{"id":363450,"date":"2025-10-07T13:35:29","date_gmt":"2025-10-07T06:35:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=363450"},"modified":"2025-10-07T13:35:29","modified_gmt":"2025-10-07T06:35:29","slug":"mbg-menguntungkan-akar-rumput-katamu-coba-tanya-pedagang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mbg-menguntungkan-akar-rumput-katamu-coba-tanya-pedagang\/","title":{"rendered":"MBG Menguntungkan Akar Rumput Katamu? Coba Tanya Pedagang, Jawabannya Tak Seperti Ekspektasimu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini, ada kesan bahwa MBG hanya ditolak oleh segelintir orang. Di media sosial, orang-orang yang menolak MBG sering dinarasikan oleh kelompok pro MBG sebagai orang yang tidak bersyukur. Seolah-olah, program ini merupakan sebuah program sempurna yang memang hanya bisa diterima dan disyukuri oleh semua pihak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa pun yang antipati dengan MBG, akan dianggap tidak pro pada akar rumput. Mereka yang menolak MBG dianggap buta dan tuli nurani pada sebagian orang yang bersyukur atas keberadaan program ini. Narasi itu disebar oleh banyak sekali akun, seolah seluruh akar rumput terwakili oleh narasi itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Suara kebenaran dari pasar tradisional<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada kenyataannya, di akar rumput yang kontra dengan MBG juga sangat banyak. Dalam dua hari berturut-turut, saya mendengar sendiri keluhan dari pedagang di pasar soal penyelenggaraan program ini. Seorang bakul brambang keliling berhenti di warung saya. Kami sudah selesai bertransaksi, tapi ia memutuskan untuk duduk sejenak dan mengobrol.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbak, warungmu sepi ora?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAwal tahun ini rame, Mas. Tapi setelah Idul Adha, omset turun separo.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBerarti podo karo liyane, Mbak. Njenengan ngerti ora. Iki ki gara-gara MBG. Dodolanku sepi banget. Muter-muter ya tetep ra ono sing tuku.\u201d keluhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia mengeluh tentang turunnya omset. Dan menurutnya, omsetnya semakin merosot sejak semakin banyaknya penerima MBG.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bukan ia saja yang mengalami, tapi juga banyak warung dan pedagang di pasar tradisional. Lalu ia bercerita panjang tentang bagaimana warung makan kecil yang biasanya membeli bawang brambang darinya tiap hari berubah menjadi tiga hari sekali bahkan bisa sampai lima hari baru beli brambang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, biasanya, warung-warung makan itu ramai karena banyak orang tua yang mengandalkan warung makan kecil untuk makan siang anaknya. Tapi sejak adanya MBG, warung-warung makanan rumahan itu menurun pendapatannya. Keluh kesah mas bakul brambang ini tidak berdiri sendiri. Ada banyak cerita dari pedagang kecil di pasar terkait keberatan mereka dengan MBG.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lain hari, saat saya ke pasar, seorang simbah pedagang bumbu dapur juga mengeluhkan hal yang sama. Saat itu, seorang juragan sayur dari Wonosobo bercerita bahwa ia mengalami perubahan jam kerja sejak menjadi supplier sayur sebuah SPPG.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya jam 5.30 pagi ia sudah kembali ke Wonosobo. Tapi kini, ia harus menunggu hingga jam 7 karena ia harus mengantar sayur untuk SPPG di jam 7.30. Ia mengeluh karena kadang SPPG sering memberi permintaan-permintaan dadakan di jam istirahatnya. Kadang permintaan itu tidak mudah dikerjakan oleh bakul sayur sepertinya, misalnya mereka meminta kentangnya sudah harus dikupas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, simbah pedagang bumbon di lapak sebelahnya menimpali. \u201cOra apik MBG kuwi, ora apik. Marai pasar sepi.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>MBG meningkatkan perekonomian siapa?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suara-suara minor dari kelompok pedagang kecil ini sangat lirih. Rasan-rasan mereka hanya berdengung di pasar, di antara lorong pasar yang tak lagi ramai pengunjung. Jumlah pedagang di pasar tradisional jelas banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok ini adalah target market partai politik saat melakukan kampanye. Kita bisa menyaksikan media sosial dipenuhi foto pejabat partai di pasar saat mereka butuh atensi. Tapi di mana partai saat target marketnya mengeluh seperti ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi semakin heran, dengan narasi bahwa MBG adalah program untuk mengangkat perekonomian. Pertanyaannya, perekonomiannya siapa? Dari cerita di sekitar saja jelas-jelas potensi omset berdagang pedagang pasar terenggut oleh keberadaan MBG. Memangnga berapa banyak rekanan supplier SPPG dari UMKM sungguhan yang beneran bisa terangkat perekonomiannya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Para kreator yang berisik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring dengan semakin banyaknya berita <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Daftar_kasus_keracunan_massal_program_Makan_Bergizi_Gratis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">keracunan<\/a> terkait MBG, meningkat pula jumlah konten kreator yang berisiknya bukan main. Mereka riuh menceritakan keindahan semu MBG. Sepintas, mereka seperti menjadi antitesis dari dosa-dosa MBG. Tapi semakin diikuti, semakin terlihat bahwa mereka tak lebih dari sekadar pendengung yang ngonten untuk membuat narasi positif dan mengabaikan kenyataan gelapnya cerita seputar pelaksanaan MBG.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar satu bulan belakangan saya mengikuti seorang konten kreator FB Pro,<\/span><a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/share\/1Fe7WPrtbk\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Hendry Kumink<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> namanya. Ia seorang chef yang bekerja di SPPG. Hampir setiap hari ia membuat konten tentang sajian MBG di SPPG-nya. Tampilan makanan yang layak dan enak selalu muncul di kontennya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia membuat narasi bahwa jika tidak dikorupsi dan setiap SPPG dipimpin oleh chef dan ahli gizi yang profesional, maka menu MBG bisa sebaik karyanya. Kenarsisannya didukung dengan pembuktian berupa screenshot komentar dari anak sekolah yang mendapat MBG dari dapurnya. Pujian-pujian yang, yah, begitulah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya kira kreator sepertinya bisa menjadi harapan untuk terlaksananya MBG yang ideal. Saya membayangkan bahwa MBG bisa aja nggak buruk-buruk amat jika auditnya jelas, akuntabilitas oke, sanitasi terjamin, distribusi bagus, dan kualitas pangan terjamin. Saya pernah berpikir bahwa jika ada influencer yang seperti itu, bisa melecut SPPG di seluruh Indonesia untuk berlomba memperbaiki kualitas menu MBG.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, setelah mendengar lirihnya keluhan para bakul pasar, rasanya MBG sungguh tak punya nilai positif lagi. Terlalu banyak yang harus dikorbankan demi memelihara program yang semata-mata punya nilai politis. Bisakah untuk sebentar saja, para elite di negara ini benar-benar menyediakan telinga, hati, dan pikirannya untuk orang-orang biasa?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Butet RSM<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/3-akar-krisis-mbg-yang-kini-terungkap\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dari Burger hingga Kepemimpinan Militer: 3 Akar Krisis MBG yang Kini Terungkap<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada kenyataannya, di akar rumput yang kontra dengan MBG juga sangat banyak. Saya mendengar sendiri keluhan dari pedagang di pasar soal MBG.<\/p>\n","protected":false},"author":1139,"featured_media":354751,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[30317,28382,29697,30316],"class_list":["post-363450","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-efek-buruk-mbg","tag-keracunan-mbg","tag-mbg","tag-pedagang-pasar"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363450","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1139"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=363450"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/363450\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/354751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=363450"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=363450"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=363450"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}