{"id":363664,"date":"2025-10-12T10:00:44","date_gmt":"2025-10-12T03:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=363664"},"modified":"2025-10-12T08:11:40","modified_gmt":"2025-10-12T01:11:40","slug":"stop-bilang-mahasiswa-uns-anak-buangan-ugm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stop-bilang-mahasiswa-uns-anak-buangan-ugm\/","title":{"rendered":"Stop Bilang Mahasiswa UNS Anak Buangan UGM, Nggak Semua Anak UNS Dulu Daftar ke Sana!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang bilang kalau UNS adalah tempat pembuangan mahasiswa yang nggak keterima daftar UGM. Oke, memang ada yang begitu, tapi nggak semua. Sekilas, mungkin terdengar kayak guyonan receh yang kalau dilontarkan sekali atau dua kali, masih bisa ditampik pakai senyum atau ketawa. Tapi lama-lama jadi nyebelin kalau guyonan ini berubah jadi label yang nempel sama mahasiswa UNS. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri entah sudah berapa kali ditanya, \u201cDulu ditolak UGM, ya?\u201d. Sesekali saya pengin menjawab, \u201cNggak semua anak UNS itu dulu daftar UGM, ya!\u201d<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kebiasaan jadi second choice<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">UNS memang sering masuk ke dalam 10 besar PTN di Indonesia, tapi pamornya tentu kalah sama universitas yang \u201cwah\u201d kayak UGM atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-itb-bikin-iri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ITB.<\/a> Akibatnya, UNS sering dijadikan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">second choice <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">buat orang-orang yang gagal masuk ke kampus-kampus <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">wah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">itu, termasuk UGM. Sekali lagi, saya cuma mau bilang, kalau nggak semua anak UNS itu anak buangan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran kebiasaan menjadikan UNS sebagai kampus <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">second choice <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">label \u201cbuangan\u201d pun seolah jadi stempel resmi anak UNS. Seolah-olah jidat anak UNS itu ada stempel &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">anak buangan&#8221;.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Kalau yang ditanya memang pernah mendaftar di UGM dan gagal sih nggak apa-apa. Toh memang faktanya begitu. Tapi brengseknya kalau yang kena itu mahasiswa yang sama sekali nggak melirik<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">UGM kayak saya. Saya jadi kelihatan bego banget!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya lagi, banyak yang berlagak seolah kampus itu semacam garis keturunan bangsawan. Misal nih, kalau bukan dari UGM, berarti darahnya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kurang biru<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka mungkin lupa kalau kebanggaan itu nggak sekonyong-konyong diwariskan lewat nama kampus, tapi dibentuk dari niat dan kerja keras masing-masing. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, banyak yang sibuk membandingkan universitas, tapi lupa memperbaiki diri. Kalau kuliah di UNS bikin kamu minder cuma karena bukan UGM, itu berarti kamu butuh terapi kepercayaan diri!\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Alasan logis buat nggak daftar UGM<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akui, UGM memang hebat karena masuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">big three <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kampus di Indonesia. Saya sendiri pun sempat tergoda buat daftar ke sana. Rasa-rasanya bakal keren kalau pakai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-karakter-mahasiswa-dari-warna-jas-almamater\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jas almamater<\/a> berlogo bunga teratai itu. Siapa sih yang enggak kenal UGM? Tapi, ada beberapa pertimbangan yang membuat saya akhirnya kuat iman buat nggak tergoda lagi.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, saya warga plat AD yang rasa-rasanya, kalau kuliah di UGM itu nanggung. Nglaju kejauhan, mau ngekos nanggung.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">UNS jadi pilihan yang paling masuk akal buat kasus saya. Nggak kejauhan, hemat duit, bergengsi pula. Paling utama, cuma satu jam naik motor, kelar!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, saya punya alasan lain yang agak aneh: saya nggak mau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-memilih-mengubur-label-alumni-ugm-demi-ketenangan-batin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">terbebani sama kebesaran nama<\/a> UGM. Kalau buat masuk, saya sih percaya diri aja bisa keterima. Tapi di dalamnya? <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Wallahu a&#8217;lam bishawab, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saya orangnya malesan. Nggak cocok buat kultur UGM yang ambis banget. Bakal berabe kalau saya jadi mahasiswa di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau jujur nih, rata-rata anak UNS lain yang saya temui itu kasusnya mirip dengan saya. Warga plat AD yang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">emoh <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">merantau atau ya memang nggak mau ke UGM aja. Terus, gimana dengan mahasiswa lain yang bukan warga plat AD tapi langsung daftar ke UNS? Ya karena itu memang kampus impian mereka. Inget ya, nggak semua orang menjadikan UGM sebagai kampus idaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>UNS atau UGM ama pusingnya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau dari UGM, UNS, atau bahkan universitas antah berantah, toh ujungnya semua bakal ngeluh hal yang sama: tugas numpuk, dosen killer, dan skripsi nggak kelar-kelar. Jadi santai aja, nggak usah merasa &#8220;si paling <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/edu\/read\/2025\/10\/09\/180149671\/34-kampus-terbaik-di-indonesia-versi-the-wur-2026-ada-8-pts\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kampus top<\/a>&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kalau realitanya masih deg-degan tiap buka siakad buat ngecek nilai. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Santai aja. Pak RT nggak bakal tiba-tiba datang ke rumah cuma buat bilang, \u201cKamu bukan anak UGM, ya? Waduh, kasihan banget!\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Nur Azza<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/uns-sudah-49-tahun-tapi-masih-banyak-yang-belum-tahu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kasihan UNS, Sudah Berdiri 49 Tahun tapi Masih Banyak yang Belum Tahu Kepanjangannya<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><b><\/b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak semua mahasiswa UNS itu gagal masuk UGM dan jadi mahasiswa buangan. Ada juga yang memang niatnya masuk UNS, ya!<\/p>\n","protected":false},"author":3103,"featured_media":364169,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[20621,1713,7034,30418,20045,6107,195,6570],"class_list":["post-363664","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kampus-buangan","tag-kampus-negeri","tag-kampus-uns","tag-mahasiswa-buangan","tag-mahasiswa-ugm","tag-mahasiswa-uns","tag-ugm","tag-uns"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363664","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3103"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=363664"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363664\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/364169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=363664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=363664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=363664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}