{"id":363882,"date":"2025-10-12T09:24:57","date_gmt":"2025-10-12T02:24:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=363882"},"modified":"2025-10-11T20:26:34","modified_gmt":"2025-10-11T13:26:34","slug":"bata-sepatu-jadul-yang-membuat-saya-sombong-saat-lebaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bata-sepatu-jadul-yang-membuat-saya-sombong-saat-lebaran\/","title":{"rendered":"Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepatu Bata bukan sekadar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-alas-kaki-yang-pas-untuk-para-elite-politik-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">alas kaki<\/a>. Bagi saya, dan mungkin orang lain yang sebaya dengan saya, alas kaki ini menjelma jadi simbol atau penanda pada masing-masing orang. Kalau untuk saya, sepatu Bata lebih seperti penanda momentum Lebaran telah tiba.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang mungkin mengingat Lebaran dengan kue nastar, sirup merah, salam tempel, kumpul keluarga, dan masih banyak lagi. Saya juga,\u00a0 tapi ditambah dengan satu hal: sepatu Bata baru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih lekat betul dalam ingatan, bagaimana saya menjajal sepatu baru sebelum berangkat salat Ied. Kadang ukurannya masih agak sempit, tapi siapa peduli, yang penting keren dulu. Sepatu itu bukan cuma melindungi kaki, tapi juga melindungi ego bocah yang ingin tampak hebat di depan sepupu-sepupu yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedihnya, sepatu yang dulu membuat saya merasa paling \u201cwah\u201d, sekarang justru sedang terseok-seok menapak jalan hidupnya sendiri. PT Sepatu Bata Indonesia, perusahaan yang dulu menguasai rak sepatu di mal dan pasar tradisional, kini menutup pabrik Purwakarta. Pabrik yang sudah beroperasi hampir 30 tahun itu resmi berhenti memproduksi alas kaki sendiri. Bata lebih memilih jalan outsourcing ke pihak ketiga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Krisis sepatu Bata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Krisis sebenarnya sudah menghadang sepatu Bata sejak bertahun-tahun lalu. Pada 2020 misalnya, tercatat penjualnya melorot hingga hampir separuhnya sejak <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pandemi_Covid-19_di_Indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pandemi<\/a>. Dari Rp931 miliar sejak 2019 menjadi Rp459 miliar di 2020. Angka itu terus menurun hingga akhirnya catatan paling buruk di 2024.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Krisis Bata bukan cuma soal ekonomi, tapi juga soal identitas. Dulu, ia punya posisi emosional di hati konsumen Indonesia: sepatu keluarga, sepatu sekolah, sepatu pertama anak kecil, sepatu kerja bapak-bapak, sandal rumah ibu-ibu. Kini, di tengah gempuran e-commerce dan gaya hidup cepat, Bata tampak seperti orang tua yang bingung menghadapi anak-anaknya yang terlalu digital. Ia mencoba ikut tren, tapi kehilangan keanggunan jadulnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sempat melawan sebelum akhirnya menyerah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bata pernah mencoba rebranding dengan mengeluarkan desain modern hingga gencar masuk ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/harga-barang-di-toko-online-lebih-murah-daripada-toko-offline\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasar online<\/a>. Mereka melakukan banyak penyesuaian, bahkan menyesuaikan harga. Tapi, mungkin yang hilang bukan sekadar daya saing produk, melainkan jiwa nostalgia yang dulu membuatnya spesial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Generasi sekarang tak lagi punya ikatan emosional dengan sepatu yang dulu jadi simbol naik kelas sosial. Mereka tak tumbuh dengan memori disuruh cuci sepatu Bata setiap minggu. Tak lagi punya kenangan memoles sepatu dengan semir hitam sampai berkilat seperti kaca. Dan, mungkin di situ letak tragedinya, bukan karena perusahaan kalah bersaing, tapi karena kehilangan relevansi dalam ingatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir, Bata adalah potret kecil dari industri lama yang gagal menyesuaikan diri dengan kecepatan dunia baru. Pandemi cuma mempercepat proses yang sudah berjalan lama. Orang-orang mulai belanja online, merek global menurunkan harga, sepatu lokal lain tumbuh dengan gaya sneakers streetwear yang lebih menggoda. Bata masih bicara soal \u201ckualitas tahan lama\u201d, sementara dunia sedang tergila-gila dengan \u201cyang cepat dan viral\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jadi memori yang sulit terhapus<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi teringat, di lemari masih ada satu pasang sandal Bata. Warna cokelat tua, agak kusam, tapi masih nyaman dipakai. Sandal itu bukan lagi soal gaya, tapi soal kenangan. Ia seperti saksi kecil bahwa dulu pernah ada masa ketika kesederhanaan bisa terasa begitu elegan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan mungkin, itu yang hilang dari dunia sekarang, kemampuan untuk merasa cukup hanya dengan sepasang sepatu yang awet bertahun-tahun. Sekarang kita ganti sepatu seperti ganti notifikasi yang cepat, impulsif, tanpa makna panjang. Bata dulu mengajarkan kesetiaan, kalau rusak, dijahit; kalau pudar, disemir; kalau talinya putus, diganti. Sekarang, kalau rusak sedikit saja, langsung <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-penting-yang-harus-dilakukan-sebelum-check-out-hotel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">check out<\/a> yang baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah nanti apakah Bata bisa bangkit lagi atau hanya tinggal kenangan di rak toko nostalgia. Tapi, buat saya, Bata sudah jadi bagian dari ingatan yang sulit dihapus, seperti bunyi kletak-kletak sepatu baru di lantai ubin hari Lebaran, atau bau karet yang khas dari sandal yang selalu dibersihkan ibu sebelum pergi ke masjid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Janu Wisnanto<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/galeria-mall-mal-jadul-yang-masih-digemari-orang-jogja\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Alasan Mal Jadul, Galeria Mall, Masih Digemari Orang Jogja<\/a><\/em><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sepatu Bata yang pernah berjaya pada masanya menjadi kenangan tersendiri bagi banyak orang. Salah satunya sebagai ajang pamer saat Lebaran. <\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":364107,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[15517,30416,342,30413,30415,2809,24235,30414],"class_list":["post-363882","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-bata","tag-ied","tag-lebaran","tag-nostalgia-sepatu","tag-pabrik-bata","tag-sepatu","tag-sepatu-bata","tag-sepatu-jadul"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363882","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=363882"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363882\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/364107"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=363882"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=363882"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=363882"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}