{"id":364187,"date":"2025-10-12T12:44:12","date_gmt":"2025-10-12T05:44:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=364187"},"modified":"2025-10-12T12:44:12","modified_gmt":"2025-10-12T05:44:12","slug":"lupakan-reputasi-uin-sebagai-kampus-murah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lupakan-reputasi-uin-sebagai-kampus-murah\/","title":{"rendered":"Lupakan Reputasi UIN sebagai Kampus Murah, Hal Itu Nggak Berlaku di Zaman Sekarang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">UIN sebagai kampus negeri sering dianggap sebagai pilihan paling realistis bagi siapa pun yang ingin kuliah di kampus negeri tapi tetap terjangkau. Anggapan yang sebenarnya memuat unsur ironi. Sebab kampus umum negeri dalam beberapa dekade terakhir makin mahal, terlebih statusnya yang menjadi PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Status tersebut membuat perguruan tinggi negeri diberi otonomi penuh dalam mengelola akademik, keuangan, dan sumber dayanya. Sehingga subsidi dana pendidikan sedikit demi sedikit dikurangi dan membuat kampus negeri umum jadi makin kapitalis karena butuh dana untuk pengembangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi ini membuat kebanyakan orang menjadikan UIN sebagai alternatif. Apalagi kalau sudah nggak lulus jalur seleksi prestasi dan seleksi tertulis, maka UIN akan jadi pilihan utama. Balik lagi, kalau mau ikut jalur mandiri di kampus umum negeri, biaya SPI-nya bikin merinding.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, seiring berjalannya waktu, anggapan tersebut agaknya sudah nggak relevan saat ini. Alasannya karena selama setidaknya 10-15 tahun terakhir, terjadi banyak perubahan dan dinamika di kelembagaan kampus UIN. Sehingga stigma \u201ckuliah di UIN karena murah\u201d nggak bisa dijadikan pedoman lagi.<\/span><\/p>\n<h2><strong>UIN menuju PTN BH <\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perkembangan zaman, banyak sekali kampus UIN yang statusnya mulai mengarah pada <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Perguruan_Tinggi_Negeri_Badan_Hukum\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PTN BH<\/a>. Mungkin belum sepenuhnya, tapi persiapannya sudah dimulai dalam beberapa tahun belakangan ini. Kampus mulai diarahkan melakukan pengelolaan pendidikan dalam kacamata bisnis. Dampaknya, banyak kampus UIN yang UKT-nya meningkat pesat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalihnya untuk mendorong peningkatan fasilitas, peremajaan dan pembangunan gedung baru, dan pengembangan prodi baru. Meski kebanyakan gedung UIN itu dibangun dengan skema bantuan ringan (pembiayaan berbasis akad Islam biasanya menggunakan Sukuk) dari IsDB (Islamic Development Bank), tapi tetap aja, bangunan seperti gedung tinggi, smart classroom, laboratorium sains dan teknologi, klinik, rumah sakit pendidikan, bahkan asrama dan auditorium megah, operasionalnya tetap berbiaya tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsekuensi awalnya, di beberapa Kampus UIN, gap antar golongan UKT yang dibayarkan itu bisa sangat jauh. Memang untuk golongan 1, UKTnya hanya di kisaran ratusan ribu. Tapi yang mendapatkannya sangat minim. Rata-rata mahasiswa mendapatkan golongan di kisaran 3-6 yang nominalnya sudah di atas UMR Jawa Tengah. Ambil contoh jurusan psikolog di salah satu kampus UIN di Jawa, itu dipatok 9 jutaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu baru perkara UKT, belum lagi fasilitas lainnya yang sudah serba bayar. Beberapa gedung, ketika ingin digunakan mahasiswa nya sendiri. Yah tetap harus bayar. Bahkan, salah satu pimpinan kampus UIN menyebutkan kalau mereka butuh menguatkan orientasi bisnisnya untuk menekan beban biaya. Artinya sudah anggak kapitalis nih.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Fakultas &#8220;mahal&#8221; mulai didirikan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain fasilitas ruangan yang berbayar, ada beberapa kampus yang membebankan mahasiswa biaya tambahan, misalnya biaya mengikuti program Mahad (mahasiswa dipondokkan selama beberapa bulan). Nah biayanya itu hanya mencakup asrama, kebutuhan makan ada biayanya sendiri. Kan guendeng. Belum lagi biaya wisuda, KKL (kuliah Kerja Lapangan\/study tour) tes IMKA dan Toefl, dan lain sebagainya. Semuanya serba bayar. Bahkan, sempat ada wacana, sebuah kampus UIN di Jawa, akan memberlakukan tarif parkir, loh. Gokil ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu masih berkaitan dengan kampus secara langsung. Biaya lain di luar itu datang juga dari berbagai macam iuran-iuran saat mengikuti ormawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain hal-hal di dalam kampus, aspek lain yang membuat UIN sudah nggak semurah dulu karena statusnya yang bukan hanya sebagai kampus agama. Kenapa kok bisa gitu? Jadi mereka sudah menargetkan mahasiswa yang latar belakang ekonominya menengah atas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara menariknya ya dengan menghadirkan fakultas yang disukai orang kaya. Sebut aja kayak kedokteran, teknik informatika, manajemen, hukum, ekonomi, bahkan program internasional. Isi mahasiswanya pun nggak sedikit yang anak orang kaya dan dari kota besar dengan gaya hidup yang begitu hedon. Apa yang terjadi kalau sebuah daerah diisi oleh kalangan menengah atas apalagi yang hedon? Yah secara nggak langsung akan mendorong peningkatan biaya hidup, sehingga membuat pengeluaran pun makin besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu membentuk UIN jadi kampus yang nggak \u201cmurah\u201d lagi, baik dari sisi biaya pendidikan maupun biaya hidup ketika menjadi mahasiswa.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Semua tinggal nostalgia masa lalu<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pada akhirnya, UIN sebagai kampus murah itu tinggal nostalgia masa lalu. Kenyataannya mereka mulai mengubah diri mereka jadi kampus yang terkesan elite, dengan dalih mendorong kemajuan akademik. Yah sebenarnya sih nggak apa-apa yah. Asalkan fasilitas yang diberikan setimpal. Dosennya berkualitas, akses bacaan jurnal berkualitas pun mudah. Nggak masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau hanya sekadar FOMO biar dianggap ikutan terlihat elit hanya dari gedung-gedung yang modern, maka UIN hanya memperpanjang situasi di mana pendidikan adalah ladang baru kapilitasme di negeri ini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/uin-kampus-yang-tetap-dianggap-surga-oleh-masyarakat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UIN, Kampus yang Tetap Dianggap \u201cSurga\u201d oleh Masyarakat, sekalipun Mahasiswanya Tidak Islami Amat<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, pada akhirnya, UIN sebagai kampus murah itu tinggal nostalgia masa lalu. Kenyataannya mereka mulai mengubah diri jadi elite.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":338910,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[30420,23986,5442,30419],"class_list":["post-364187","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-biaya-kuliah-di-uin","tag-ptn-bh","tag-uin","tag-ukt-uin"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/364187","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=364187"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/364187\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/338910"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=364187"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=364187"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=364187"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}