{"id":368828,"date":"2025-10-25T08:00:37","date_gmt":"2025-10-25T01:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=368828"},"modified":"2025-10-25T16:11:01","modified_gmt":"2025-10-25T09:11:01","slug":"3-hal-yang-membuat-lamongan-semakin-payah-dibanding-tuban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-yang-membuat-lamongan-semakin-payah-dibanding-tuban\/","title":{"rendered":"3 Hal yang Membuat Lamongan Semakin Payah Dibanding Tuban, padahal Dahulu Setara"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada masa ketika Lamongan dan Tuban seperti dua saudara yang sama-sama bersinar di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalur-pantura-rembang-tuban-jalan-paling-indah-se-pantura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jalur Pantura<\/a>. Sama-sama punya laut, sama-sama punya sejarah panjang, dan sama-sama dikenal karena kulinernya yang ngangenin. Tapi, entah kenapa, belakangan ini nama Tuban makin sering muncul di media sosial. Entah karena wisatanya, infrastrukturnya, atau program pemerintahnya yang memang terasa \u201chidup.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Lamongan? Yah, masih sibuk dengan tagline \u201cLamongan Megilan\u201d yang entah megilannya di mana. Berikut tiga hal yang, dengan berat hati, membuat Lamongan makin kalah pamor dibanding Tuban.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Identitas kurang kuat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba tanya siapa pun di luar daerah: Tuban dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Seribu Goa. Identitasnya jelas dan terus diperkuat. Pemerintahnya rajin bikin festival budaya, menjaga situs-situs bersejarah, dan mempromosikan wisata lokal secara berkelanjutan. Bahkan, kalau kamu nyasar ke pedesaan Tuban, bisa jadi nemu plang wisata atau ziarah yang terawat rapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamongan? Punya banyak potensi. Iya, ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wbl-katanya-wisata-andalan-lamongan-kok-jalannya-berlubang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">WBL<\/a>, Maharani Zoo, Makam Sunan Sendang Duwur, hingga pesisir yang cantik. Namun, sayangnya, semua itu seperti berdiri sendiri-sendiri tanpa narasi yang mengikat. Tagline \u201cLamongan Megilan\u201d pun hanya populer di kalangan warga sendiri. Di luar Lamongan, orang lebih kenal \u201cSoto Lamongan\u201d daripada Lamongannya itu sendiri. Ironis, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Tuban punya citra yang konsisten, Lamongan masih seperti remaja bingung, yang pengen tampil keren, tapi belum tahu mau dikenal sebagai apa.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Infrastruktur wisata tertinggal\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hal yang bikin iri warga Lamongan adalah betapa layaknya infrastruktur di Tuban. Jalan-jalan menuju tempat wisata rata-rata sudah mulus, ditambah taman kota yang cantik dan fasilitas publik yang hidup. Pemerintahnya paham bahwa wisata itu nggak cuma soal tempat, tapi juga pengalaman menuju ke sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lamongan? Kadang menuju destinasi wisata lokal saja harus bersiap dengan jalan berlubang dan papan petunjuk yang entah ke mana arahnya. Padahal, Lamongan dilalui jalur Pantura, lokasi yang sangat strategis untuk menarik wisatawan. Tapi, ya itu tadi, tanpa pembenahan infrastruktur dan promosi digital yang serius, potensi besar itu cuma jadi bahan obrolan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/hiburan\/5-warung-kopi-murah-dan-unik-di-jogja-cocok-nugas-bahkan-tidur-siang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warung kopi<\/a>. Tuban punya rest area dan bus sekolah gratis, sementara di Lamongan, hanya bisa menunggu Trans Jatim dari program gubernur.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-yang-membuat-lamongan-semakin-payah-dibanding-tuban\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: #3 Tuban mulai &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#3 Tuban mulai jadi magnet industri, Lamongan masih sibuk bermimpi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pariwisata, Tuban juga tancap gas di sektor industri. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jenu,_Tuban\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kawasan Jenu<\/a> dan sekitarnya berkembang pesat sebagai zona industri dan energi. Investasi datang, lapangan kerja terbuka, ekonomi bergerak. Ini bukan kebetulan, tapi hasil dari arah kebijakan yang jelas dan dukungan infrastruktur yang memadai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamongan sebenarnya punya modal serupa. Ada pelabuhan, lahan luas, dan posisi strategis. Tapi, sampai sekarang belum terlihat ada upaya serius membangun zona industri terpadu. Usaha-usaha kecil tumbuh, tapi tanpa arah yang jelas. Investor pun lebih memilih daerah lain yang siap secara fasilitas dan regulasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, pada akhirnya, kita memang harus mengakui kalau Tuban sudah punya arah, sedangkan Lamongan masih sibuk menyusun rencana, tanpa tahu kapan mulai dijalankan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saatnya Lamongan menyusun strategi jangka panjang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamongan bukan daerah yang kurang potensi. Justru, ia punya banyak hal yang bisa dijual: kuliner khas, akses strategis, hingga sejarah panjang yang tak kalah keren dari Tuban. Tapi, potensi tanpa strategi hanya akan jadi cerita nostalgia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saatnya Lamongan berhenti hidup dari gimik dan mulai membangun arah yang jelas. Jangan hanya bangga dengan WBL dan soto, tapi juga mulai merawat desa wisata, memperbaiki infrastruktur, dan menghidupkan ekonomi lokal dengan program nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena kalau terus begini, sebentar lagi orang lewat perbatasan Tuban\u2013Lamongan bakal tahu mereka sudah ganti kabupaten bukan karena papan penunjuk, tapi karena jalan yang tiba-tiba rusak dan suasana yang mendadak sepi. Dan, itulah tanda paling nyata bahwa pamor Lamongan benar-benar mulai tenggelam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/plaza-lamongan-adalah-pusat-perbelanjaan-paling-aneh\/\"><b><i>Plaza Lamongan Adalah Pusat Perbelanjaan Paling Aneh: Dianggap Mal kok Nggak Layak, Dianggap Pasar juga Nggak Pas.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lamongan semakin tertinggal dari Tuban karena Lamongan lambat membangun identitas, infrastruktur, dan industri dibanding Tuban.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":369037,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2250,29037,5622,10749],"class_list":["post-368828","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-lamongan","tag-lamongan-megilan","tag-pantura","tag-tuban"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/368828","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=368828"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/368828\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/369037"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=368828"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=368828"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=368828"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}