{"id":371408,"date":"2025-11-08T08:29:38","date_gmt":"2025-11-08T01:29:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=371408"},"modified":"2025-11-07T21:41:39","modified_gmt":"2025-11-07T14:41:39","slug":"4-hal-yang-jarang-orang-bicarakan-tentang-serial-tv-upin-ipin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-jarang-orang-bicarakan-tentang-serial-tv-upin-ipin\/","title":{"rendered":"4 Hal yang Jarang Orang Bicarakan tentang Serial TV Upin Ipin"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang ini, tak banyak kartun yang bisa dinikmati oleh semua umur. Kebanyakan dibuat hanya untuk anak-anak. Sekalinya ada kartun yang bisa ditonton juga oleh orang dewasa\u2026 eh, rumah produksinya berasal dari negara tetangga. Ya, apalagi kalau bukan serial TV anak-anak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Akui aja, meski sudah berkawan akrab dengan minyak angin, kamu pasti masih nonton kisah si kembar botak ini, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang jatuh cinta pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karena jalan ceritanya yang sederhana, tapi hangat. Memang, alur cerita yang menarik sering jadi alasan utama orang menonton serial ini. Tapi, apa iya serial TV anak-anak asal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-di-malaysia-ini-membuat-saya-ingin-jadi-the-next-susanti\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malaysia<\/a> ini hanya soal cerita yang menghibur saja? Tentu saja tidak. Sorry, tanya sendiri, jawab sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik tawa dan kelucuan khas anak-anak Kampung Durian Runtuh, sebetulnya ada banyak hal yang jarang dibicarakan oleh penonton. Entah karena kita terlalu fokus pada ceritanya yang lucu, atau karena merasa topiknya terlalu remeh untuk dibahas, sehingga takut dibilang lebay oleh para penggemar Upin dan Ipin garis keras. Padahal, \u2018jarang dibicarakan\u2019 disini bukan melulu tentang hal yang negatif. Bisa jadi justru berkaitan dengan hal-hal positif yang membuat Upin &amp; Ipin tetap relevan sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Grafik dan sinematografi <em>Upin Ipin<\/em> makin halus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau menonton ulang episode <em>Upin Ipin<\/em> saat pertama kali rilis, kita akan sadar betapa jauhnya perkembangan kualitas grafik serial ini. Dulu, bentuk wajah karakternya masih agak kaku. Pencahayaannya pun terkesan seadanya dan tekstur benda di sekitarnya tampak polos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang? Eleuh-eleuh, lihat tuh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kak-ros-tulang-punggung-serial-upin-ipin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kak Ros<\/a>. Kawai pisan! Udah kayak habis operasi plastik di Korea saja. Karakter lain pun tak kalah memesona. Mail terlihat lebih ekspresif, Tok Dalang makin karismatik\u2026 semuanya! Semua karakter jadi lebih enak dilihat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya itu saja. Pencahayaannya juga sekarang lebih realistis, bayangan tampak lembut, dan detail seperti serat kain baju, lantai kayu rumah Opah, hingga daun pisang di pasar, semuanya terlihat hidup. Bahkan, transisi kameranya pun jauh lebih sinematik. Alias, nggak cuma potongan gambar statis seperti dulu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Upin dan Ipin tak lagi nakal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ternyata yang berubah tak hanya tampilan grafiknya saja. Penggambaran karakternya pun ikut berevolusi. Di episode awal, Upin dan Ipin digambarkan seperti bocah kampung yang jahil dan tengilnya minta ampun. Tapi, seiring waktu, identitas itu perlahan memudar. Upin dan Ipin tak lagi sebandel dulu. Mereka kini lebih\u2026 apa, ya? Feminin? Imut? Itulah pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian ingat nggak tingkah dua bocah botak itu di <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Geng:_Pengembaraan_Bermula\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin the Movie: Geng Pengembaraan Bermula <\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Berani-beraninya mereka menyebut Tok dalang dengan sebutan \u201cOrang tua kedekut\u201d. Ampun ah ni budak. Btw, \u201ckedekut\u201d ini berasal dari bahasa Melayu, yang berarti pelit atau sangat hemat (dalam konteks negatif).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang tak lagi nakal ini saya yakin terjadi karena serial ini mendapat atensi yang luar biasa. Bisa jadi, ada semacam \u201cKak Seto versi Malaysia\u201d yang mengingatkan tim produksi agar lebih berhati-hati dalam menulis dialog. Takut anak-anak niru soalnya. Hasilnya? Upin Ipin jauh lebih sopan, lebih manis, dan tentu saja, lebih aman untuk ditonton keluarga.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Opah jadi lebih meme-able<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, mari kita bahas soal Opah, neneknya si kembar. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-sosok-misterius-yang-menjadi-suami-opah-upin-ipin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Opah<\/a> dalam serial Upin dan Ipin juga jarang dibicarakan. Mungkin, karena dia dianggap hanya sebagai tokoh pelengkap saja kali, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti Upin dan Ipin yang mengalami pergeseran karakter, tokoh Opah pun demikian. Di awal-awal episode, Opah digambarkan sebagai sosok nenek-nenek pada umumnya yang lembut, rajin menasihati, tapi bisa tegas sesekali. Namun, entah sejak kapan, karakter Opah mulai punya sisi lain. Opah seringkali lebih santai, lebih konyol, bahkan kadang nyeleneh. Saking kocaknya, tokoh Opah sering dijadikan bahan meme oleh warganet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Opah yang lebih memeable ini akhirnya jadi\u2026 Gimana, ya? Lucu, sih. Cuma, kok rasanya kayak ada semacam penyeragaman karakter di rumah hijau, ya? Karakternya sama-sama dibuat jenaka dan sama-sama ekspresif. Nyaris tak ada pembeda. Sesuatu yang mungkin membuat cerita terasa lebih ringan, tapi di sisi lain, menghapus nuansa \u201cnenek\u201d dalam cerita.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Si kembar memang tetap di TK, tapi\u2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, penonton setia Upin dan Ipin sering kali mengeluh, \u201cKapan sih mereka naik SD?\u201d Tapi, jarang ada yang menyoroti satu hal penting, yaitu betapa berat sebenarnya cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya begini, secara fisik Upin Ipin memang sengaja dipertahankan sebagai bocah Tadika Mesra. Les\u2019 Copaque tentu tak mau ambil risiko besar mengubah usia si kembar. Selain bisa menghilangkan sisi lucu dan polos yang jadi ciri khasnya, takut aja nanti netijen makin nglunjak. Minta dibikin Upin Ipin versi SMP, SMA, atau banyak versi lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, meski tubuh mereka tetap mungil dan seragamnya itu-itu saja, Upin dan Ipin sesungguhnya sudah tumbuh. Bukan secara usia, melainkan lewat cerita. Dan itu, jarang orang-orang bicarakan. Kalau tidak percaya, coba deh kalian bandingkan jalan cerita Upin Ipin yang dulu dan sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan cerita serial satu ini kini semakin kompleks, konfliknya makin manusiawi dan relevan. Ada tema kehilangan, tanggung jawab, dan makna kerja keras yang perlahan disisipkan di tiap episodenya. Untungnya, tema-tema berat ini bisa diceritakan dengan apik. Jadi, yang nonton tidak merasa seperti sedang nyimak mata kuliah 2 SKS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira, apa lagi ya hal-hal yang jarang orang bicarakan tentang Upin dan Ipin?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-karakter-upin-ipin-terkenal-green-flag-tapi-aslinya-red-flag\/\"><b><i>5 Karakter \u201cUpin Ipin\u201d yang Terkenal Green Flag, tapi Aslinya Red Flag Banget<\/i><\/b><\/a><b>.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa hal yang jarang orang bicarakan tentang Upin Ipin, serial TV anak-anak asal Malaysia yang semakin populer. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":371436,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[9299,14435,23326,30967,9298,10690,5855],"class_list":["post-371408","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-ipin","tag-kak-ros","tag-opah","tag-serial-malaysia","tag-upin","tag-upin-dan-ipin","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371408","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=371408"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371408\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/371436"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=371408"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=371408"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=371408"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}