{"id":370239,"date":"2025-11-01T07:16:14","date_gmt":"2025-11-01T00:16:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=370239"},"modified":"2025-11-01T02:30:48","modified_gmt":"2025-10-31T19:30:48","slug":"3-hal-di-malaysia-ini-membuat-saya-ingin-jadi-the-next-susanti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-di-malaysia-ini-membuat-saya-ingin-jadi-the-next-susanti\/","title":{"rendered":"3 Hal di Malaysia Ini Membuat Saya Ingin Jadi The Next Susanti!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak pernah ada dalam wishlist kehidupan saya bahwa Malaysia akan menjadi destinasi luar negeri dan negara pertama yang saya kunjungi dalam hidup. Saya sudah merasa cukup mengetahui bagaimana Malaysia dari menonton kartun \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andai-susanti-upin-ipin-pulang-ke-indonesia-nggak-balik-malaysia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Upin &amp; Ipin<\/a>\u201d dan \u201cEjen Ali\u201d. Makanya, saya tidak ada keinginan untuk mengunjungi negara tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir juga, Malaysia dan Indonesia tidak jauh berbeda. Mulai dari bahasa, makanan, dan lainnya. Oleh sebab itu, tidak terlalu menantang bagi saya yang mendamba Thailand sebagai negara pertama yang ingin saya kunjungi ketika mendapat kesempatan ke luar negeri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ternyata, saya salah. setelah mengunjungi Malaysia, terutama Kuala Lumpur selama beberapa hari, saya merasa negara ini jauh dari yang saya bayangkan. Bahkan dalam diam dan dari lubuk hati paling dalam, saya ingin menjadi the next Susanti yang hidup menetap di sini hanya karena tiga hal ini<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota tenang dengan polusi suara yang minim<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana bisa selama saya di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kuala_Lumpur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kuala Lumpur<\/a>, hampir tidak pernah mendengar suara klakson berbunyi dari kendaraan. Apalagi suara klakson yang bersahut-sahutan. Dalam keadaan macet mengular panjang di jam pulang atau berangkat kerja, baik mobil atau motor, hampir tidak pernah saya mendengar suara klakson.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, membunyikan klakson di Malaysia mengandung makna emosi dan moral yang negatif dan buruk. Orang yang membunyikan klakson saat berkendara punya makna mengajak bertengkar orang lain. Selain itu, membunyikan klakson juga dianggap tidak sopan, tidak beradab hingga tidak berpendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut laman Detik Oto, klakson di Malaysia hanya digunakan untuk dua hal. Pertama untuk mengantar pejabat penting. Kedua, saat terjadi kecelakaan yang membutuhkan pertolongan darurat. Kalau untuk menyalip, cukup nyalakan lampu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada perbedaan budaya dan gaya berkendara antara Malaysia dan Indonesia. Walaupun di kota terpadat di Malaysia yakni Kuala Lumpur sekalipun, suara klakson tak terdengar. Beda dengan banyak kota besar di Indonesia, terutama Jakarta.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kualitas udara Malaysia masih agak bagusan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum berangkat ke Malaysia, saya sedang rajin-rajinnya cek kualitas udara. Hal ini lantaran cuaca yang sangat panas akhir-akhir ini\u00a0 membuat saya khawatir akan kualitas udara tempat saya tinggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota tempat saya tinggal, yakni Surabaya, kualitas udara yang sering saya cek melalui aplikasi IQAirVisual. Indikatornya kalau tidak berwarna kuning yang berarti moderate atau sedang, ya berwarna oranye dengan keterangan Unhealthy for Sensitive Groups. Kalau boleh saya simpulkan indikator kualitas udara di Surabaya dominan dari kuning ke oranye.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda jauh dengan DKI Jakarta yang warna indikatornya dominan berwarna merah atau Unhealthy. Mentok-mentok warna oranye. Kalau boleh saya simpulkan lagi, indikator warna di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengungsi-dari-polusi-udara-jakarta-ke-kota-dengan-kualitas-udara-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">DKI Jakarta<\/a> dominan merah menuju oranye.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan saat saya di Malaysia, baik itu di daerah Kuala Lumpur maupun Putrajaya, indikator yang ditunjukkan dominan kuning ke hijau. Hijau menunjukkan keterangan healthy, dengan informasi tambahan untuk melakukan banyak aktivitas secara outdoor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diketahui berdasar survei IQAir 2024 lalu, Indonesia menempati peringkat ke-15 sebagai negara paling berpolusi di dunia. Sedangkan Malaysia menempati peringkat 48.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun saat saya menulis ini,\u00a0 data terbaru yang saya akses melalui laman IQAir Kota Kuala Lumpur berada di peringkat 37 sedangkan Jakarta di peringkat 40. Tetap saja, Indonesia masih unggul dalam persoalan kualitas udara buruk. Hal ini karena ada dua kota di Indonesia yang menempati 40 besar, sedangkan Malaysia masih satu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya saya betah melakukan aktivitas outdoor. Walaupun cuaca panas, tapi udaranya masih lebih ringan untuk dihirup.<\/span><\/p>\n<h2><b>KL Sentral kau ni ape?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana bisa pemerintahan Malaysia kepikiran membuat area yang menghubungkan berbagai transportasi umum? Belum lagi, KL Sentral ini satu area dengan pusat mall yakni NU Sentral yang membuat Kuala Lumpur seperti punya titik kumpul untuk seluruh masyarakatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di KL Sentral, pengunjung bisa memilih dengan bebas moda transportasi umum sesuai tujuan. Ada LRT (Light Rail Transit), ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aturan-tidak-tertulis-di-mrt-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MRT<\/a> (Mass Rapid Transit), ada KTM (Keretapi Tanah Melayu), KLIA (Kereta Api Bandara), monorail, bus, hingga taksi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat pertama melihat KL Sentral, saya kagum dengan nuansa modern. Areanya sama sekali tidak nampak seperti sebuah stasiun ataupun terminal, tapi seperti mall yang lengkap dengan elevator dan beragam tenant penjual makanan berbasis cafe atau resto.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KL Sentral memudahkan saya untuk menaiki berbagai transportasi yang beragam. Tidak seperti di Jakarta yang harus keluar bangunan atau stasiun MRT terlebih dahulu untuk selanjutnya transit KRL maupun MRT kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petunjuk atau signage hingga informasi rute perjalanan yang disediakan di KL Sentral pun jelas dan tidak membuat bingung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menganggap KL Sentral ini sebagai pembangunan infrastruktur yang benar-benar berdampak terutama soal transportasi umum. Ini minim saya rasakan di negara saya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keinginan kabur aja dulu yang lama terpendam, akhirnya menemukan tujuannya. Bisa jadi Malaysia adalah jawabnya. Susanti, tunggu aku jadi tetanggamu, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Anisah Meidayanti<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-bekerja-di-kuala-lumpur-yang-jauh-lebih-menyenangkan-dibanding-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Bekerja di Kuala Lumpur, yang Jauh Lebih Menyenangkan Dibanding Indonesia<\/a><br \/>\n<\/b><b><\/b><\/span><i><\/i><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s1\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keinginan kabur aja dulu yang lama terpendam, akhirnya menemukan tujuannya. Malaysia adalah jawabnya. Susanti, tunggu aku, ya.<\/p>\n","protected":false},"author":1482,"featured_media":370245,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[7604,5612,30820,27507,5855],"class_list":["post-370239","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kuala-lumpur","tag-malaysia","tag-putrajaya","tag-susanti-upin-ipin","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/370239","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1482"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=370239"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/370239\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/370245"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=370239"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=370239"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=370239"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}