{"id":371004,"date":"2025-11-06T08:00:06","date_gmt":"2025-11-06T01:00:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=371004"},"modified":"2025-11-05T21:42:04","modified_gmt":"2025-11-05T14:42:04","slug":"alasan-ambil-s2-ugm-setelah-lulus-s1-dari-tempat-sama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-ambil-s2-ugm-setelah-lulus-s1-dari-tempat-sama\/","title":{"rendered":"Ambil S2 UGM setelah Lulus S1 dari Tempat yang Sama, Alasan Saya Tidak Bosan Kuliah di Gadjah Mada"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya baru saja membaca artikel Terminal Mojok berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/s2-ugm-diminati-lulusan-s1-kampus-mana-aja-kecuali-ugm\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">S2 UGM Diperebutkan Lulusan S1 dari Kampus Mana Aja kecuali dari UGM Sendiri<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Saya setuju dengan tulisan ini. Sewaktu menempuh studi magister di Universitas Gadjah Mada, teman-teman angkatan saya kebanyakan lulusan sarjana dari luar UGM.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, ada satu poin yang saya kurang setuju yakni masuk S2 UGM itu mudah. Menurut saya, hal itu tidka bisa dipukul rata di semua program pascasarjana.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasar pengalaman dan pengetahuan saya, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seleksi masuk S2 UGM standarnya cukup tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, ada dua nilai yang harus tercapai yakni tes TOEFL dan Tes Potensi Akademik (TPA). Untuk skornya, tergantung kebijakan jurusan yang kamu pilih, ada yang 450 dan ada pula 500. Setelah saya bertanya dengan beberapa teman, ternyata ada juga yang belum memenuhi syarat tersebut dan tetap nggak lolos. Tidak ada kesempatan kedua.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebagai alumni <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-mahasiswa-s1-lulus-7-tahun-tapi-hidup-saya-baik-baik-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">S1<\/a> UGM yang kemudian melanjutkan di kampus yang sama, saya dan beberapa orang lain kadang merasa anomali. <span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kami punya beberapa alasan kuat kenapa memutuskan kuliah di tempat ini lagi.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kuliah di UGM lagi karena belum puas eksplor Jogja dan sekitarnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah jadi rahasia umum kalau Kota Gudeg ini bikin rindu. Nggak dikunjungi bikin kangen, tapi kalau didatangi malah bikin gamon (gagal move on). Saya salah satu dari banyak perantau yang dibikin candu oleh Jogja. Itu mengapa saya tidak pernah pernah merasakan bosan kembali ke sini lagi dan lagi. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini juga yang menjadi alasan saya dengan senang hati melanjutkan S2 di UGM. .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama menempuh program sarjana, saya memang sudah banyak mengunjungi tempat di Jogja dan sekitarnya. Hampir semua tempat wisata sudah saya kunjungi, mulai dari wisata alam, kuliner khas hingga kedai kopi.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, entah mengapa, saya merasa belum puas dan ogah pindah. Sangat berat rasnaya berpisah dengan itu semua plus suasana slow living-nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kalau cuma demi pride nggak perlu jauh-jauh S2 ke luar negeri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang bilang kalau kuliah di luar negeri itu lebih prestisius daripada di negeri sendiri. Hal ini lebih mantap lagi kalau kamu lanjut S2 nun jauh di sana. Saya tidak menampik hal itu, tapi bukan berarti saya harus menjadi salah satunya. Kalau hanya demi pride, sepertinya nggak perlu bersusah payah belajar ke luar negeri ya. Kecuali kalau itu memang diperlukan untuk penelitian atau pengetahuan terkait pekerjaan ya, lain ceritanya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, di Indonesia pun banyak kampus dengan program S2 yang kualitasnya nggak kaleng-kaleng. UGM ini salah satunya. Mungkin ini juga yang dipikirkan oleh rekan-rekan alumni S1 UGM yang lanjut program magister. Tidak sampai separuhnya memang yang kuliah di UGM lagi, tapi peminatnya masih okelah.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kualitas S2 UGM pun tidak perlu diragukan lagi. Kamu sebagai alumni bisa banget \u201cmencari pride\u201d di kampus Bulaksumur ini. Tapi, kalau ada kesempatan ke luar negeri, nggak ada salahnya juga untuk mencoba apalagi kalau kalian memang membutuhkannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Ada kenyamanan di UGM yang mungkin nggak dimiliki kampus lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya popularitas atau fasilitas lengkap, UGM memiliki kenyamanan khas yang sepertinya sulit ditemukan di kampus lain. Suasana di sini damai dan asri, terlebih banyak pohon rindang di berbagai sudutnya. UGM memang memiliki area yang luas, bahkan dijadikan tempat jogging di pagi atau sore hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, ketika pertama kali masuk lewat Bunderan UGM, perasaan bahagia langsung memenuhi jiwa saya. Apalagi kalau cuaca cerah, Gunung Merapi akan terlihat gagah dari balik <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Grha_Sabha_Pramana\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gedung Grha Sabha Pramana<\/a>. Rata-rata hampir semua fakultas baik S1 maupun S2 UGM memiliki kawasan yang teduh dengan beberapa bangku kayu yang jadi andalan mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini terdengar personal, tapi di mata saya, orang-orang yang kuliah di UGM memiliki kepribadian sederhana dan hangat. Khas orang Jogja walau memang pendatangnya banyak. Vibes tenang ini pun sepertinya berasal dari Kota Jogja yang punya slogan berhati nyaman. Pokoknya suasana belajar dan kotanya bikin betah. Itu mengapa,\u00a0 saya sampai kuliah dua kali di UGM, nggak mau di tempat lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rachelia Methasary<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-memilih-ugm-sebagai-tempat-kuliah\/\"><b><i>Alasan Saya Memilih UGM sebagai Tempat Kuliah S1 meski di Awal Sempat Ingin Merantau.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak seperti kebanyakan lulusan S1 UGM yang lanjut di kampus lain atau di luar negeri, saya memilih lanjut S2 UGM karena beberapa alasan. <\/p>\n","protected":false},"author":2858,"featured_media":371055,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1","show_comment_section":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16703,2879,27819,30687,17167,30686,195],"class_list":["post-371004","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-magister","tag-pascasarjana","tag-s1","tag-s1-ugm","tag-s2","tag-s2-ugm","tag-ugm"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371004","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2858"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=371004"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371004\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/371055"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=371004"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=371004"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=371004"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}