{"id":371757,"date":"2025-11-10T15:21:01","date_gmt":"2025-11-10T08:21:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=371757"},"modified":"2025-11-10T15:21:01","modified_gmt":"2025-11-10T08:21:01","slug":"dear-pemkab-boyolali-membenahi-diri-bukan-berarti-medianya-full-ai-dong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-pemkab-boyolali-membenahi-diri-bukan-berarti-medianya-full-ai-dong\/","title":{"rendered":"Dear Pemkab Boyolali, Membenahi Diri Bukan Berarti Medianya Full AI, dong!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir-akhir ini saya agak resah bahkan sangat resah melihat arah media komunikasi publik milik Pemerintah Kabupaten Boyolali yang baru. Entah kenapa, hampir semua media resminya, mulai dari banner dan baliho pengumuman acara, postingan di akun sosial resmi Pemkab Boyolali, video promosi daerah, sampai maskot bertema sapi, kini seragam: semuanya bernuansa AI generated.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak anti-AI, serius. Teknologi itu keren, dan saya paham kalau hampir semua sektor termasuk dunia desain dan media sekarang memang sudah banyak bergantung pada kecerdasan buatan. Tapi ada satu hal yang saya rasakan hilang dari media resmi Pemkab Boyolali belakangan ini: <\/span><b>sentuhan manusianya.<\/b><\/p>\n<h2><b>Pemkab Boyolali periode sebelumnya justru lebih baik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya justru lebih respect dengan Pemkab Boyolali di bawah bupati sebelumnya yang desain medianya sederhana, bahkan kadang bisa dibilang \u201cjadul\u201d dan cenderung \u201cboomer banget\u201d. Tapi di balik tampilan yang seadanya itu, terasa banget kalau itu hasil karya tangan sendiri. Ada rasa \u201cdibuat dengan tangan manusia\u201d, dengan ciri khas lokal yang mungkin nggak sempurna, tapi hangat dan jujur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, tiap kali saya lihat banner resmi atau video promosi dari Pemkab, yang muncul di kepala saya cuma satu, \u201cWah, ini pasti pakai AI.\u201d Dari maskot sapi dengan bentuk yang terlalu \u201chalus\u201d yang benar-benar kelihatan kalau itu AI-generated, sampai video yang full AI-generated. Semua serba rapi, tapi dingin. Serba canggih, tapi kehilangan jiwa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba deh, sempetin diri buat buka <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/pemkab_boyolali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">akun Instagram resmi<\/a> milik Pemerintah Kabupaten Boyolali. Kamu bakal nemu banyak banget maskot sapi yang \u201cAI banget\u201d dan video-video promosi yang full AI. Gimana caranya mau memberdayakan sumber daya lokal kalau bayar desainer aja ga mau? Anggarannya lari kemana sih?<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak ada anggaran atau emang nggak mau?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, Boyolali punya potensi besar dalam hal kreativitas. Banyak desainer muda lokal yang jago. Tinggal diberi ruang dan kesempatan. Ironis aja, pemerintah yang seharusnya jadi wadah bagi kreativitas warganya malah memilih jalan pintas: menyerahkan semuanya pada mesin. Sekali lagi, anggarannya ke mana pak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah benar Pemkab Boyolali nggak punya anggaran untuk membayar desainer lokal? Atau mungkin cuma ingin yang cepat, murah, dan instan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai ini bukan Pemkab, katakan saja misal warung kecil atau perusahaan rumahan, pakai AI untuk merender gambar atau video itu wajar karena terbatasnya biaya. Sedangkan ini kan Pemkab. Punya anggaran. Bukan masalah kalau melonggarkan anggaran buat biaya perdesainan media resmi. Bahkan itu bisa jadi simbiosis mutualisme. Pemkab dapat respons positif dari publik karena memiliki media yang bagus dan fresh. Desainer lokal juga bisa dapat kerjaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>AI bukan masalah kalau penggunaannya tepat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat membandingkan dengan kabupaten tetangga, Klaten misalnya. Desain medianya bagus, segar, dan sangat terasa buatan manusianya. Ada identitas khasnya. Sementara Boyolali, yang dulu saya harapkan dengan bergantinya bupati, akan membawa kesegaran, malah berakhir seperti ini. Identitas lokalnya terkubur di balik hasil render digital.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak bilang penggunaan AI itu salah. Tapi AI seharusnya jadi alat bantu, bukan pengganti. Gunakanlah untuk mencari ide, untuk mempercepat proses, atau memberi inspirasi. Tapi hasil akhirnya tetap perlu sentuhan manusia. Apalagi untuk media resmi pemerintah, yang membawa nama daerah dan wajah warganya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau semua serba AI, nanti yang tersisa dari media Boyolali tinggal apa? Keindahan visual tanpa makna? Atau kabupaten yang tampak modern, tapi kehilangan rasa manusianya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cuma warga biasa, bukan seniman atau desainer profesional. Tapi saya percaya, kehangatan dan karakter lokal jauh lebih berharga daripada sekadar visual yang sempurna. Boyolali itu bukan kota buatan mesin. Ia hidup dari tangan-tangan manusianya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, tolonglah Pemkab Boyolali yang baru. Jangan biarkan kecerdasan buatan menghapus kecerdasan hati.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Nur Azza<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/boyolali-utara-nggak-mirip-boyolali-malah-mirip-sragen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Boyolali Utara, Bagian Boyolali yang Sama Sekali Nggak Mirip Boyolali, Malah Mirip Sragen<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Postingan di akun sosial resmi Pemkab Boyolali, video promosi daerah, sampai maskot bertema sapi, kini semuanya bernuansa AI generated.<\/p>\n","protected":false},"author":3103,"featured_media":372041,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8877,31032,31031],"class_list":["post-371757","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-boyolali","tag-instagram-pemkab-boyolali","tag-pemkab-boyolali"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371757","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3103"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=371757"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371757\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/372041"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=371757"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=371757"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=371757"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}