{"id":369322,"date":"2025-10-26T13:07:33","date_gmt":"2025-10-26T06:07:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=369322"},"modified":"2025-10-26T13:07:33","modified_gmt":"2025-10-26T06:07:33","slug":"proyek-trotoar-simpang-lima-boyolali-problematik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/proyek-trotoar-simpang-lima-boyolali-problematik\/","title":{"rendered":"Proyek Trotoar Simpang Lima Boyolali: Katanya Bikin Kota Jadi Estetik, tapi Nyatanya Malah Problematik!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali lewat Boyolali belakangan ini, yang kelihatan bukan cuma patung kudanya, tapi juga alat berat dan jalan yang disekat-sekat. Kota ini sedang bersolek, katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Boyolali lagi sibuk mempercantik diri. Trotoar dan jalan di sekitar Simpang Lima Patung Kuda sedang dipercantik. Katanya sih biar mirip Malioboro, biar keren, biar estetik, biar bisa jadi tempat nongkrong baru. Tapi di balik proyek yang katanya buat \u201ckenyamanan publik\u201d ini, ada ironi yang cukup menggelitik: publiknya justru yang nggak nyaman karena proses proyek ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bikin bensin boros<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak <a href=\"https:\/\/solopos.espos.id\/pembangunan-terowongan-simpang-lima-boyolali-dimulai-ada-rekayasa-lalu-lintas-2145427\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">proyek ini dimulai<\/a>, warga di sekitar kawasan itu harus ekstra sabar. Jalur utama ditutup, kendaraan dialihkan. Bukan cuma pengendara yang pusing, pedagang di Pasar Kota Boyolali juga kena imbasnya. Pasar yang biasanya ramai kayak gula yang dirubung semut, sekarang malah sepi kayak rumah kosong di film horor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri beberapa kali lewat situ, dan memang suasananya berubah total. Jalan yang biasanya jadi jalur utama dari arah Semarang ke pusat kota kini disulap jadi labirin sementara. Mau ke pasar? Harus muter jauh. Mau ke kantor? Muter juga. Kadang mikir, ini Pemkab sebetulnya sedang mempercantik kota atau sedang mengetes kesabaran warganya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pedagang Pasar Kota Boyolali jadi kesusahan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari lalu, ibu saya pergi ke Pasar Kota Boyolali buat belanja kebutuhan dapur. Pulangnya cuma bisa geleng-geleng kepala. Katanya, pasar sepi banget. \u201cPedagangnya kasihan. Katanya seharian, nggak ada sepuluh orang yang mampir ke pasar\u201d. Dan benar saja, ketika saya ke sana, suasananya suram. Kios-kios terbuka, tapi pembeli jarang ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu pedagang bahkan sempat nyeletuk, \u201cProyeknya bagus, Mas. Tapi ya piye, wong pembeli pada males lewat. Muter jauh. Orang-orang lebih milih ke Pasar Sunggingan yang enak aksesnya\u201d. Kalimat itu sederhana, tapi ngena banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasar Sunggingan sebenarnya jaraknya nggak jauh banget dari Pasar Kota. Tapi karena di sana nggak kena imbas proyek, aksesnya lebih mudah. Alhasil, pembeli berbondong-bondong ke sana. Bukan karena dagangannya lebih murah, tapi karena jalannya lebih gampang dilalui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proyek yang katanya buat bikin Boyolali lebih hidup, malah bikin denyut ekonomi kecil di sekitar situ jadi lemah.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Yang dari arah Semarang pun ikut pusing<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, beberapa teman saya yang dari arah Semarang sering ngeluh ke saya. \u201cItu ada proyek apaan sih? Jalan ditutup, aku jadi bingung muter-muter karena nggak paham jalan\u201d. Ini karena tidak ada penjelasan yang cukup jelas soal pengalihan arus. Saya sendiri pun pada awalnya juga merasakan hal yang sama. Bingung, sebenarnya sistem pengalihan jalannya gimana sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal ya, kalau dipikir-pikir, mempercantik kota itu sah-sah saja. Siapa sih yang nggak pengin kotanya tampil cantik, rapi, dan estetik? Tapi semua itu akan kehilangan makna kalau dalam prosesnya justru bikin warganya kesusahan. Pembangunan itu seharusnya bukan cuma soal memperbaiki jalan dan trotoar, tapi juga memperhatikan alur kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harus dievaluasi lagi biar sama-sama enak, dan nggak bikin susah warga Boyolali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, proyek semacam ini sering punya efek domino yang nggak disadari. Misal dampaknya ke pasar atau kios-kios. Ketika akses utama ditutup, pembeli malas datang, pedagang kehilangan penghasilan, dan ekonomi lokal perlahan lesu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya lagi, proyek kayak gini biasanya diklaim \u201cuntuk kenyamanan publik\u201d. Tapi publik Boyolali yang mana dulu nih? Karena warga biasa justru sering jadi korban pertama dari rencana besar yang katanya demi kebaikan bersama. Yang punya kekuasaan memang gampang bilang \u201cnanti kalau sudah jadi, pasti bagus kok\u201d. Tapi selama prosesnya, yang merasakan repot kan rakyat kecil juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya dan orang-orang nggak menolak proyeknya. Semua orang juga tahu, kota memang perlu berubah, perlu dibenahi. Tapi yang sering dilupakan adalah soal <\/span><b>cara<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Cara yang terburu-buru, tanpa komunikasi yang baik dengan warga, akhirnya justru bikin kesan bahwa pembangunan itu bukan buat warga, tapi buat pencitraan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Boyolali nggak perlu jadi Malioboro. Boyolali cukup jadi Boyolali yang nyaman buat warganya sendiri. Kota kecil yang hidup karena manusianya, bukan karena proyek percantik kotanya yang terkesan memaksa. Karena kota yang baik bukan kota yang paling rapi, tapi kota yang paling manusiawi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga, setelah proyek ini selesai, yang dirapikan bukan cuma trotoarnya, tapi juga cara berpikir pembuat kebijakannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Nur Azza<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/boyolali-hobi-menyontek-monumen-ikonik-negara-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Boyolali Hobi Menyontek Monumen Ikonik Negara Lain, seperti Nggak Punya Identitas Aja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Trotoar dan jalan di sekitar Simpang Lima Patung Kuda Boyolali sedang dipercantik. Tapi hal itu justru bikin warga nggak nyaman.<\/p>\n","protected":false},"author":3103,"featured_media":369344,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8877,30704,30703,30702],"class_list":["post-369322","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-boyolali","tag-pasar-kota-boyolali","tag-proyek-trotoar-boyolali","tag-simpang-lima-boyolali"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/369322","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3103"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=369322"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/369322\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/369344"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=369322"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=369322"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=369322"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}