{"id":368899,"date":"2025-10-24T14:06:47","date_gmt":"2025-10-24T07:06:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=368899"},"modified":"2025-10-24T14:18:15","modified_gmt":"2025-10-24T07:18:15","slug":"akun-kampus-cantik-dan-kampus-ganteng-adalah-sampah-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/akun-kampus-cantik-dan-kampus-ganteng-adalah-sampah-sosial\/","title":{"rendered":"Akun \u201cKampus Cantik\u201d dan \u201cKampus Ganteng\u201d Adalah Sampah Sosial, Seksisme Jangan Dilanggengkan di Lingkungan Kampus!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini, saya merasa sangat jengkel setiap kali melihat akun media sosial seperti \u201cKampus Cantik\u201d dan \u201cKampus Ganteng\u201d yang marak di berbagai lingkungan kampus. Fenomena ini jelas sudah menggeser fungsi utama kampus yang seharusnya menjadi ruang bagi pencarian ilmu dan pengembangan gagasan, menjadi sekadar panggung untuk menilai kecantikan dan ketampanan seseorang secara dangkal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih mengajak mahasiswa fokus pada bidang akademik serta potensi diri, mereka justru dijebak dalam kompetisi semu berbasis penampilan fisik. Yang lebih memprihatinkan, akun-akun ini punya banyak pengikut. Kolom komentarnya kerap dipenuhi dengan ungkapan seksisme serta stereotip gender yang sangat memalukan. Yang pada gilirannya akan semakin merusak martabat dan kualitas lingkungan akademik itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saya sangat muak sekali. Kalau pemilik akun &#8220;Kampus Cantik&#8221; tersebut kebetulan membaca tulisan ini, saya berharap mereka punya keberanian untuk membalas dengan argumen yang masuk akal. Meski saya ragu kalau mereka bisa membalasnya dengan logis.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kampus seharusnya menjadi ruang yang aman dari segala bentuk seksisme<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi kepikiran satu hal. Pernahkah para admin pemilik akun \u201cKampus Cantik\u201d dan \u201cKampus Ganteng\u201d berpikir bahwa foto-foto yang kalian unggah itu bukan berasal dari keinginan pemiliknya? Saya yakin tak sedikit gambar yang kadung disebarkan justru diambil dan dibagikan oleh teman atau orang lain yang hanya sekadar iseng atau asal comot, tanpa persetujuan dan tanpa memikirkan dampak psikologis bagi yang bersangkutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tindakan ini jelas bukan sekadar pelanggaran privasi. Tetapi juga mencerminkan sikap permisif terhadap tindakan seksisme yang bisa semakin merajalela di lingkungan kampus. Alih-alih menjadi tempat aman untuk memupuk rasa saling menghargai. Akun sampah yang mengatasnamakan kampus ini malah menjadi ruang bagi reproduksi stereotip gender dan pelecehan terselubung berlangsung tanpa hambatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mahasiswa bukan komoditas seksual demi meraih FYP konten sesaat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Munculnya akun &#8220;Kampus Cantik&#8221; ini sering kali tak lebih dari upaya mengejar popularitas instan. Alias viral demi menguasai algoritma FYP. Sayangnya, tren ini berpotensi mengubah mahasiswa menjadi sekadar objek komoditas. Bukan sebagai individu dengan hak dan martabat yang mestinya tetap terjaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berlebihan jika saya bilang bahwa foto-foto yang tersebar di akun-akun tersebut sudah jauh dari kata apresiasi sehat. Mereka sudah berubah menjadi bahan \u201cjual beli\u201d konten demi mengumpulkan like dan komentar sebanyak-banyaknya. Tanpa sedikit pun memikirkan dampak negatif yang mungkin dirasakan oleh orang-orang yang fotonya dipajang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh ironis dan menyedihkan. Nama besar kampus, yang seharusnya menjadi simbol intelektualitas dan penghargaan terhadap keberagaman, justru dipakai sebagai panggung untuk memperkuat pandangan dangkal yang menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pihak kampus mestinya juga nggak tinggal diam dengan fenomena akun &#8220;Kampus Cantik&#8221; dan sejenisnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak bisa dimungkiri, keberadaan akun &#8220;Kampus Cantik&#8221; dan sejenisnya tak lain karena kurangnya regulasi yang jelas dan minimnya edukasi tentang etika digital di lingkungan kampus. Alih-alih memberikan pemahaman tentang dampak buruk stereotip gender dan pelecehan online, pihak kampus tampak pasif. Membiarkan akun-akun tersebut mendapatkan popularitas lewat like dan komentar yang sering kali secara terang-terangan mengandung unsur pelecehan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, institusi kampus seharusnya menjadi benteng pengetahuan dan etika. Bukan justru membiarkan akun-akun tersebut untuk mewadahi budaya seksisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dari itu, kampus dan pihak terkait wajib segera mengambil langkah strategis dan proakti. Mulai dari sosialisasi perlindungan data pribadi, kampanye anti-seksisme, hingga membangun mekanisme pengaduan pelanggaran etika digital. Tanpa upaya yang terstruktur dan berkelanjutan, kampus akan terus kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang intelektual yang aman dan menghormati keberagaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kampus terus membiarkan fenomena ini tanpa langkah nyata, maka jangan heran jika akun-akun seperti \u201cKampus Cantik\u201d dan \u201cKampus Ganteng\u201d menjadi sampah sosial yang dengan mudah merusak nilai-nilai akademik dan memperkuat seksisme di lingkungan pendidikan tinggi. Kampus seharusnya tetap menjadi tempat yang tepat untuk memupuk intelektualitas dan rasa hormat, bukan sarana bagi tindakan yang mengeksploitasi fisik mahasiswanya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/akun-kampus-cantik-dan-fakta-fakta-tidak-cantik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Akun Kampus Cantik dan Fakta-Fakta Tidak Cantik yang Tersembunyi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belakangan ini, saya merasa sangat jengkel setiap kali melihat akun media sosial seperti \u201cKampus Cantik\u201d dan \u201cKampus Ganteng\u201d yang marak di berbagai lingkungan kampus.<\/p>\n","protected":false},"author":2710,"featured_media":369016,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[30660,30661,30662,7047],"class_list":["post-368899","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-akun-kampus-cantik","tag-kekerasan-seksual-di-kampus","tag-pencurian-konten-tanpa-izin","tag-seksisme"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/368899","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2710"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=368899"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/368899\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/369016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=368899"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=368899"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=368899"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}