{"id":36189,"date":"2020-04-14T12:43:22","date_gmt":"2020-04-14T05:43:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=36189"},"modified":"2020-04-14T12:43:22","modified_gmt":"2020-04-14T05:43:22","slug":"pengalaman-ngejokiin-tugas-mahasiswa-sastra-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-ngejokiin-tugas-mahasiswa-sastra-indonesia\/","title":{"rendered":"Pengalaman Saya Ngejokiin Tugas Mahasiswa Sastra Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Semenjak Corona menyambangi negeri ini, seluruh sektor kehidupan masyarakat jadi kena imbasnya. Termasuk sektor pendidikan. Sama seperti kampus-kampus yang lain, kampus tempat saya berbagi suka duka dalam mengejar gelar Sarjana Sastra turut diliburkan. Eh, lebih tepatnya menerapkan aturan kuliah daring.<\/p>\n<p>Saya yang merangkap status sebagai joki tugas otomatis kebanjiran order. Saya sih senang-senang saja. <em>Lha wong<\/em> dapat duit. Maka, jadilah saya kuliah daring sambil <em>Work From Home.<\/em><\/p>\n<p>Beragam tipe pelanggan saya dapati ketika merintis profesi joki tugas ini. Mulai dari tipe pelanggan berduit sampai pelanggan yang <em>low budget<\/em> tapi maksa untuk dikerjakan tugasnya. Duh, karena saya tidak tegaan dan butuh uang ya saya terima saja tawaran atau permintaan untuk mengerjakan tugas milik berbagai tipe pelanggan ini.<\/p>\n<p>Sebelumnya, mari saya ceritakan kronologi bagaimana saya bisa menjadi seorang joki tugas. Mana tahu ini bisa mengubah stigma negatif orang-orang yang sering memandang jelek tentang para joki tugas, joki makalah, hingga joki skripsi.<\/p>\n<p>Bermula dari saya yang sering mendapat nilai baik dalam menulis karya ilmiah, maka nama saya mulai tersohor di kalangan dosen-dosen. Suatu ketika ada pelatihan wajib para dosen CPNS di kampus saya. Dari pelatihan tersebut, mereka diharuskan untuk membuat banyak makalah tanpa copy paste berdasarkan bahan pelatihan. Nah, karena teramat sibuk atau mungkin terlampau sulit, saya dihubungi oleh dosen tersebut dan ditawari untuk mengerjakan makalahnya dengan honor satu juta. Wah, sebagai golongan mahasiswa miskin yang notabene selalu kekurangan uang, jelas saya setuju tanpa pikir panjang. Semenjak itulah saya mulai dikenal sebagai joki.<\/p>\n<p>Jika saya membaca artikel dengan judul hampir serupa yang membahas masa depan anak Sastra Indonesia, ya saya hanya bisa <em>mesam mesem<\/em> saja. Soalnya, saya miris dan merasa malas membincangkan hal yang terasa abu-abu di pandangan orang lain. Selama ini anak sastra dikenal sebagai \u201canak senja\u201d yang punya hobi membuat <em>quotes<\/em> dan puisi. Tidak lain dan tidak bukan begitulah komentar mayoritas orang yang bukan anak sastra. Serius? Masa hanya begitu saja sih! Lebih keren dikit dong~<\/p>\n<p>Saya tentu ingin masyarakat tahu bahwa kami\u2014anak sastra\u2014bisa jadi kritikus, ahli bahasa, atau paling tidak kami juga bisa menjadi jurnalis. Bukan apa-apa, ini semua adalah suara dari para mahasiswa Sastra Indonesia yang tidak menyukai dunia sastra dan lebih memilih dunia linguistik atau bahasa.<\/p>\n<p>Persoalan pertama adalah fakta yang saya dapati ketika menyelam dan minum air di dunia perkuliahan ini. Persepsi orang banyak sangat berbeda dengan keadaan sebenarnya di lapangan.<\/p>\n<p>Mahasiswa yang berada di Program Studi Sastra Indonesia belum tentu suka menulis. Bahkan, belum tentu bisa. Kata \u201cmenulis\u201d yang saya utarakan di sini tentu menulis karya <em>lho<\/em> ya&#8230;<\/p>\n<p>Kenyataannya, jangankan menulis karya ilmiah hasil dari penelitian. Bahkan terkadang menulis puisi atau cerpen saja tidak mumpuni. Maka janganlah heran kalau banyak karya fiksi atau non-fiksi dilahirkan dari seorang penulis yang tidak menyandang status \u201canak sastra\u201d.<\/p>\n<p>Persoalan kedua terletak pada motivasi menulis mahasiswa Sastra Indonesia yang seperti &#8216;kuliah enggan, DO tak mau&#8221;. Terlepas dari masa depannya yang entah akan jadi apa, seharusnya mahasiswa Sastra Indonesia bisa menempatkan dirinya dengan baik di mata masyarakat atau dosennya.<\/p>\n<p>Saya pernah mendapat orderan untuk menganalisis karya sastra yang lumayan banyak jumlahnya. Orderan itu berasal dari sekelompok mahasiswa Sastra Indonesia yang sedang menjalani UAS. Jadi, ini adalah bahan UAS mereka. Bahkan salah seorang dari mereka di lain waktu menghubungi saya dan meminta dibuatkan empat bahan presentasi berbentuk <em>Powerpoint<\/em>.<\/p>\n<p>Duh, merasa miris hati mengerjakannya. Masa iya untuk jenis tugas <em>Powerpoint<\/em> saja ia tidak memiliki motivasi?<\/p>\n<p>Saya kemudian bertanya-tanya kepada diri sendiri, \u201cApa ini alasan banyak orang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan gelarnya?\u201d<\/p>\n<p>Seringkali saya berpikir ulang untuk menerima tawaran order dari mahasiswa Sastra Indonesia. Hal ini disebabkan karena mereka membuat saya malu pada diri sendiri perihal kawan satu jurusan ternyata ada yang masih tidak mengerti persoalan menulis. Padahal, orang lain beranggapan bahwa menulis adalah bidang yang kami kuasai.<\/p>\n<p>Sialnya, saya juga pernah mendapat pengalaman tidak enak ketika menghadapi anak Sastra Indonesia yang minim semangat menulis. Awalnya saya anggap wajar, tapi lama kelamaan kok malah kurang ajar. Pasalnya, ia tidak mau membayar dengan alasan sedang tidak ada uang dan berkata, \u201cLagi pula aku kan sudah sering order tugas denganmu!\u201d<\/p>\n<p>Duh Gusti&#8230; Kok begini amat rasanya mencari duit dan tergolong orang <em>missqueen<\/em>. Setelah saya pikir, ada baiknya juga anak Sastra Indonesia tidak bisa menulis. Lebih baik anak Sastra Indonesia jadi kritikus atau jadi <em>kretekus<\/em> yang berteman dengan rokok, senja dan kopi saja deh~<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ternyata-fakultas-sastra-tidak-mencetak-sastrawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ternyata Fakultas Sastra Tidak Mencetak Sastrawan<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/kamiyatein\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kamiyatein<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia ternyata belum tentu bisa menulis padahal orang mengira itu kemampuan mereka. Hal ini bikin saya dapat banyak orderan.<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":36548,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6152,34,6153],"class_list":["post-36189","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-joki-tugas","tag-mahasiswa","tag-mahasiswa-sastra-indonesia"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36189","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36189"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36189\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36548"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36189"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36189"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36189"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}