{"id":370385,"date":"2025-11-02T10:57:47","date_gmt":"2025-11-02T03:57:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=370385"},"modified":"2025-11-02T10:57:47","modified_gmt":"2025-11-02T03:57:47","slug":"rasanya-hidup-nyaman-setelah-berani-minggat-dari-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasanya-hidup-nyaman-setelah-berani-minggat-dari-jakarta\/","title":{"rendered":"Minggat dari Jakarta dan Memutuskan Hidup di Padang Adalah Keputusan Terbaik Meski Harus Melawan Arus"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang macam apa yang lahir besar di Jakarta, akhirnya malah memilih tuk kuliah dan merintis karir di pulau seberangnya? Orang-orang kebanyakan bilang itu ngelawan arus. Aneh, sukar dimengerti orang kebanyakan. Ya, orang itu saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, saya memulai perjalanan ini dengan alasan untuk kuliah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tanjakan-sitinjau-lauik-mimpi-buruk-pengendara-di-kota-padang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Padang<\/a>. Menurut saya, peluang diterimanya kuliah di Padang lebih besar dibandingkan memilih perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. Walaupun, aslinya saya berdarah kental Minangkabau, lahir besarnya saja di Jakarta. Jadi, nyablak-nyablaknya orang Betawi, ada banget juga di saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah lulus kuliah di awal tahun ini, saya bergegas pulang ke Jakarta untuk mencari kerja. Berbeda sekali rasanya pulang ketika sudah membawa gelar sarjana itu. Rasanya saya yang biasanya melihat Jakarta sebagai rumah, berubah menjadi arena pertarungan. Perasaan itu, saya tidak suka sekali, saya berpikir tuk menjadikan Jakarta cukup menjadi rumah saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kalau ada yang bilang &#8220;Jakarta is not for everybody&#8221;, saya setuju dan menjadi bagian dari itu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, takdir turut mendukung perasaan saya yang hendak pergi dari Jakarta. Sudah lebih dari lima bulan saya melamar pekerjaan di sana dan tak kunjung mendapatkan balasan. Iseng-iseng, saya melamar pekerjaan kontrak yang diunggah oleh kampus saya. Tak perlu heran, saya lolos ke tahap wawancara. Lucunya, ternyata yang mewawancara saya adalah dosen pembimbing tugas akhir saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau sempat kaget saya mendaftarkan diri dalam program tersebut. Alih-alih menjadi agenda wawancara, pertemuan daring tersebut malah menjadi cerita kehidupan setelah lulus dengan beliau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen saya mengatakan bahwa dia ragu untuk menerima saya. Dia takutnya pengeluaran saya untuk kembali ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Padang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Padang<\/a> tidak sebanding dengan gaji yang akan diberikan. Kalau saja, saya tidak langsung pulang ke Jakarta, tentunya saya tidak perlu repot melamar, karena tentu akan dihubungi oleh beliau langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, beliau memberi kesempatan untuk saya mengikuti kegiatan tersebut, pergilah saya ke Padang beberapa hari setelah sesi wawancara itu. Per hari ini, terhitung sudah masuk lima bulan saya di bagian baratnya Sumatra. Banyak hal yang menjadi kelebihan kota ini dibandingkan Jakarta.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lingkungan di Padang masih asri ketimbang Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-padang-keliling-makan-enak-nggak-harus-di-rumah-makan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Padang<\/a> punya lingkungan yang masih asri. Kalau mau jalan-jalan, nggak perlu jauh-jauh, bisa langsung ke Pantai Padang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiknya ke sana pakai transportasi umum, supaya nggak kena incaran tukang parkir bar-bar di sana. Ya, tapi kalau memang pakai kendaraan pribadi, setidaknya siapkan Rp2 ribu rupiah untuk motor, sementara untuk mobil 5 ribu rupiah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan modal segitu, sudah bisa melepas penat setelah seharian bekerja. Kalau di Jakarta, pilihannya nggak jauh-jauh dari mall, yang bukannya ngelepas penat, malah nambah pikiran karena banyak lihat cenderung bikin kita banyak pengen. Ketika banyak pengin, tapi gak ada uangnya, bukannya malah jadi tambah pusing?<\/span><\/p>\n<h2><b>Makanan dan kafe di Padang masih terbilang murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu yang nggak bisa didapatkan di Jakarta adalah kafe murah. Buat yang udah punya gaji UMR, mungkin masih bisa sedikit-sedikit untuk ngimbangin harga makanan di Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kalau yang masih berjuang buat dapat kerja, boro-boro punya kesempatan, kan? Kalau di Padang, masih bisa kita menemukan kafe yang ngasih harga kopinya Rp10 ribu. Udah gitu, ya, tahu lah, Padang surganya makanan enak, jadi nggak perlu khawatirin soal rasanya lagi. Kamu masih bisa dapat makan nasi bungkus enak dengan harga Rp10.000.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesempatan kerja dari kenalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan ketiga ini tentu sangat subjektif, karena saya memang lulusan sini dan punya banyak kenalan di Padang. Jadi, lebih mudah untuk mendapatkan tawaran pekerjaan dari orang-orang yang sudah mengenal saya sejak kuliah dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, tulisan ini bukan spesifik mengindahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-tidak-menyenangkan-di-kota-padang-buat-kapok-wisatawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Padang<\/a> saja. Ini untuk menjadi sedikit sentilan kepada orang-orang yang gelisah dengan tindakan yang saya lakukan, yang kata mereka sebagai tindakan \u201clawan arus\u201d. Sebab, tiap orang pasti punya pertimbangannya sendiri, dan jika itu menyenangkan mereka, kenapa tidak kita dukung saja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Bunga Gracella Ardimay<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/setelah-6-tahun-tinggalkan-jakarta-kini-saya-takut-untuk-kembali\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Setelah 6 Tahun Merantau ke Luar Jawa, Saya Jadi Takut untuk Kembali Kerja di Jakarta<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keputusan untuk minggat dari Jakarta adalah keputusan terbaik. Sekarang, saya bekerja dan hidup nyaman di Kota Padang.<\/p>\n","protected":false},"author":2953,"featured_media":370389,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,4316,22335,6213],"class_list":["post-370385","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-karier","tag-kota-padang","tag-padang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/370385","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2953"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=370385"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/370385\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/370389"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=370385"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=370385"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=370385"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}