{"id":367251,"date":"2025-10-15T12:02:39","date_gmt":"2025-10-15T05:02:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=367251"},"modified":"2025-10-15T12:02:39","modified_gmt":"2025-10-15T05:02:39","slug":"hidup-di-desa-nggak-seindah-bayangan-banyak-iuran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hidup-di-desa-nggak-seindah-bayangan-banyak-iuran\/","title":{"rendered":"Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup di desa sering dibayangkan sebagai hidup yang tenang, atau bahasa gaulnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/magelang-bukan-tempat-yang-cocok-untuk-slow-living\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">slow living<\/a>. U<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dara bersih, tetangga ramah, suara ayam berkokok tiap pagi, dan harga kebutuhan yang relatif murah, setidaknya itu yang ada di pikiran orang sehabis nonton konten tentang pedesaan di Instagram. Tapi, semua gambaran indah itu hanya berlaku kalau kamu cuma \u201chidup\u201d seminggu di desa, atau lebih tepatnya liburan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu kamu menetap di desa, kamu bakal sadar kalau pengeluaranmu bakal membengkak melebihi anggaran buat kebutuhan pribadi. Betapa banyaknya sumbangan \u201cwajib\u201d di sana.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Banyaknya sumbangan buat hajat rutin di desa<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap minggu, setiap bulan, atau bahkan setiap kali ada orang sakit, orang meninggal, tahlilan, orang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ngunduh <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mantu, sampai acara RT, dapat dipastikan akan ada iuran. Beberapa iuran sih terhitung kecil, paling cuma Rp5 ribu sampai Rp20 ribu. Tapi kalau ditotal, lama-lama bisa juga bikin dompet megap-megap. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau kamu tinggal di desa yang tingkat \u201cguyubnya\u201d tinggi. Makin banyak acara, makin banyak iuran. Makin boncos dompetmu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, iuran ini sebenarnya sumbangan sukarela, tapi \u201cwajib\u201d. Gimana tuh? Maksudnya, kalau kamu nggak ikut iuran, bukan berarti kamu kena denda. Bukan berarti kamu bakal dapat sanksi formal kayak kita lagi melanggar aturan. Tapi siap-siap aja namamu bakalan sering disebut dalam rumpi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-pernikahan-di-desa-yang-penuh-omongan-tetangga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tetangga.<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimatnya klasik, \u201cKok bapak\/ibu itu nggak nyumbang ya?\u201d. Awalnya sih cuma mempertanyakan, tapi pasti bakal merembet ke mana-mana. Dan dari situ gosip berjalan lebih cepat dari algoritma Instagram.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Bukan perkara jumlah uang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya bukan di jumlah uangnya. Orang pasti ikhlas kok nyumbang buat tetangga yang lagi susah, lagi punya hajat, atau buat acara kampung. Tapi lama-lama budaya \u201cselalu ada iuran\u201d ini jadi beban sosial tersendiri. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang sebenarnya sedang susah pun kadang tetap maksa nyumbang karena takut dibilang pelit, sombong, atau nggak mau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ngrewangi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">atau ya itu tadi, takut jadi bahan gosip tetangga. Maka lahir <a href=\"https:\/\/badanbahasa.kemendikdasmen.go.id\/artikel-detail\/3665\/budaya-ewuh-pekewuh\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">budaya pekewuh<\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">alias nggak enakan yang sebenarnya bagus kalau diterapin sebagai etika hidup, tapi seakan malah jadi budaya wajib orang desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau dipikir, niat awalnya kan gotong royong. Tapi kalau gotong royong ini sudah berubah jadi paksaan, masih pantas nggak disebut gotong royong?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Rasa kebersamaan malah jadi keterpaksaan di desa<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, orang desa memang sangat menjunjung kebersamaan. Kalau ada orang meninggal, semua turun tangan. Kalau ada orang nikah, ramai-ramai bantu. Dan itu indah. Nggak semua tempat punya solidaritas seperti itu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi entah sejak kapan, rasa solidaritas itu berubah jadi kewajiban sosial yang bikin banyak orang justru tertekan. Misal, orang yang lagi punya urusan wajibnya sendiri, sering kali harus dikalahkan demi budaya bantu-bantu ini. Izin sih pasti diperbolehkan, tapi sekali lagi, dapat dipastikan namamu bakal jadi bahan gosip walau kamu sudah izin berhalangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anehnya lagi, orang yang nggak ikut iuran sering dianggap \u201cnggak mau hidup bermasyarakat\u201d. Padahal alasannya itu simpel: memang lagi nggak punya uang. Tapi alasan itu jarang dianggap sah. Di desa, citra diri lebih penting dari kondisi dompet yang udah sekarat.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Contoh nyata biar nggak dibilang asbun<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ngomong gini bukanlah tanpa dasar. Selain saya memang mengalami sendiri karena hidup di desa, ada contoh lain dari saudara saya sendiri, yang tinggal di sebuah desa di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jawa-tengah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Tengah<\/a>. Dalam satu bulan, bisa ada 3-4 sumbangan \u201cwajib\u201d ini. Entah buat nyumbang orang punya hajat nikah, orang meninggal, atau pengajian desa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau buat pengajian, malah dobel pengeluarannya. Sudahlah harus nyumbang barang berupa nasi box, haruslah iuran uang pula. Pernah suatu waktu saudara saya ini mencoba nggak iuran karena memang lagi nggak punya uang. Hasilnya bisa ditebak. Saudara saya jadi bahan gunjingan di masjid selama satu minggu penuh. Bahkan masih diungkit-ungkit dalam beberapa bulan kemudian. Ironis bukan? Masjid harusnya jadi tempat tenang malah jadi tempat buat update gosip.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ya begitulah. Hidup di desa memang menyenangkan. Itu selama kamu siap dengan segala bentuk iuran yang datang tiba-tiba, mulai dari iuran tahlilan sampai sumbangan acara mantenan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nggak, siap-siap aja namamu masuk dalam majalah gosip desa edisi berikutnya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Nur Azza<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hidup-di-desa-kadang-seperti-di-neraka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk<\/a>.<br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><b><\/b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidup di desa mungkin enak buat liburan. Kalau menetap, duh, siap-siap saja dengan banyaknya iuran yang bikin megap-megap.<\/p>\n","protected":false},"author":3103,"featured_media":367296,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[322,3264,30479,30480,28411,28323],"class_list":["post-367251","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-desa","tag-hidup-di-desa","tag-iuran","tag-iuran-warga","tag-risiko-tinggal-di-desa","tag-sumbangan-hajatan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/367251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3103"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=367251"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/367251\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/367296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=367251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=367251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=367251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}