{"id":3666,"date":"2019-06-13T15:00:45","date_gmt":"2019-06-13T08:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3666"},"modified":"2022-01-17T13:34:25","modified_gmt":"2022-01-17T06:34:25","slug":"menyebalkannya-orang-orang-suka-maksa-di-terminal-purabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyebalkannya-orang-orang-suka-maksa-di-terminal-purabaya\/","title":{"rendered":"Menyebalkannya Orang-Orang Suka Maksa di Terminal Purabaya"},"content":{"rendered":"<p>Dulu pas perjalanan ke Jember, seorang kondektur bis Mira mewanti-wanti saya sepanjang perjalanan dari Yogyakarta ke Surabaya. Katanya\u2014nanti setibanya di Terminal Purabaya, langsung cari saja bis arah ke Jember\u2014tidak perlu peduli dengan orang-orang sekitar. Jangan tergoda dengan calo atau porter\u2014semua hanya akan merepotkan. Hati-hati\u2014copet pun mengincar dan siap menerkam.<\/p>\n<p>Waktu itu saya mengikuti nasihat kondektur tersebut\u2014peduli setan dengan sekitar. Saya langsung masuk ke dalam bis selanjutnya\u2014di mana seorang kernek meneriakkan nama Jember dan kota-kota lainnya. Setelah duduk dan bis berangkat, saya pun lega. Soalnya\u2014selama jalan kaki dari bis Mira ke bis selanjutnya\u2014tidak terhitung berapa jumlah orang yang berteriak-teriak maksa menawarkan jasa.<\/p>\n<p>Kemarin saya ada janji di Surabaya. Rencana mau naik kereta saja yang lebih menyenangkan orang-orang di dalamnya. Eh, kok tiba-tiba harganya melambung sekali. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, saya naik bis lagi\u2014<a href=\"https:\/\/mojok.co\/mjb\/ulasan\/otomojok\/catatan-perjalanan-bus-sugeng-rahayu-bandung-yogyakarta\/\">Sugeng Rahayu yang terkenal kesetanan<\/a> itu.<\/p>\n<p>Saya sengaja mengambil jam pemberangkatan pukul empat sore\u2014dengan begitu saya akan tiba di Surabaya malam hari. Harapan awalnya sih akan sedikit berkurang suara-suara orang suka maksa di Terminal Purabaya.<\/p>\n<p>Saya pun sudah mempersiapkan diri mencari referensi penginapan yang dekat dengan terminal. Rencananya\u2014setibanya di sana\u2014saya langsung memesan ojek <em>online<\/em> untuk mengantarkan saya ke penginapan. Setelahnya saya bisa istirahat dengan nikmat. Keesokan harinya, saya bisa memenuhi janji ketemu dengan khidmat.<\/p>\n<p>Rencana hanya tinggal rencana. Malam itu untuk pertama kalinya saya bertahan di Terminal Purabaya cukup lama. Saya tiba pukul sebelas malam. Lalu menemui kekasih saya yang sudah lama menunggu\u2014katanya sudah tiga jam dia menunggu di tempat itu. Rasanya tidak enak hati\u2014apalagi yang menanti adalah kekasih sendiri. Tapi saya ingat betul perkataan seorang kawan\u2014Shodiq Sudarti namanya\u2014bahwa sudah biasa bis\u2014aslinya kereta\u2014terlambat, yang tidak boleh terlambat itu pernyataan cinta.<\/p>\n<p>Untungnya pernyataan cinta sudah\u2014meminjam Faisal Oddang\u2014tiba sebelum berangkat. Bertahannya kekasih saya dalam menunggu, bisa jadi adalah implementasi kesabaran hubungan <em>adoh-adohan\u2014<\/em>LDR. Bukankah pertemuan semacam ini adalah manifestasi kerinduan kami?<\/p>\n<p>Bertahan cukup lama di Terminal Purabaya adalah sikap siap untuk terus diberondong pertanyaan dan pemaksaan. Kekasih saya cerita kalau selama menunggu, ia banyak melihat fenomena itu. Bahkan ketika dia mencari tempat duduk saya\u2014di warung kopi dekat musala\u2014banyak yang tiba-tiba menanyakan mau ke mana? Pas ditanggapi kekasih saya, kok malah lancang nyuruh duduk di sampingnya. Untung kekasih saya mampu mengendus modus-modus <em>ra mutu<\/em> seperti itu.<\/p>\n<p>Kami sudah bertemu. Waktu itu, setelah menghabiskan secangkir Milo di sebuah kafe\u2014tempat kekasih saya menunggu\u2014kami memesan taksi <em>online<\/em>. Kami berjalan keluar terminal untuk menemui sopirnya. Di pinggir jalan\u2014tempat mobil-mobil terparkir menunggu pelanggan\u2014dua orang bapak-bapak menegur kami. Secara beruntun pertanyaan disampaikan dengan sedikit memaksa. Mereka mengatasnamakan taksi <em>offline<\/em> dan siap mengantar kami ke mana saja.<\/p>\n<p>Saya menjawab kalau sudah memesan taksi <em>online<\/em>. Eh, bapaknya malah menyarankan saya untuk membatalkannya saja\u2014katanya di situ tidak ada. Saya paham maksudnya\u2014memang di daerah seperti itu tidak boleh ada taksi <em>online<\/em>. Tapi sopirnya bilang kalau menunggu di parkiran mobil dalam terminal.<\/p>\n<p>Setelah menemukan taksi <em>online<\/em> yang dipesan, kami merasa cukup aman. Sopir taksi kemudian angkat bicara. Katanya memang seperti itu tingkah laku sopir-sopir lainnya\u2014saling sikut dan rebutan penumpang seenaknya. Bahkan sopirnya merasa takut kalau-kalau plat nomornya dicatat dan ditandai. Bisa-bisa suatu saat nanti\u2014tanpa diduga-duga\u2014ban mobilnya <em>dikempesi<\/em> oleh mereka. Astaga\u2014sampai segitunya?<\/p>\n<p>Tidak hanya sampai di situ. Siang harinya, waktu kami selesai makan bersama, kami memutuskan pergi ke suatu tempat. Kami kembali memesan taksi <em>online<\/em> andalan\u2014sudah dapat dan kami diminta menunggu. Tapi sekali lagi, kami harus bersabar karena Sidoarjo di siang hari macetnya seperti angan-anganmu bersamanya\u2014panjang sekali.<\/p>\n<p>Eh kok ya, tiba-tiba ada bapak-bapak mendekat\u2014seorang tukang ojek <em>offline<\/em>. Lagaknya langsung sok akrab\u2014dia bertanya kepada saya, &#8220;Menunggu siapa?&#8221; Saya jawab dong, yha, kalau nunggu dia taxi yang akan segera tiba. Bapaknya nggak percaya dan ingin memastikan dengan melihat gawai saya. Kok ada ya, bapak sekepo dia?<\/p>\n<p>Setelah melihatnya, si Bapak langsung melancarkan modus-modusnya\u2014dia melakukan hasutan-hasutan mulai dari taksi yang saya pesan bakal lama datang, kemacetan yang tiada hilang, tarif yang ketinggian, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Ini bapak-bapak tukang ojek <em>offline<\/em> atau <em>sales<\/em> asuransi sih? Biasanya kan <em>sales-sales<\/em> rapi yang menawarkan asuransi bermodalkan ketakutan-ketakutan seperti ini?<\/p>\n<p>Saya dan kekasih menjawabnya dengan hati-hati. Kami katakan bahwa kami akan sabar menanti. Lagipula\u2014anehnya\u2014bapak ini menawarkan dengan harga yang lebih tinggi. Situ mau bersaing apa mau bikin pusing? Kami menolak sehalus mungkin. Tapi bapaknya masih saja berusaha sebisanya, agar kami masuk ke dalam perangkapnya.<\/p>\n<p>Untungnya taksi kami segera datang. Pas kami mau mengangkat bawaan, bapak-bapak ini dengan lancang membawa dan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/bagasi-berbayar-antara-kepentingan-maskapai-dan-konsumen-de5m\">memasukkannya ke dalam bagasi<\/a> taksi kami. Bagus sih\u2014tapi kan kami masih bisa melakukannya sendiri. Kalau gratis <em>mah<\/em> nggak papa\u2014lah ini harus bayar dengan terpaksa. Ketika sudah saya beri\u2014si bapak ini masih minta lagi. <em>Sialan betul!<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang kondektur bis Mira mewanti-wanti saya. Katanya\u2014nanti setibanya di Terminal Purabaya, langsung cari saja bis arah ke Jember<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":3721,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[941,944,943,940,942],"class_list":["post-3666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-naik-bis","tag-sidoarjo","tag-sugeng-rahayu","tag-terminal-purabaya","tag-yogyakarta-surabaya"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3666"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3666\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}