{"id":371132,"date":"2025-11-06T11:23:06","date_gmt":"2025-11-06T04:23:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=371132"},"modified":"2025-11-06T11:23:06","modified_gmt":"2025-11-06T04:23:06","slug":"kafe-kalcer-di-lamongan-jelas-bukan-hal-buruk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kafe-kalcer-di-lamongan-jelas-bukan-hal-buruk\/","title":{"rendered":"Kafe Kalcer di Lamongan Jelas Bukan Hal Buruk, karena Anak Muda Lamongan Butuh Ruang Berekspresi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini Lamongan mulai kedatangan gelombang baru: kafe-kafe dengan konsep kalcer. Bukan cuma soal interiornya yang estetik, tapi juga orang-orang yang datang ke sana. Iya, pengunjungnya tampil dengan outfit khas anak Jaksel\u2014kemeja linen, tote bag, dan sneakers\u2014seolah ingin mengatakan kalau dirinya paham selera kalcer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekosistem kafe memang hal yang menarik. Ia bukan sekadar urusan kursi kayu, latte art, atau playlist Hindia yang diputar barista. Lebih dari itu, ia adalah ruang utuh yang membentuk gaya hidup. Ruang yang bisa membuat orang datang bukan cuma untuk minum kopi, tapi juga untuk merasa \u201cmenjadi bagian dari sesuatu\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan rupanya, \u201csesuatu\u201d itu kini sampai juga ke Lamongan. Saya sempat nyengir waktu pertama kali lihat. Di kota yang biasanya identik dengan pecel lele, tahu campur, dan mas-mas nongkrong di warkop, tiba-tiba muncul kafe berkonsep kalcer yang isinya anak muda berpose ala-ala pemuda aesthetic. Tapi ya, saya nggak sinis. Justru senang. Karena di balik semua itu, saya melihat satu hal, bahwa anak muda Lamongan sebenarnya sangat butuh ruang berekspresi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Anak muda butuh ruang berekspresi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harus diakui bahwa mereka yang suka gaya kalcer, ya memang butuh tempat di mana mereka bisa jadi diri sendiri. Mau pakai celana kain, pakai tote bag, atau nenteng buku puisi di kafe, mereka nggak perlu takut dibilang \u201caneh\u201d atau \u201cgaya-gayaan\u201d. Sebab kalau tampil begitu di tengah ukhtea-ukhtea ponpes atau lingkungan yang terlalu normatif, bisa-bisa langsung dikasih label \u201ckurang syar\u2019i\u201d atau \u201cnggak Lamongan banget\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan benar saja, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap gaya hidup. Ketika ada ruang yang ramah ekspresi, anak muda akan tumbuh dengan keberanian untuk menampilkan dirinya. Adanya kafe kalcer ini, meskipun terkesan <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/literally-anak-jaksel-bagaimana-sejarah-budaya-dan-tata-ruang-kota-bisa-membentuk-fenomena-gaya-bahasa-campur-campur-208498\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201cJakselisasi\u201d<\/a> Lamongan, sebenarnya adalah angin segar. Iya, ini merupakan tanda bahwa anak muda di sini mulai punya ruang aman untuk mengekspresikan selera dan identitasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membayangkan beberapa tahun lagi di Lamongan akan ditemukan gaya bahasa ala-ala anak Jaksel, yang agak-agak keminggris. Iya, percakapan yang terdengar seperti potongan dialog dari podcast anak skena, lengkap dengan penyisipan kata-kata seperti \u201cliterally\u201d, \u201cwhich is\u201d, \u201cprefer\u201d, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini tentu bukan datang tiba-tiba. Selain karena banyak anak Lamongan yang kuliah atau merantau ke kota besar, pengaruh konten digital juga luar biasa kuat. Bahasa, gaya berpakaian, bahkan cara duduk bisa menular lewat layar TikTok dan Instagram. Dan ketika mereka pulang, semua itu terbawa, lalu berbaur dengan kultur lokal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Andai Lamongan dikelola dengan baik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh curhat sedikit, untuk dapat fasilitas bare minimum saja, kami sebagai warga kadang harus berandai-andai. Apa memang sudah waktunya Lamongan ini diurus arek-arek sendiri? Karena kalau nunggu yang sekarang-sekarang, kayaknya kita cuma dikasih janji tiap musim pemilu tiba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan kalau tata kota rapi, jalanan layak, dan ada banyak open space buat nongkrong atau bikin acara komunitas. Anak muda nggak perlu lagi ke kota lain hanya untuk cari suasana yang mendukung ekspresi mereka. Masa iya, mau pakai pakaian kalcer saja harus susah-susah cari kafe yang jauh dari rumah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamongan sebenarnya punya potensi besar. Dan kafe-kafe kalcer ini bisa jadi pintu awal untuk menumbuhkan rasa percaya diri bahwa jadi anak muda Lamongan juga bisa keren, bisa punya gaya, tanpa harus kehilangan akar lokalitasnya. Karena pada akhirnya, yang paling urgent bukan kafe kalcer, tapi ruang agar anak mudanya berani untuk jadi diri sendiri di kotanya sendiri.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lamongan-semakin-suram-di-balik-gemerlap-mojokerto-dan-tuban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lamongan Semakin Suram di Balik Gemerlap Mojokerto dan Tuban<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lamongan yang biasanya identik dengan pecel lele dan mas-mas nongkrong di warkop, kini tiba-tiba muncul kafe berkonsep kalcer.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":371178,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[30932,30930,30931,2250],"class_list":["post-371132","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-budaya-jaksel","tag-kafe-di-lamongan","tag-kafe-kalcer-di-lamongan","tag-lamongan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371132","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=371132"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371132\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/371178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=371132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=371132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=371132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}