{"id":363871,"date":"2025-10-10T11:40:07","date_gmt":"2025-10-10T04:40:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=363871"},"modified":"2025-10-10T11:40:07","modified_gmt":"2025-10-10T04:40:07","slug":"nasib-buruh-banyuwangi-tak-semanis-bacotan-netizen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-buruh-banyuwangi-tak-semanis-bacotan-netizen\/","title":{"rendered":"Nasib Buruh Banyuwangi Tak Semanis Fafifuwasweswos Netizen, Ketidakadilan Nyata Terjadi di Bumi Blambangan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari lalu, saya melihat tulisan Fareh Hariyanto di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berjudul \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banyuwangi-kota-yang-tak-pernah-ramah-bagi-pekerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyuwangi Kota yang Tak Pernah Ramah bagi Pekerja, Gajinya Rata dengan Tanah!<\/a>\u201d Tulisan itu kemudian dibagikan ulang di grup Facebook Info BWI 24 Jam, tempat segala berita Banyuwangi berbaur jadi obrolan warung kopi virtual. Seperti biasa, admin grup menulis caption pendek tapi memancing: \u201cOpo yo ngono, lur?\u201d, kalimat khas warga Banyuwangi ketika separuh ingin tahu, separuh pengin nyinyir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terjadi setelahnya sudah bisa ditebak. Kolom komentar langsung ramai. Ada yang menuduh tulisan itu lebay, ada yang membenarkan dengan emosi, dan ada pula yang menanggapinya dengan kalimat religius seperti, \u201cGaji besar pun kalau nggak bersyukur ya tetap kurang.\u201d Di antara komentar itu, terselip sindiran getir, \u201cPejabatnya yang makmur, rakyatnya tambah mlurut.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membaca semuanya sambil senyum kecut. Karena apa yang ditulis Fareh bukan dongeng. Itu realitas yang, kalau kamu tinggal di Banyuwangi cukup lama, terasa di setiap obrolan, di setiap nadi orang yang hidup dari upah kecil.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyuwangi mengilap, tapi\u2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyuwangi hari ini memang tampak gemerlap. Jalan-jalan ke arah wisata ditata rapi, hotel-hotel baru berdiri, dan baliho \u201cBanyuwangi Hebat\u201d bertebaran di mana-mana. Tapi berjalanlah sedikit ke arah selatan, ke Muncar. Di sanalah kamu akan menemukan wajah Banyuwangi yang sesungguhnya: barisan buruh perempuan yang berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika malam hampir habis. Di antara mereka, banyak yang bekerja sampai 21 jam sehari, berdiri di ruang beku, mengolah ikan untuk ekspor, tapi tak pernah tahu rasanya ikan yang mereka olah sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komentar-komentar di grup Facebook itu, kalau dibaca pelan-pelan, sebetulnya menggambarkan satu hal yang sama: penyangkalan. Warga Banyuwangi seperti tak mau benar-benar percaya bahwa daerah yang mereka banggakan ternyata memperlakukan pekerjanya sekejam itu. Mereka menepis kenyataan dengan dalih syukur, dengan pembelaan \u201chidup di sini murah\u201d, atau dengan logika sederhana: yang penting masih kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, apa yang ditulis Fareh bukan sekadar opini. Ia menulis kenyataan yang punya bukti ilmiah, dan saya tahu karena saya pernah melihat datanya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak 2022, sebuah LSM perburuhan lokal di Banyuwangi melakukan penelitian tentang kondisi sosial-ekonomi dan ketenagakerjaan di industri pengolahan makanan laut. Saya tahu banyak tentang hasil riset tersebut karena kebetulan saya \u201corang dalam\u201d. Hasil risetnya memang belum dipublikasi secara umum, baru dipublikasi secara terbatas dan dipaparkan di hadapan Kementerian Ketenagakerjaan sebagi rekomendasi kebijakan. Dan hasil riset itu, terus terang, sangat menyedihkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data menunjukkan bahwa lebih dari sembilan puluh persen buruh di sektor ini digaji di bawah UMK. Rata-rata mereka hanya menerima Rp40.000\u201387.000 per hari, padahal jika merujuk pada <a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2024\/01\/18\/094417726\/info-gaji-umr-banyuwangi-2024-dan-daerah-lain-se-jawa-timur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMK Banyuwangi (2024)<\/a> mestinya Rp105.545 per hari. Mayoritas buruhnya juga perempuan yang bekerja tanpa cuti haid, tanpa cuti melahirkan, bahkan tanpa perlindungan jaminan sosial. Kalau sakit, mereka tak dibayar. Kalau hamil, bisa langsung diganti. Satu-satunya yang tetap dari pekerjaan mereka hanyalah rasa lelah.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tiap hari mengolah ikan, tapi nggak pernah makan ikan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di grup Facebook tadi, ada yang menulis, \u201cBanyuwangi itu murah, asal nggak manja. Hidup di sini gampang.\u201d Tapi murah itu relatif, kan? Kalau gajimu sepuluh juta, nasi pecel tujuh ribu memang terasa murah. Tapi kalau penghasilanmu empat puluh ribu sehari, makan pecel dua kali saja sudah hampir separuh gaji. Apalagi ketika harga gas naik, ongkos sekolah anak bertambah, dan cicilan motor menunggu. Dalam penelitian itu, disebutkan pula bahwa seluruh responden mengonsumsi protein dan serat jauh di bawah standar gizi. Mereka makan bukan berdasarkan selera, tapi kemampuan. Seorang ibu bercerita, \u201cKadang ya makan nasi sama sambal bawang saja, Mas. Yang penting bisa kerja besok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komentar-komentar di Facebook pun memperlihatkan kenyataan sosial yang aneh tapi nyata. Ada yang menasihati dengan kalimat pasrah \u201csing penting iso mangan\u201d. Ada yang membela diri \u201ckalau rajin, pasti rezeki lancar\u201d. Tapi yang paling jujur, menurut saya, adalah yang menulis: Kerja di Banyuwangi itu tergantung kenal orang dalam. Tukang sapu aja kudu ijazah SMA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua orang tahu, dan memilih untuk pura-pura tidak tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, pemerintah daerah terus bicara soal investasi dan pariwisata. Banyuwangi memang berubah jadi kota festival, tapi sebagian warganya justru hidup seperti figuran di panggung yang tak pernah selesai. Pembangunan terasa seperti cat baru di dinding yang retaknya dibiarkan. Indah dari jauh, tapi keropos di dalam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya yang bekerja di pabrik pengalengan ikan bilang, \u201cMas, saya ini tiap hari mengolah tuna, tapi sudah seminggu nggak makan ikan.\u201d Ia mentertawakannya, tapi tawa itu lebih mirip cara bertahan daripada candaan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Buruh Banyuwangi hilang harapan\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di riset itu juga disebutkan, banyak buruh Banyuwangi mengalami kelelahan kronis dan gangguan kesehatan akibat kerja berlebihan. Tak sedikit yang kehilangan semangat hidup, sulit berpikir jernih, dan tidak tahu harus memperjuangkan apa. Dalam istilah akademik, mereka kehilangan \u201cdaya agen\u201d. Tapi dalam bahasa mereka sendiri, cukup satu kalimat: \u201cEmbuh wess.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dulu kerja paksa dilakukan dengan borgol dan cambuk, sekarang dilakukan dengan status hubungan kerja yang nggak jelas, upah rendah dan berbagai modus eksploitasi lainnya. Tak ada penjaga yang membawa senjata, tapi ketakutan hadir setiap hari dalam bentuk ancaman \u201cKalau nggak mau kerja, banyak yang ngantri di luar.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ironinya, di tengah semua ini, masih ada yang menulis komentar \u201cgaji kecil karena malas\u201d. Entah mereka benar-benar percaya, atau sekadar ingin terlihat paling waras di antara yang menderita. Padahal kalau mau jujur, buruh di Banyuwangi bukan malas, tapi lelah. Lelah bekerja, lelah berharap, tidak ada alternatif pekerjaan lain karena hampir semua perusahaan pengolahan makanan laut di Muncar melanggar aturan ketenagakerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi memang mau nyinyir aja ke warga Banyuwangi yang masih denial di tengah fakta seterang itu. Karena fafifuwasweswos soal \u201cbersyukur\u201d, \u201cBanyuwangi baik-baik aja\u201d, dan sebagainya hanya omong kosong yang semakin membuat\u00a0 Banyuwangi menjadi kota yang indah hanya di brosur, tapi rapuh di kenyataan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Silakan ke Muncar<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyuwangi boleh punya Ijen yang memesona dan festival yang megah, tapi selama para buruhnya hidup dalam ketakutan dan kelaparan, semua itu cuma dekorasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, kalau ada pejabat yang bangga memamerkan keberhasilan daerah ini, datanglah ke Muncar. Lihat bagaimana buruh-buruh yang mengolah ikan ekspor berjalan dengan gontai tiap keluar dari pabrik. Lihat bagaimana \u201cBanyuwangi Hebat\u201d itu sesungguhnya berdiri di atas punggung orang-orang yang bahkan tak tahu apakah besok mereka masih punya pekerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Banyuwangi tidak butuh lebih banyak festival. Mungkin yang dibutuhkan hanyalah keberpihakan\u2014sedikit saja\u2014agar orang-orang yang membuat kota ini hidup juga bisa merasakan hidup yang layak.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ahmad Taufik<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/banyuwangi-bukan-daerah-angker-dan-kota-santet\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Salah Paham terhadap Banyuwangi, Selalu Dicap Daerah Angker dan Kota Santet padahal Nyaman Banget Ditinggali<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyuwangi boleh punya Ijen yang memesona dan festival yang megah, tapi selama para buruhnya hidup dalam ketakutan dan kelaparan, semua itu cuma dekorasi.<\/p>\n","protected":false},"author":3102,"featured_media":321887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6216,30368,30369,30370,30367,22104],"class_list":["post-363871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyuwangi","tag-gaji-di-banyuwangi","tag-industri-perikanan-banyuwangi","tag-ketimpangan-sosial-di-banyuwangi","tag-nasib-buruh-banyuwangi","tag-umk-banyuwangi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3102"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=363871"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363871\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/321887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=363871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=363871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=363871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}