{"id":364887,"date":"2025-10-15T10:20:31","date_gmt":"2025-10-15T03:20:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=364887"},"modified":"2026-04-15T17:45:40","modified_gmt":"2026-04-15T10:45:40","slug":"jogja-bikin-betah-mau-sukses-kerja-ke-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-bikin-betah-mau-sukses-kerja-ke-semarang\/","title":{"rendered":"Jogja Bikin Betah, tapi Kalau Mau Jadi Pekerja yang Tahan Banting dan Sukses, Mending Kerja di Semarang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir, besar, dan dididik di Jogja. Kota yang katanya istimewa dan saya setuju sepenuh hati. Soalnya, di Jogja, semua terasa pelan tapi pasti. Bahkan kalau kita jalan kaki di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-jogja-malas-ke-malioboro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">trotoar Malioboro<\/a>, rasanya seperti hidup punya mode \u201cslow motion\u201d tapi nggak ngebosenin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kalanya, pindah kota bukan cuma pindah tempat tinggal. Pindah kota berarti pindah banyak hal. Mulai dari pindah suasana, nada bicara, dan kadang, frekuensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi setelah lulus kuliah, takdir membawa saya ke Semarang untuk kerja. Saya pikir, \u201cAh, sama-sama Jawa Tengah, pasti nggak jauh beda.\u201d Ternyata saya salah besar. Bedanya seperti antara teh panas dan es dawet: sama-sama enak, tapi efeknya ke tubuh beda jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai buruh pabrik, saya sudah biasa berhadapan dengan panas dari mesin produksi sampai hasil kerja yang over spec. Tapi panas di Semarang ini beda, bukan panas biasa. Ini panas yang bisa membuat kamu sadar dosa hanya dengan berdiri lima menit di bawah terik matahari pukul tiga sore.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di Jogja, jam segitu masih bisa nongkrong di angkringan, menyeruput kopi jos, sambil ngerasain angin sore yang manis. Di Semarang? Baru niat keluar, keringat sudah meeting duluan di punggung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ritme hidup Jogja dan Semarang yang begitu berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup di Jogja itu kayak nonton film indie. Tenang, kadang absurd, tapi penuh makna. Sedangkan di Semarang, ritmenya kayak lagu dangdut remix di hajatan: cepat, padat, dan bikin jantung ikut berjoget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kantor, misalnya, semuanya serba \u201ccepat-cepat.\u201d Data harus masuk sekarang, laporan harus kelar sore ini, revisi harus diserahkan kemarin. Di Jogja, saya bisa ngetik sambil nyeruput teh dan mikir \u201cHidup nggak usah buru-buru, toh rezeki nggak ke mana.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Semarang, belum sempat mikir gitu, sudah ditegur atasan, \u201cLaporan QC mana, Mbak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi sadar, ternyata bukan cuma udara yang panas di Semarang. Suasana kerjanya juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang-orangnya juga punya ciri sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya harus akui, orang Semarang itu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-jelas-lebih-baik-ketimbang-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">to the point<\/a>. Kalau mereka nggak suka, ya dibilang. Kalau salah, ya ditegur langsung. Efisien, tapi kadang bikin jantung olahraga mendadak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan orang Jogja yang terkenal halus. Kalau marah, nadanya tetap sopan, bahkan kadang nggak sadar kalau sebenarnya sedang dimarahi. Misalnya:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggih, mungkin ke depannya bisa lebih hati-hati, nggih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal maksudnya: \u201cKamu ngulang lagi, tak jitak!\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Biaya dan rasa hidup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal biaya hidup, Jogja jelas lebih murah. Di sana, sepiring nasi kucing tiga ribu bisa bikin bahagia. Di Semarang, harga segitu baru dapat senyum dari penjualnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi lebih dari sekadar murah, Jogja punya rasa hidup yang hangat. Mungkin karena banyak mahasiswa, pedagang, dan warga yang terbiasa berbagi ruang dan waktu. Semua terasa dekat, akrab, dan manusiawi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di Semarang, semua terasa fungsional. Orang-orangnya sibuk, waktunya mahal. Saya nggak menyalahkan siapa-siapa. Mungkin memang begitulah wajah kota industri. Tapi kadang saya kangen suasana di mana tukang parkir masih bisa bercanda dan ibu warung masih sempat nanyain, \u201cLho, kok kelihatan capek, Mbak?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja bikin betah, Semarang bikin tahan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, saya nggak menyesal kerja di Semarang. Kota ini mengajarkan saya hal-hal yang nggak akan saya dapat di Jogja. Di sini, saya dapat latihan disiplin, efisiensi, dan kemampuan menahan panas luar biasa tanpa meleleh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Jogja bikin saya betah, Semarang bikin saya tahan. Dua-duanya penting. Karena hidup, ternyata, butuh kenyamanan sekaligus ketangguhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tetap saja, tiap kali cuti dan pulang, begitu bus masuk <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">batas kota<\/a> dan saya lihat tulisan \u201cSelamat Datang di Kota Yogyakarta\u201d, hati saya langsung bilang:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh, pulang juga. Akhirnya bisa keringetan karena makan sambal, bukan karena cuaca.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ida Rahayu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-lumrah-di-jogja-tapi-tidak-biasa-di-semarang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hal-hal yang Lumrah di Jogja, tapi Tidak Biasa di Semarang<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja memang bikin betah. Namun, hidup butuh keseimbangan dan ketangguhan, maka saya memilih kerja di Semarang sampai sekarang.<\/p>\n","protected":false},"author":3109,"featured_media":367270,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1","show_comment_section":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9229,30470,115,30471,446,4652,19835],"class_list":["post-364887","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-buruh-pabrik","tag-cuaca-semarang","tag-jogja","tag-karier-di-semarang","tag-malioboro","tag-semarang","tag-semarang-panas"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/364887","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3109"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=364887"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/364887\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":399143,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/364887\/revisions\/399143"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/367270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=364887"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=364887"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=364887"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}