{"id":3694,"date":"2019-06-13T11:00:16","date_gmt":"2019-06-13T04:00:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3694"},"modified":"2022-01-17T13:37:13","modified_gmt":"2022-01-17T06:37:13","slug":"buntut-viral-dari-isu-viral-seorang-ridwan-kamil-masih-tentang-enigma-sebuah-segitiga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buntut-viral-dari-isu-viral-seorang-ridwan-kamil-masih-tentang-enigma-sebuah-segitiga\/","title":{"rendered":"Buntut Viral dari Isu Viral seorang Ridwan Kamil: Masih tentang Enigma Sebuah Segitiga"},"content":{"rendered":"<p>Meruntut masalah protes masyarakat kepada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kal\/esai\/nikmatnya-lihat-ridwan-kamil-repot-ladeni-teori-illuminati-modal-kliping-ustaz-baequni\/\">Ridwan Kamil<\/a> a.k.a Kang Emil terhadap desain Masjid Al-Safar yang menuai kontroversi karena disinyalir memiliki kemiripan dengan simbol-simbol yang digunakan oleh organisasi paling kontroversial sepanjang sejarah bernama Illuminati\u2014ternyata drama keviralan kasus ini semakin mencengangkan dan menegangkan sekaligus agak kocak, <em>gaes~<\/em><\/p>\n<p>Setelah satu per satu masyarakat termakan berbagai kabar miring sehingga saling mengintervensi agar masyarakat lain pun ikut menolak beribadah di Masjid Al-Safar. Akhirnya pemberitaan isu ini pun berhasil memicu dunia perulamaan\u2014yang sebut saja tokoh-tokoh agama terkemuka\u2014untuk buka suara. Belum selesai Si Akang Emil meredam opini publik terkait tuduhan tersebut, Kang Emil justru semakin dibikin pusing dengan perdebatan baru yang menyusul viral\u2014apalagi kalau bukan perbedaan pandangnya dengan Ustaz Rahmat Baequni dalam sebuah kegiatan diskusi terbuka yang digelar oleh MUI Jabar di Bale Asri Pusdai Jawa Barat senin kemarin (10\/6\/2019).<\/p>\n<p>Dalam pemaparan Ustaz Baequni, beliau menegaskan bahwa segitiga merupakan simbol yang menjadi ciri khas kaum Zionis Yahudi, termasuk untuk menginterpretasikan ketuhanan mereka. Beliau juga menjelaskan bahwa kaum Zionis memaknai segitiga terbalik sebagai penggambaran dari iblis yang mereka sembah, sedangkan segitiga normal\u2014menghadap ke atas\u2014disimbolkan sebagai Dajjal. Apabila keduanya digabungkan atau dipersatukan, maka terbentuklah simbol yang kini digunakan sebagai lambang bendera Israel.<\/p>\n<p>Selain itu, ia juga memaparkan mengenai tiga agenda utama kaum Zionis\u2014yaitu persatuan kaum Yahudi di seluruh dunia, kekuasaan berdaulat di atas tanah Palestina, dan penyebaran ideologis ke seluruh umat demi terwujudnya <em>The New World Order<\/em>. Dalam mencapai keberhasilan ketiga agenda tersebut, mereka biasanya akan menggunakan media berupa simbol, ritual, dan arsitektur.<\/p>\n<p>Tanpa perlu kita cerna pun, pemaparan beliau jelas sekali mengarah kepada permasalahan Masjid Al-Safar yang tengah ramai dibicarakan. Hal inilah yang membuat masyarakat memperdebatkan relasi antara Dajjal dan Illuminati, Illuminati dipercayai sebagian kalangan sebagai antek-antek setia alias tentara Dajjal\u2014si Makhluk Akhir Zaman menurut ajaran agama Islam. Sebaliknya, Kang Emil menanggapi dengan tipikal khasnya yang <em>nyentil<\/em> tapi suka <em>bener<\/em>. Ia jelas menampik klaim bahwa arsitektur Masjid Al-Safar berbentuk segitiga melainkan trapesium\u2014<em>lah<\/em>, <em>kok bener~<\/em><\/p>\n<p>Tak lupa beliau menambahkan dukungan teori saintis berupa studi matematika dasar soal perbedaan rumus trapesium dan segitiga. <em>Super sekali, Pak!<\/em><\/p>\n<p>Keberagaman perspektif dalam menginterpretasikan simbol segitiga tersebut pun masih ambigu dan mengundang banyak perdebatan akibat kemiripan bentuk dasar yang selalu dilihat dari satu sisi\u2014sisi depan atau belakang. Simbol-simbol segitiga Illuminati yang digambar atau ditulis dengan media datar apabila di visualisasikan bentuknya dapat menyerupai piramida, trapesium, hingga kerucut\u2014intinya kecil atau mengerucut<em>\u00a0aja<\/em> bagian pucuknya. <em>Pucuk pucuk pucuk<\/em>\u2014iklan.<\/p>\n<p>Setelah cukup memberi kuliah umum tentang konsep segitiga dan trapesium, Kang Emil juga menganggap kontroversi terhadap dirinya ini di rasa sama sekali tidak proporsional\u2014bisa jadi di dalam hati Kang Emil bilang, &#8220;Akutu nggak bisa diginiin&#8221;. Pasalnya, banyak sekali masjid yang menggunakan desain dan ornamen ala-ala segitiga namun tidak menjadi masalah sampai masalah ini diperdebatkan\u2014misalnya seperti Masjid Al-Ukhuwah Bandung, Masjid Raya Jakarta atau Masjid Raya Hasyim Asyari hingga Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Nabi Raudah. Apakah karena yang desain bukan seorang Ridwan Kamil yang <em>nge-hits<\/em> dan mengundang massa untuk <em>nyinyir<\/em>?<\/p>\n<p>Hari ini saya cukup lama berselancar di dunia daring, isu ini berjaya menjadi <em>trending<\/em> berita menghiasi <em>headline-headline<\/em> beranda di berbagai media. Sampailah saya di pekarangan\u00a0<a href=\"http:\/\/mojok.co\/\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=http:\/\/mojok.co&amp;source=gmail&amp;ust=1560475841226000&amp;usg=AFQjCNGY4NWCzFZVgFvmapxuK6cMDQ1kSA\">mojok.co<\/a>, saya membaca artikel di beranda dengan cukup seksama sembari sesekali menyungging bibir atau <em>nyengir-nyengir<\/em>. Setelah membaca salah satu artikel di\u00a0<a href=\"http:\/\/mojok.co\/\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=http:\/\/mojok.co&amp;source=gmail&amp;ust=1560475841226000&amp;usg=AFQjCNGY4NWCzFZVgFvmapxuK6cMDQ1kSA\">mojok.co<\/a> soal isu terkait, saya jadi berpikir: &#8220;Apakah selama ini saya makan dan memberi makan orang dengan makanan <em>Dajjal<\/em> setiap kali di rumah mengadakan <em>selametan<\/em>? Jangan-jangan tanpa niat dan tanpa sadar saya telah membabtiskan diri menjadi agen Illuminati? Oh, tidak!<\/p>\n<p>Segala nasi tumpeng <em>aja<\/em> menjadi korban komentar <em><span style=\"text-decoration: line-through;\">nyinyir<\/span><\/em> kekritisan bepikir netizen\u2014kasihan ya. Walaupun hanya sekedar lelucon, tapi kalau dinalar <em>kok<\/em> masuk akal. Memang ya, mojok dan para <i>fans <\/i>setianya, nakal tapi banyak akal. \u201cMemang apa hubungannya?\u201d Bukankah konteksnya sama saja dengan cara masyarakat yang <em>sekonyong-konyongnya<\/em> menuding Masjid Al-Safar mendefinikan eksistensi Illuminati hanya karena desain dan ornamennya yang mirip dengan simbol <em>All Seeing Eye<\/em> atau segitiga Illuminati?<\/p>\n<p>Seandainya memang segala penggunaan bentuk tersebut perlu dipermasalahkan, kemiripan simbol-simbol Illuminati ada di mana-mana <em>loh <\/em>di sekitar kita. Contohnya nasi bungkus angkringan\u2014<em>waduh<\/em> ini makanan saya ini\u2014, nasi kenduri, caping petani, atau jika kalian pernah mendengar nama sebuah warung prasmanan bernama Illuminasi\u2014dengan motto <em>Free Mesen Pulang Bayar<\/em>\u2014hingga (maaf) bentuk beberapa jenis celana dalam. <em>Illuminati is everywhere.<\/em><\/p>\n<p>Kita memang perlu waspada dengan kehadiran Dajjal yang telah diramalkan akan hadir di akhir zaman, namun penudingan dan penghakiman tanpa dasar pada sebuah simbol yang sangat umum dirasa kurang tepat. Pasalnya, terlalu banyak variabel yang bahkan kita sendiri pun sulit mengidentifikasi maknanya\u2014namun sayangnya kita terlalu mudah untuk asal menyimpulkan. Apalagi menimbang-nimbang setiap seni sarat akan makna yang dicurahkan penciptanya\u2014bagaimana jika sebuah seni tidak lagi dianggap sebagai seni melainkan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/film-sebagai-alat-propaganda-rezim-penguasa-cxgY\">diubah maknanya menjadi propaganda<\/a> belaka?<\/p>\n<p>Saya yakin bahwa drama ini tidak akan sampai di sini saja. Nampaknya, episode di mana cerita mencapai klimaks belum terlihat tanda-tandanya dan memaksa kita untuk &#8220;Nantikan episode berikutnya&#8221;, titik tiga. Lalu massa menyiapkan adegan sekaligus menjadi figuran dengan berlomba-lomba mencari kebenaran dan pembenaran\u2014beradu debat tak berujung. Dalam hal ini ermasuk saya dan kita yang bersuara adalah bagian dari pemicu klimaks cerita.<\/p>\n<p>Dari makhluk biasa-biasa saja seperti kita hingga berhasil mengguncang dunia para politisi dan selebritis untuk turut meramaikan-dan berakhir dengan kegalauan panjang seorang arsitek sekaligus Gubernur Jawa Barat tersebut sebagai pemeran utama di negara yang rakyatnya mempercayai adanya hubungan Dajjal dan Illuminati yang mana dimanifestasikan dengan kepercayaan bahwa segitiga adalah simbol yang taksa serta teramat sangat penting dan bermakna. <em>Luar biasa sekali ya, sebuah segitiga~<\/em><\/p>\n<p>Tak dipungkiri banyak sekali masyarakat yang lebih memilih diam dan mengikuti pemberitaan, memang tidak ada yang salah dengan menjadi biasa-biasa saja. <em>Toh<\/em> hidup memang terkadang perlu mencari aman. Tak ada yang salah juga dengan masyarakat yang lebih memilih bersuara dengan ideologi mereka masing-masing\u2014setidaknya mereka menginginkan kebenaran atau perubahan atau sekedar kesalahan yang dibenar-benarkan. Yang menjadi masalah adalah pretensi dari orang-orang yang memanfaatkan keadaan untuk memecah belah perdamaian dunia\u2014<em>asek<\/em> perdamaian dunia\u2014khususnya masyarakat Bandung dan sekitarnya.<\/p>\n<p>Tapi seru juga <em>sih. <\/em>Narasi ini kemudian membuka dan memberikan ruang bagi konspirasi-konspirasi tua untuk berbicara\u2014termasuk konspirasi populer Illuminati sebagai tentara Dajjal. Apalagi wacana keterkaitan UFO (<em>Unidentified Flying Object<\/em>) muncul sebagai bagian yang menyemarakkan kehadiran konspirasi kedua hal tersebut menjadikan permasalahan ini benar-benar mirip film Sci-Fi. Wah, apakah ini efek dari fanatisme masyarakat terhadap <em>Avengers: End Game<\/em> (2019) ya, sampai ada yang mengira bahwa UFO adalah kendaraan Dajjal?<\/p>\n<p>Tapi syukurlah, diskusi legit nan menggigit di pagelaran MUI itu diakhiri dengan anjuran saling menghormati pendapat\u2014yang ditutup oleh Ketua MUI Jawa Barat, Rachmat Syafei. Kesimpulannya, begitu juga dengan aku dan kamu. <em>Iya, kamuuu~<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ustaz Baequni menegaskan bahwa segitiga merupakan simbol yang menjadi ciri khas kaum Zionis Yahudi, termasuk untuk menginterpretasikan ketuhanan mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":106,"featured_media":3701,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[113,864,930,929],"class_list":["post-3694","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-konspirasi","tag-ridwan-kamil","tag-segitiga","tag-ustaz-baequni"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/106"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3694"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3694\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3701"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}