{"id":369087,"date":"2025-10-25T14:16:44","date_gmt":"2025-10-25T07:16:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=369087"},"modified":"2025-10-25T14:16:44","modified_gmt":"2025-10-25T07:16:44","slug":"kenapa-mahasiswa-jurusan-sastra-justru-jarang-jadi-penulis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-mahasiswa-jurusan-sastra-justru-jarang-jadi-penulis\/","title":{"rendered":"Kenapa Mahasiswa Jurusan Sastra Justru Jarang Jadi Penulis?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teruntuk kalian para pembaca buku yang budiman, pasti sadar bahwa jarang sekali ada penulis\u2014apalagi yang terkenal\u2014yang berasal dari lulusan Sastra Indonesia (atau sastra apalah itu). Padahal, secara logika, mestinya kamilah, anak jurusan Sastra Indonesia yang paling siap menulis karena sudah kenyang teori, analisis, dan diksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kenyataannya, penulis-penulis besar banyak datang dari jurusan lain: teknik, hukum, ekonomi, filsafat, atau bahkan kedokteran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai salah satu lulusan Sastra Indonesia dari sebuah PTN lumayan beken di negeri ini, izinkan saya mewakili teman-teman Sasindo (singkatan untuk Sastra Indonesia) lain untuk mengutarakan beberapa alasan mengapa hal itu bisa terjadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak semua anak Sastra itu suka nulis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aneh tapi nyata. Banyak dari kami masuk jurusan sastra bukan karena cinta menulis, tapi karena\u2026 nyasar saat daftar kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang niatnya masuk komunikasi, eh salah klik waktu isi SNMPTN atau SBMPTN. Ada juga yang sering menjadikan jurusan Sastra Indonesia ini pilihan kedua. Katanya sih biar cari aman, yang penting universitasnya bagus. Ada pula yang mikir \u201ckuliah sastra pasti banyak baca novel\u201d. Eh malah ternyata yang dibaca malah teori strukturalisme dan semiotika yang bikin kepala ngebul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan ada yang suka sastra tapi alergi menulis. Mereka lebih nyaman membedah karya orang lain daripada menulis karya sendiri. Contohnya ya saya sendiri hehehe.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kami tidak dididik menjadi seorang penulis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurusan sastra itu tidak sama dengan sekolah menulis. Kami belajar teori sastra, linguistik, dan kritik, bukan teknik storytelling atau pengembangan karakter. Yang kami kuasai justru analisis karya, bukan produksi karya. Bahkan mata perkuliahan kepenulisan pun hanya ada satu yaitu Penulisan Kreatif, itupun termasuk matkul peminatan, bukan matkul wajib yang harus diikuti semua mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat belajar masak, kami tahu bumbu dan proses kimianya, tapi jarang dikasih kesempatan buat benar-benar turun ke dapur. Jadinya, ketika disuruh bikin karya sendiri, banyak yang bingung mulai dari mana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terlalu banyak pertimbangan, tulisan jadi nggak kelar-kelar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking seringnya membedah karya orang lain, kami jadi terlalu sadar soal unsur-unsur teknis yaitu diksi, gaya bahasa, alur, sudut pandang, sampai wacana gender. Akhirnya setiap kali menulis, otak kami otomatis aktif jadi editor. Belum satu paragraf, sudah backspace lima kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis yang dari luar jurusan Sastra Indonesia (dan sastra lain) mungkin langsung menulis dengan lancar, sementara kami masih berdebat dengan diri sendiri: \u201cKalimat ini sudah efisien belum, ya? Ini metaforanya terlalu patriarkis nggak?\u201d Akhirnya tulisan yang harusnya jadi cerpen romantis malah berubah jadi makalah analisis wacana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak sastra hidup di dunia yang penuh kesadaran bahasa. Kami tahu kata bisa jadi alat perlawanan, tapi juga alat penindasan. Jadi setiap menulis, kami seperti sedang membawa bom makna yang bisa meledak ke mana saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesadaran ini memang keren, tapi efek sampingnya: kami jadi takut salah. Takut menyinggung, takut dianggap bias, takut belum cukup tajam. Dan ketakutan ini sering kali membunuh spontanitas menulis.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dunia kerja anak sastra sering nyasar ke arah lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah lulus, banyak dari kami yang bekerja di bidang yang tidak ada hubungannya dengan sastra. Ada yang jadi content writer, admin media sosial, staf HRD, guru les anak SD, design grafis, staf administrasi, atau bahkan yang paling umum adalah pegawai bank. Kami memang diajari membaca dan mengkritisi suatu tulisan, tapi realitas hidup mengajarkan bahwa listrik dan cicilan tidak bisa dibayar dengan puisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama-lama, kemampuan menulis sastra pun bergeser jadi kemampuan menulis copywriting, jadi content writer, reporter, dan lain sebagainya. Tetap menulis, sih, tapi bukan yang dulu kami bayangkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebanyakan baca, tapi jarang berani terbit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak sastra itu pembaca ulung. Tapi justru karena banyak baca, kami tahu betapa bagusnya tulisan orang lain dan itu bikin minder. Kami sadar tulisan sendiri belum selevel Pram, Leila S. Chudori, atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Eka_Kurniawan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Eka Kurniawan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya setiap kali mau kirim naskah, muncul pikiran, \u201cNanti dibilang norak nggak, ya?\u201d Sementara orang di luar sastra yang nggak mikir sejauh itu, malah dengan berani mengirim dan eh malah diterbitkan. Kadang, keberanian memang lebih penting daripada teori naratologi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kamu bertanya kenapa banyak sastrawan lahir bukan dari jurusan Sastra, jawabannya sederhana: kami, anak-anak sastra, terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara menulis yang benar, sementara mereka yang bukan anak sastra sudah lebih dulu menulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan pada akhirnya, dunia menulis tidak peduli kamu lulusan apa. Yang penting ya kamu menulis. Dah, itu aja.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Izza Nadiya Hikma<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sastra-bisa-kerja-di-mana-saja-dan-tersesat-kerja-di-mana-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jurusan Sastra Bisa Kerja di Mana Saja, dan Tersesat Kerja di Mana Saja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teruntuk kalian para pembaca buku, pasti sadar bahwa jarang sekali ada penulis terkenal yang berasal dari lulusan jurusan sastra. Kenapa?<\/p>\n","protected":false},"author":2465,"featured_media":291067,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[25617,30677,447,30678,626],"class_list":["post-369087","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jurusan-sastra","tag-kemampuan-menulis-mahasiswa-sastra","tag-penulis","tag-penulis-besar-di-indonesia","tag-sastra-indonesia"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/369087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2465"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=369087"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/369087\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/291067"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=369087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=369087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=369087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}