyak hal lain. Namun, film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pangku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> setidaknya bisa jadi gerbang banyak laki-laki lain untuk lebih mengenal lebih dalam isu ketimpangan gender yang ada di masyarakat. Terima kasih film Pangku.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Rifai<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-kecewa-nonton-film-abadi-nan-jaya-netflix\/\"><b><i>Alasan Kecewa Nonton Film Abadi Nan Jaya Netflix, Ekspektasi Saya Ketinggian<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film Pangku jadi perbincangan karena dinilai mampu mengangkat isu sosial di jalur Pantura yang sarat akan ketimpangan gender. <\/p>\n","protected":false},"author":3138,"featured_media":372392,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[28,31087,27042,31088,5435],"class_list":["post-372187","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film","tag-film-pangku","tag-kopi-pangku","tag-pangku","tag-reza-rahadian"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372187","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3138"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372187"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372187\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/372392"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372187"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372187"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372187"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}