{"id":369626,"date":"2025-10-28T09:34:13","date_gmt":"2025-10-28T02:34:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=369626"},"modified":"2025-10-28T09:34:13","modified_gmt":"2025-10-28T02:34:13","slug":"sidoarjo-membuat-wisatawan-resah-dan-heran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sidoarjo-membuat-wisatawan-resah-dan-heran\/","title":{"rendered":"Sidoarjo yang Membuat Wisatawan Bertanya-tanya, Antara Resah dan Heran karena ini Bukan Kabupaten tapi Kota yang Menyamar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali main ke Kabupaten Sidoarjo, saya kaget. Serius, kaget beneran. Kabupaten yang secara geografis cuma nempel di sebelah timur <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-dan-sidoarjo-melebur-jadi-satu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya<\/a> itu rasanya lebih pantas disebut \u201ckota kecil\u201d daripada \u201ckabupaten\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangin, di sini sudah ada mall-mall besar, restoran cepat saji macam McD, KFC, Burger King, sampai tempat nongkrong kekinian yang kalau difoto pasti dikira tempatnya di tengah Kota Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang berasal dari Kendal, Jawa Tengah, kabupaten yang letaknya juga nempel banget di Semarang saya jadi merasa sedikit minder. Soalnya, di Kendal, mall besar aja belum ada. Kalau mau ngerasain suasana kota, ya harus melipir dulu sejam ke Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sana baru bisa makan McD sambil pura-pura ngerjain tugas biar keliatan sibuk kayak mahasiswa produktif. Tapi di Sidoarjo? Orang-orangnya nggak perlu ke Surabaya buat ngerasain \u201cjadi orang kota.\u201d Semuanya sudah ada di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau belanja ke mall bisa, nongkrong di kafe juga banyak pilihannya, bahkan mau makan burger atau ayam goreng tepung pun tinggal melangkah dikit. Sidoarjo ini kayak kota satelit yang bener-bener berkembang, tapi tetap punya suasana kabupaten yang hangat dan tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal ini bukan kali pertama saya melewati Sidoarjo. Dulu, setiap kali bepergian ke Bali atau pulang dari sana ke Kendal, pasti lewat sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi cuma lewat, nggak pernah berhenti. Baru kali ini saya beneran mampir padahal saya punya banyak teman di Sidoarjo. Dan, ya, pengalaman pertama saya ternyata meninggalkan kesan mendalam.<\/span><\/p>\n<h2><b>UMK Sidoarjo bikin kaget, harga makanannya bikin senyum<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hal yang bikin saya heran dan bengong adalah ketika tahu <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/berita\/d-8178607\/daftar-umk-jatim-2025-terbaru-surabaya-tertinggi-sampang-terendah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMK 2025<\/a> tembus Rp4.940.090. Itu hampir dua kali lipat UMK Kendal yang cuma Rp2.783.455. Saya sempat mikir, \u201cWaduh, pasti harga-harga di sini mahal dong.\u201d Tapi ternyata tidak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu saya mampir makan bakso malang di pinggir jalan harganya cuma sepuluh ribu. Sepuluh ribu! Dan itu bukan porsi \u201cala-ala\u201d yang berisi bakso 2 biji tapi semangkuk penuh bakso, tahu, mie, dan pangsit. Rasanya? Enak banget, gurih, dan bikin kenyang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan dengan di Kendal, harga makanan semacam itu sudah mentok di lima belas ribu ke atas. Padahal dari segi UMK-nya jauh lebih kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya di Sidoarjo bilang, rata-rata harga makanan pinggir jalan di sini memang sekitar Rp10 sampai Rp20 ribu, tergantung menunya. Katanya, di Jawa Timur, makanan pinggir jalan memang cenderung lebih murah dibanding makanan di Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa, mungkin karena daya saing warungnya tinggi atau karena masyarakatnya punya budaya kuliner yang kuat. Tapi yang jelas, buat saya yang doyan makan, itu merupakan sebuah kabar yang baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lontong kupang: Cinta pada suapan pertama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum berangkat ke Sidoarjo, saya sudah bertekad saya harus makan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-kota-sidoarjo-yang-wajib-dicoba-saat-mampir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lontong kupang<\/a>. Itu makanan khas yang sering saya dengar tapi belum pernah saya coba. Begitu sampai, teman saya langsung ngajak makan itu. Katanya, \u201cKamu belum ke Sidoarjo kalau belum makan lontong kupang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu sepiring lontong kupang disajikan di depan saya, aromanya langsung menggoda. Isinya sederhana lontong, kupang (sejenis kerang kecil), siraman kuah bening gurih, sambal, dan perasan jeruk nipis. Sekilas tampak biasa saja, tapi setelah suapan pertama, rasanya langsung nempel di ingatan. Segar, gurih, dan unik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kupangnya kecil-kecil tapi rasanya kuat, kuahnya ringan tapi berasa lautnya. Saya langsung paham kenapa makanan ini begitu disukai warga Sidoarjo. Apalagi kalau dimakan siang siang di warung pinggir jalan, ditemani angin sepoi dan suara motor lalu-lalang. Rasanya seperti menemukan bentuk sederhana dari kebahagiaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lapis kukus, bakso sepuluh ribuan, dan nongkrong di gedung terbengkalai yang aneh tapi nyaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum pulang, saya dikasih oleh-oleh lapis kukus Pahlawan. Teman saya bilang, ini salah satu oleh-oleh yang lagi naik daun di Sidoarjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga sempat nongkrong di sebuah tempat agak nyentrik gedung terbengkalai yang jadi tempat parkir armada yang saya pakai untuk ke Sidoarjo sebelum diculik teman saya untuk jalan jalan berkeliling Sidoarjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anehnya, meski terbengkalai, tempat itu rame banget buat nongkrong. Ada yang jual kopi, bakso, gorengan. Suasananya santai dan akrab, kayak versi \u201cunderground\u201d dari tempat nongkrong modern.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sanalah saya beli bakso sepuluh ribuan tadi. Saya makan sambil ngobrol ngalor-ngidul, sesekali denger musik dari speaker kecil dan TV 14 inch milik penjual kopi yang anehnya malah pada nonton pertandingan Arema FC vs Borneo FC bukan menonton pertandingan antara tim asal Sidoarjo Deltras vs PSIS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa, suasana semacam itu justru lebih menyenangkan daripada nongkrong di kafe ber-AC.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kabupaten serba dekat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang bikin saya makin kagum, ternyata Sidoarjo ini secara infrastruktur juga sangat strategis. Kalau naik kereta dari Semarang, tinggal turun di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/becak-motor-di-stasiun-surabaya-pasarturi-harganya-bikin-kapok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Pasar Turi Surabaya<\/a>, terus pindah ke Gubeng dan naik semacam KRL ke Stasiun Sidoarjo. Tiketnya cuma Rp8 ribu. Murah banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi, Terminal Bungurasih yang banyak orang kira ada di Surabaya ternyata letaknya di Sidoarjo. Bahkan Bandara Juanda yang katanya bandara yang berada di Surabaya itu juga sebenarnya masuk wilayah Sidoarjo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau dipikir-pikir, Sidoarjo ini seperti pintu gerbang besar ke Jawa Timur bagian timur. Semua lalu lintas manusia dan barang seolah melewati kabupaten ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Di Sidoarjo, bahasanya kasar tapi orangnya ramah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ngomong soal orangnya, masyarakat Sidoarjo itu khas banget. Dialek mereka arek, yang buat telinga orang Jawa Tengah terdengar agak \u201ckasar\u201d di awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak kata \u201ccok\u201d, intonasi tinggi, dan gaya bicara yang lugas. Tapi di balik itu, mereka sebenarnya sangat ramah dan terbuka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya beberapa kali disapa orang di warung, padahal baru kenal. \u201cDari mana, cak?\u201d tanya mereka sambil senyum. Obrolan pun ngalir, entah soal cuaca, makanan, sampai cerita receh tentang macet di Porong. Saya merasa disambut dengan hangat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena saya punya banyak teman di Jawa Timur, saya sudah terbiasa dengan dialek arek ini. Jadi nggak terlalu kaget, malah justru merasa akrab. Bahasa yang terdengar keras itu ternyata menyimpan kehangatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kabupaten rasa kota yang bikin betah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, Sidoarjo ini memang menarik. Secara administratif kabupaten, tapi vibes kabupaten inj sudah seperti kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fasilitasnya lengkap, infrastrukturnya maju, tapi suasana manusianya masih khas masyarakat kabupaten yang\u00a0 ramah, ringan, dan nggak terburu-buru. Saya sempat mikir, kalau semua kabupaten berkembang seperti ini, mungkin urbanisasi ke kota besar bisa berkurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang nggak perlu pindah ke Surabaya buat cari suasana modern, cukup di Sidoarjo saja sudah cukup segalanya. Ada mall, ada makanan enak, ada tempat nongkrong, tapi juga ada ketenangan khas kabupaten.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rencana kembali ke Sidoarjo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan singkat itu akhirnya bikin saya pengin balik lagi. Waktu itu saya cuma sebentar, belum sempat keliling banyak tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum sempat juga nyobain ote-ote Porong, makanan khas Sidoarjo lain yang katanya bikin nagih. Jadi saya sudah janji ke diri sendiri, suatu saat nanti, saya harus balik ke sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan pertama tentu saja makan lontong kupang lagi. Setelah itu baru berburu ote-ote Porong dan mungkin jalan-jalan ke Alun-Alun Sidoarjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sempat, pengin juga ngopi di warung tenda tempat saya makan bakso tempo hari. Tempat sederhana yang entah kenapa sekarang selalu muncul di kepala kalau saya kangen suasana santai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sidoarjo mungkin bukan kota tujuan wisata utama di Jawa Timur, tapi buat saya, ia punya daya tariknya sendiri. Perpaduan antara kemajuan kota dan keramahan kabupaten itu jarang banget ada. Mungkin karena itu juga, begitu meninggalkan Sidoarjo, saya sempat mikir pelan-pelan:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWalaupun bukan kota asalku, tapi di Sidoarjo rasanya kayak dirumah sendiri.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Andre Rizal Hanafi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/sidoarjo-lebih-layak-ditinggali-daripada-jakarta-timur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sidoarjo Cocok untuk Perintis, Tak Harus Kerja Keras di Jakarta Sampai Mental Rusak<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sidoarjo mungkin bukan kota tujuan wisata utama di Jawa Timur, tapi buat saya, ia punya daya tariknya sendiri. Bikin heran saja.<\/p>\n","protected":false},"author":2987,"featured_media":369652,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[19796,28760,2501,30739,24525,26605,944,30740,405,9077],"class_list":["post-369626","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandara-juanda","tag-gubeng","tag-jawa-timur","tag-kuliner-khas-sidoarjo","tag-lontong-kupang","tag-porong-sidoarjo","tag-sidoarjo","tag-stasiun-pasar-turi-surabaya","tag-surabaya","tag-terminal-bungurasih"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/369626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2987"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=369626"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/369626\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/369652"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=369626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=369626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=369626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}