{"id":367657,"date":"2025-10-18T09:00:02","date_gmt":"2025-10-18T02:00:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=367657"},"modified":"2025-10-18T07:54:18","modified_gmt":"2025-10-18T00:54:18","slug":"bandeng-presto-makanan-khas-milik-pati-bukan-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandeng-presto-makanan-khas-milik-pati-bukan-semarang\/","title":{"rendered":"Bandeng Presto Makanan Khas Milik Pati, Bukan Semarang"},"content":{"rendered":"<p><em>Jangan l<span style=\"font-weight: 400;\">upakan Pati kalau bicara soal bandeng presto. Makanan ini aslinya bukan dari Semarang, kok.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang nggak kenal sama olahan bandeng presto? Makanan satu ini sangat terkenal dan jadi semacam oleh-oleh wajib ketika berada di Semarang. Ketika melewati Jalan Pandanaran, terlihat berjejeran toko oleh-oleh yang di dalamnya pasti menjual bandeng presto. Lantaran Jalan Pandanaran adalah jalur utama dan strategis, akhirnya orang-orang jadi mengenal makanan ini ketika melewati jalan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu kemudian melahirkan anggapan kalau hubungan Semarang dan bandeng presto ibarat bapak dan anak. Makanan ini pun menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-oleh-oleh-semarang-yang-jarang-dilirik-padahal-khas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">oleh-oleh<\/a> wajib bagi siapa pun yang mampir ke Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi ada yang keliru soal anggapan itu. Sebab secara fakta sejarah dan geografis, bandeng presto adalah makanan khas yang kampung halamannya dari Pati, bukan Semarang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Asal-usul bandeng presto<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini, sebenarnya, bandeng presto pertama kali diperkenalkan atau diolah oleh seorang perempuan asal Juwana, Pati, bernama Hanna Budimulya. Karena <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-yang-bilang-makan-ikan-ribet-adalah-golongan-manusia-yang-layak-ditenggelamkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">duri ikan bandeng banyak dan bikin ribet ketika dimakan<\/a>, beliau punya ide untuk melunakkan duri bandeng menggunakan panci presto. Konon panci presto ini adalah barang hadiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kenapa kok beliau bisa ngide mengolah bandeng, kan ada ikan yang lain? Alasannya, secara geografis, ikan bandeng adalah ikan yang mudah ditemukan di sana. Ikan bandeng jadi ikan yang akrab disantap oleh penduduk setempat sehingga banyak yang menjualnya. Memangnya istilah Bandeng Juwana itu alasannya apa kalau bukan karena daerah ini jadi salah satu sentra utama ikan Juwana di pantura?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bermula dari eksperimen, akhirnya olahan bandeng presto ini pun meluas hingga terkenal seantero Juwana, bahkan Pati itu sendiri. Industrinya pun tercipta dan berkembang. Mulai dari produksinya yang skala rumah tangga, hingga yang berskala besar di tingkat lokal dengan merek yang mulai mengudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini membuat Juwana tidak hanya sebagai tempat lahirnya bandeng presto, tetapi juga basis produksi nyata. Setidaknya proses produksi awalnya di daerah Juwana ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bukti bandeng presto dari Juwana Pati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dilihat dari angka dan data, menurut BPS Provinsi Jawa Tengah, <a href=\"https:\/\/pindah.jatengprov.go.id\/inovasi\/detail\/801\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">produksi bandeng<\/a> Kabupaten Pati pada 2020 tercatat 28.278.107 kg dengan nilai produksi Rp564.569.002.546. Itu menjadi yang tertinggi di Jateng.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian dari sisi skala usaha, menurut Kepala Seksi Bina Mutu dan Usaha Perikanan DKP Kabupaten Pati, Sriwati, pada tahun yang sama, setidaknya ada 40 Usaha Pengolahan Ikan (UPI) di Kecamatan Juwana saja. Sebagian besar ditemukan di Desa Dukutalit dengan kapasitas produksi bandeng presto 10 kg sampai 30 kg per hari, 30 kg sampai 50 kg per hari, dan lebih dari 50 kg per hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti lain kalau makanan ini berasal dari Juwana Pati adalah pengakuan resmi atau branding daerah yang menjadikan bandeng sebagai ikon daerah. Ada tugu bandeng yang didirikan di Pati. Semua ini tentu menggambarkan bahwa bandeng presto adalah makanan yang memang berasal dari Pati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi karena rasanya yang enak, makanan ini kemudian dikenal oleh warga daerah lainnya. Terutama yang berada di jalur pantura mulai dari Semarang, Demak, Kudus, hingga Jepara.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi identik dengan oleh-oleh Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu bagaimana ceritanya bisa diidentikkan dengan Semarang? Ini bermula dari sang penemu bandeng presto, Hanna Budimulya, yang punya toko atau outlet oleh-oleh di Jalan Pandanaran. Lantaran punya toko di daerah situ, beliau pun memasarkan bandengnya di sana. Sebab, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Pandanaran ini jalur yang sangat strategis karena berada di pusat Kota Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang, Pandanaran adalah kawasan oleh-oleh yang sering disinggahi wisatawan. Sehingga makanan atau oleh-oleh khas dari luar kota seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-lumpia-semarang-yang-bikin-kecewa-wisatawan-jangan-dibeli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lumpia<\/a> dan wingko yang dijajakan di sana dianggap wisatawan sebagai makanan atau oleh-oleh khas Semarang. Tak terkecuali bandeng presto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian secara logistik, banyak produsen di Juwana memang memasok bandeng presto ke pengecer besar di kota (Semarang sebagai hub). Produsen skala rumah tangga mengirim ke toko-toko di pusat kota. Nah, toko-toko itulah yang menjual (dan mem-branding) produk untuk pasar wisata. Jadi asal produksi bisa \u201ctersembunyi\u201d di belakang titik penjualan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, banyak merek bandeng presto menempatkan alamat, gerai, dan promosi utama mereka di Semarang. Tujuannya ya biar lebih mudah ditemukan oleh para pelanggan lain dengan skala yang lebih luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhananya, bila sebuah produk yang kemasannya bertuliskan alamat Semarang, pembeli jadi langsung mengasosiasikan asalnya ya dari Semarang. Bukan dari asal pembuatannya yang dari Juwana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan lupakan Pati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sudah, nggak apa-apa, toh masyarakat Pati nggak terlalu mempersoalkan bandeng presto ini. Lagi pula kasihan juga Semarang, kota besar yang statusnya ibu kota provinsi ini nggak punya banyak oleh-oleh khas yang orisinal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau diibaratkan, nih, bandeng presto itu seperti orang yang berasal dari Pati, tetapi merantau dan hidup di Semarang. Paling mudah memang menyebutkan tempat tinggal yang kebanyakan orang familier, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari adil pada sejarah. Semarang boleh saja jadi panggung yang mempopulerkan, tapi soal daerah asal, ya tetap jangan lupakan Pati. Sebab tanpa dapur pesisir itu, tak ada yang bisa dibungkus rapat buat oleh-oleh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/dosa-penjual-bandeng-presto-yang-bikin-pembeli-kapok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> 3 Dosa Penjual Bandeng Presto yang Bikin Pembeli Kapok dan Jadi Lebih Waspada Saat Belanja<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> <i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandeng presto sebenarnya berasal dari Pati. Akan tetapi makanan satu ini malah identik jadi oleh-oleh khas Semarang.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":367658,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[15985,14547,17064,30532,8557,30531,24971,1245,4652],"class_list":["post-367657","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bandeng-juwana","tag-bandeng-presto","tag-juwana","tag-juwana-pati","tag-kabupaten-pati","tag-kuliner-pati","tag-oleh-oleh-semarang","tag-pati","tag-semarang"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/367657","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=367657"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/367657\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/367658"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=367657"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=367657"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=367657"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}