{"id":364138,"date":"2025-10-16T15:25:53","date_gmt":"2025-10-16T08:25:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=364138"},"modified":"2025-10-16T15:25:53","modified_gmt":"2025-10-16T08:25:53","slug":"pesanggaran-kecamatan-paling-menyedihkan-di-kabupaten-banyuwangi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pesanggaran-kecamatan-paling-menyedihkan-di-kabupaten-banyuwangi\/","title":{"rendered":"Pesanggaran, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Banyuwangi"},"content":{"rendered":"<p>Dengan luas melebihi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bali-bukan-cuma-ubud-canggu-dan-kuta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bali,<\/a> Banyuwangi menjadi kabupaten terbesar di Pulau Jawa. Namanya tak hanya menyimpan cerita indah, tapi juga kisah getir yang dirasakan masyarakat. Dari 25 kecamatan yang ada di Banyuwangi, ada satu kecamatan yang paling menyedihkan, yakni Kecamatan Pesanggaran. Kawasan di pesisir selatan Banyuwangi semakin tersisih dan dilupakan.<\/p>\n<p>Jika melihat potensinya, kecamatan ini memiliki sumbangsih cukup besar bagi pendapatan Banyuwangi. Sebab di sana ada tambang emas terbesar di Pulau Jawa. Ada juga beragam destinasi wisata yang menjadi bahan jualan pemda kepada wisatawan yang datang. Tapi sekali lagi, alih-alih diperhatikan, Pesanggaran hanya bak sapi perah bagi Pemda Banyuwangi. Apes sekali.<\/p>\n<h2><strong>Jalan r<span class=\"selectable-text copyable-text xkrh14z\">usak tidak diperhatikan<\/span><\/strong><\/h2>\n<p>Sudah tahu jadi markas tambang emas terbesar, namun jalannya rusak. Alih-alih diperbaiki, tambal sulam dipilih untuk penghematan anggaran. Padahal tahu sendiri truk tonase besar pembawa material tambang lalu-lalang melintasi jalan di Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi ini.<\/p>\n<p>Akhirnya, warga yang menjadi korban. Sebab jalan yang rusak dan tak rata menjadi santapan harian warga Pesanggaran. Beberapa kali terjadi kecelakaan lalu lintas akibat<a href=\"https:\/\/banyuwangi.times.co.id\/news\/berita\/Cy1ZSQYXY\/Komisi-IV-DPRD-Kabupaten-Banyuwangi-Sidak-Jalan-Rusak-Pesanggaran\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> jalan yang rusak<\/a> ini. Saya yakin kehidupan warga di sini juga tak nyaman. Apalagi truk besar juga kerap melintas hingga dini hari dan membuat lingkungan jadi bising.<\/p>\n<h2><strong>Pesanggaran Banyuwangi kaya di luar, miskin di dalam<\/strong><\/h2>\n<p>Setiap menyebut Pesanggaran, Pemda selalu mengaitkannya dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tambang-emas-tumpang-pitu-mimpi-buruk-warga-banyuwangi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tambang emas Tumpang Pitu<\/a>. Tambang emas ini seakan-akan memiliki banyak manfaat bagi Banyuwangi. Padahal jika dilihat secara menyeluruh, mudharatnya justru lebih banyak ketimbang manfaatnya. Utamanya bagi warga Pesanggaran sendiri.<\/p>\n<p>Coba tengok berapa banyak warga lokal yang bisa bekerja di tambang tersebut. Potensinya saja dibesar-besarkan seakan wilayah ini kaya dari luar, padahal faktanya justru dimiskinkan dari dalam.<\/p>\n<p>Sebelum ada tambang, mayoritas warga Pesanggaran Banyuwangi berprofesi sebagai petani dan nelayan. Sekarang, setelah hampir 13 tahun ada tambang, justru muncul masalah lingkungan.\u00a0Imbasnya tentu saja berdampak pada warga, misalnya yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka har<span class=\"selectable-text copyable-text xkrh14z\">us melaut lebih jauh lagi karena tercemar. Ada juga banjir yang merendam lahan pertanian akibat <\/span>serapan air dari Gunung Tumpangpitu sudah mulai tak maksimal. Semua ini dirasakan warga Pesanggaran Bany<span class=\"selectable-text copyable-text xkrh14z\">uwangi hingga sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Wisata hanya sebagai topeng<\/strong><\/h2>\n<p>Pesanggaran <span class=\"selectable-text copyable-text xkrh14z\">sebenarnya memiliki beberapa destinasi wisata yang kerap dibanggakan Pemkab Banyuwangi. Namun saya melihatnya berbeda. Wisata ini hanya sebagai topeng <\/span>untuk menutupi apa yang terjadi di Pesanggaran. Mulai Pulau Merah, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-liburan-di-teluk-hijau-banyuwangi-hancur-karena-tambang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pantai Teluk Hijau<\/a>, sampai Sukamade, berapa banyak warga yang bisa menikmati &#8220;k<span class=\"selectable-text copyable-text xkrh14z\">ue ekonomi&#8221; dari kunjungan wisata di sana. Cenderung dimonopoli.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Beberapa homestay ataupun rumah makan yang jadi jujugan wisatawan rata-rata milik para pendatang. Mereka yang memiliki modal besar ma<span class=\"selectable-text copyable-text xkrh14z\">u beradu untung di tengah kunjungan wisatawan yang menurun. Lagi-lagi warga lokal Pesanggaran hanya jadi penonton dari gembar-gembor destinasi wisata yang terus digaungkan. Alih-alih memperoleh imbas, warga lokal hanya dapat ampas.<\/span><\/p>\n<p>It<span class=\"selectable-text copyable-text xkrh14z\">ulah sedikit cerita mengenai Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi. Kecamatan paling menyedihkan yang kelihatan bersinar dari luar, padahal warganya merana. Semoga masalah-masalah yang dihadapi warga kecamatan ini bisa segera teratasi sehingga kehidupan di sini tak lagi menyedihkan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Fareh Hariyanto<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banyuwangi-kota-yang-tak-pernah-ramah-bagi-pekerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyuwangi Kota yang Tak Pernah Ramah bagi Pekerja, Gajinya Rata dengan Tanah!<\/a><\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau ada satu kecamatan yang paling menyedihkan di Kabupaten Banyuwangi, itu adalah Pesanggaran. Kelihatan bersinar padahal warganya merana.<\/p>\n","protected":false},"author":664,"featured_media":367464,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6216,19521,30505,30504,11889,28930],"class_list":["post-364138","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyuwangi","tag-kabupaten-banyuwangi","tag-kecamatan-pesanggaran","tag-pesanggaran-banyuwangi","tag-tambang-emas","tag-tambang-emas-tumpang-pitu"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/364138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/664"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=364138"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/364138\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/367464"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=364138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=364138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=364138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}