{"id":371526,"date":"2025-11-08T13:09:11","date_gmt":"2025-11-08T06:09:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=371526"},"modified":"2025-11-08T13:24:59","modified_gmt":"2025-11-08T06:24:59","slug":"pengalaman-saya-berkunjung-ke-medan-nggak-sesuai-ekspektasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-berkunjung-ke-medan-nggak-sesuai-ekspektasi\/","title":{"rendered":"Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Medan adalah salah satu kota di Sumatera, bahkan masuk kategori Kota semi metropolitan di Indonesia. Sebab, kota ini punya fitur untuk disebut kota besar, tapi belum seutuhnya metropolitan selayaknya Jakarta atau Surabaya. Medan menjadi poros utama ekonomi di Sumatera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandara-pelabuhan di Medan menjadi simpul yang menghubungkan berbagai aktivitas perdagangan dari berbagai daerah di luar Sumatera. Selain itu, jaringan dan layanan seperti rumah sakit, kampus, kawasan perdagangan, mall, dan kuliner lintas etnis sudah tersedia cukup lengkap di Medan. Hal itu membuatnya layak untuk dikunjungi dan jadi persinggahan wajib bila ingin ke daerah lain di Sumatera Utara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, saya sendiri pernah 2 kali ke Medan. Pertama saat kuliah S1 untuk acara perlombaan. Yang kedua karena urusan pekerjaan. Karena kunjungan pertama saya merasa kurang mengeksplor, maka pada kunjungan kedua, saya merasa perlu menjelajahi Medan sedikit lebih luas. Supaya tidak terkesan hanya numpang lewat saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi apa yang saya dapati justru tak sesuai dengan ekspektasi. Realitasnya, ada beberapa hal yang saya alami dan amati ternyata membuat saya garuk-garuk kepala karena heran dan sedikit kecewa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Julukan Kota Durian pada Medan yang nggak sesuai dengan ekspektasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama adalah julukan Kota Durian untuk Medan yang saya rasa terlalu diglorifikasi. Sebagai pecinta durian. Julukan seperti ini tentu membuat saya jadi semangat ketika ke Medan. Banyak yang bilang durian Medan itu selalu manis dan murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya nggak sepenuhnya demikian. Setelah dicicipi, rasa durian Medan memang manis di lidah, tapi agak pahit di dompet. Durian yang ditawarkan harganya nggak kalah mahal dari yang ada di Jawa. Entah sayanya yang salah beli ke penjual atau memang sedang tidak musimnya. Tapi yang jelas, perkara durian ini agak menyebalkan. Apes memang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, durian yang disantap pun jadi kurang nikmat karena yah sahut-sahutan antara penjual dan pembeli yang bising. Memang sebaiknya dibeli dan dibawa pulang saja, jangan dimakan langsung di lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan kedua yang saya rasa nggak sesuai ekspektasi adalah predikat sebagai surga kuliner dengan rasa yang ramah di lidah disertai tempatnya yang wah dan nyaman. Yah kuliner macam soto medan, bihun bebek, kari bihun, atau lontong Medan. Saya berkesempatan mencicipi beberapa di antaranya di warung-warung yang katanya sering jadi rekomendasi utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun sayangnya, makanan seperti <a href=\"https:\/\/sumut.idntimes.com\/food\/dining-guide\/5-bihun-bebek-favorit-di-medan-dijamin-bikin-ketagihan-01-k6jfz-m7k7qw\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bihun bebek<\/a> dan lontong Medan nggak cocok di lidah saya. No offense ya. Tapi bagi saya terlalu pekat dengan rasa gurih, bahkan cenderung asin. Pernah nggak si kalian merasa eneg tapi karena terlalu asin? Nah kalau pernah, kurang lebih kek gitu rasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, karena warungnya ramai, menunggu makanannya datang pun sangat lama. Udah nunggunya harus sabar dan nahan lapar, pas datang, rasanya nggak cocok di lidah. Pada akhirnya saya pun balik lagi nyobain makanan yang lebih umum.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perangai pengendara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan selanjutnya adalah tentang anggapan karena Medan berstatus kota bisnis berarti semuanya serba profesional, sistematis, dan efisien. Realitasnya, budaya perkotaan yang kompetitif nggak sepenuhnya terlihat di kota Medan. Yah sebenarnya ini bukan menjadi sebuah kekurangan sih, tapi lebih kepada unsur yang membuat saya sadar bahwa budaya perkotaan yang serba cepat, profesional, dan menuntut efisien itu nggak diberlakukan secara kaku di Medan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penilaian ini muncul karena saya ke sana untuk urusan pekerjaan sehingga interaksi saya kepada warga setempat pasti dari kacamata seorang yang sedang bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir yang membuat saya agak kesal adalah soal perilaku pengendara di jalanan. Yah saya tahu Medan ini isinya orang dari berbagai kalangan di Sumatera yang bertipe agak keras dan ceplas-ceplos, tapi rasanya kalau soal lalu lintas masih bisa terkendali. Setidaknya itu anggapan saya. Sampai akhirnya saya mengalaminya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari bunyi klakson yang bersahutan sana-sini, motor melesat membuka celah, dan mobil seperti sepakat menari rapat tanpa saling singgung. Saling salip jadi bahan tontonan saya di sepanjang jalan. Untungnya waktu itu saya menggunakan mobil, sehingga agak sedikit lebih aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berbincang dengan rekan yang menyetir, dia bilang kalau jalanan Medan seperti panggung besar dengan koreografi yang hanya dimengerti pemain lokal. Menyeberang butuh nyali dan timing, bukan sekadar mengandalkan naluri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota to the point<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi terlepas dari itu, meski bukan tipe kota dengan ritme yang cepat, Medan tetaplah kota yang \u201cto the point\u201d. Sebab di sana, orang sering berbicara langsung ke inti, dari mana, urusan apa, mau ke mana. Buat pendatang, ini terasa seperti interogasi kilat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun setelah menjawab dengan tenang dan bersahabat, biasanya mereka akan menjelaskan dengan jelas. Misalnya pertanyaan ke suatu tempat, maka mereka akan memberi rute tercepat dan memperingatkan bagian kota mana yang macet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya mayoritas dari mereka adalah tipe yang sangat to the point. Sehingga bikin saya agak gelagapan ketika hari pertama berinteraksi dengan orang sekitar (selain rekan kerja orang Medan yang memang sudah kenal).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, kota yang nggak sesuai ekspektasi dan bikin kaget nggak berarti selalu buruk. Malah sebaliknya, bisa jadi adalah tanda kejujuran. Itulah Medan. Yah paling tidak, jujur soal hal buruk kan nggak apa-apa. Selama semuanya nggak terkesan dilebih-lebihkan. Yang nggak kalah penting juga adalah belajar mengelola ekspektasi, biar nggak kecewa terlalu dalam.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nestapa-mahasiswa-bangkalan-dapat-tugas-kuliah-review-kebijakan-unggulan-daerah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nestapa Mahasiswa Asal Bangkalan yang Mendapat Tugas Kuliah Review Kebijakan Unggulan Daerahnya: Bingung dan Malu karena Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada akhirnya, kota yang nggak sesuai ekspektasi nggak berarti selalu buruk. Malah sebaliknya, bisa jadi adalah tanda kejujuran. Itulah Medan.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":371527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[30980,30981,29868,399],"class_list":["post-371526","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-durian-medan","tag-gaya-bicara-orang-medan","tag-lalu-lintas-medan","tag-medan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371526","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=371526"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371526\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/371527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=371526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=371526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=371526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}