{"id":359759,"date":"2025-10-04T08:00:31","date_gmt":"2025-10-04T01:00:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=359759"},"modified":"2025-10-04T06:34:14","modified_gmt":"2025-10-03T23:34:14","slug":"bangkalan-madura-omong-kosong-soal-kabupaten-layak-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangkalan-madura-omong-kosong-soal-kabupaten-layak-anak\/","title":{"rendered":"Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Kabupaten Bangkalan Madura itu ibarat peribahasa \u201ctong kosong nyaring bunyinya\u201d, alias banyak ngomong nggak ada hasilnya. Seneng banget bikin peraturan, kebijakan, dan program, tapi nggak ada yang jelas tuh apa substansinya. Akhirnya ya nggak ada dampak positifnya. Makanya saya tak heran jika kemarin <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Naufal <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">menyamakan proker Pemkab Bangkalan Madura ini hanya sekelas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nestapa-mahasiswa-bangkalan-dapat-tugas-kuliah-review-kebijakan-unggulan-daerah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">proker karang taruna<\/a>. Wkwkwk, kasihan sekali warganya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian juga ingin bukti lain betapa kosongnya omongan Pemkab ini, kalian bisa melihat bagaimana mereka menciptakan ruang aman bagi anak. April lalu, Pemkab Bangkalan Madura membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang Kabupaten Layak Anak. Katanya sih, untuk melindungi anak dari ancaman diskriminasi, eksploitasi, hingga kekerasan yang ditujukan pada mereka. Tapi, apalah aturan ini, hanya jadi tumpukan Perda yang nggak jelas hasilnya apa!<\/span><\/p>\n<h2><b>Kasus pemerkosaan anak di Bangkalan Madura selalu mandek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan langsung pada intinya. Perda yang dibuat oleh Pemkab Bangkalan Madura itu tidak ada pengaruhnya sama sekali. Anak-anak di kabupaten ini tetap rentan dieksploitasi, bahkan menjadi korban kekerasan seksual. Tapi, problemnya bukan di situ saja. Setelah menjadi korban, penegak hukum kerap membiarkan kasunya. Jika kalian tak percaya dengan opini saya, berikut saya berikan bukti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin, ada kabar terkait ketidakjelasan dari kelanjutan <\/span><a href=\"https:\/\/radarmadura.jawapos.com\/bangkalan\/746652008\/dua-remaja-asal-kecamatan-sepulu-jadi-korban-pemerkosaan-delapan-terduga-pelaku-masih-bebas-berkeliaran\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">kasus pemerkosaan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> terhadap 2 anak di bawah umur. Sebanyak 8 pelaku sampai saat ini masih bebas berkeliaran. Padahal kasus ini sudah terjadi dua bulan yang lalu. Gila, kan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah ditelusuri, pembiaran atas kasus kekerasan seksual anak tidak hanya itu saja. <a href=\"https:\/\/radarmadura.jawapos.com\/hukum-kriminal\/745616104\/terlapor-dibebastugaskan-terkait-kasus-dugaan-pencabulan-di-blega-bangkalan-pihak-sekolah-kesulitan-berkomunikasi-dengan-korban\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kasus pelecehan<\/a> terhadap seorang siswi SMP oleh gurunya pada <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Januari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> 2025 juga mandek sampai <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saat ini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Entah apa yang dikerjakan oleh penegak hukum di kabupaten ini. Pejabat dinas dan DPR yang sudah digaji juga ngapain aja woy?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haduh, pokoknya anak-anak korban kekerasan di Bangkalan Madura itu seperti \u201csudah jatuh, tertimpa tangga\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tak ada ruang aman dan menyenangkan bagi anak di Bangkalan Madura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agaknya, saya terlalu berat memberikan contoh kasus kekerasan anak yang dibiarkan oleh Pemkab Bangkalan Madura. Secara infrastruktur saja, Pemkab ini terus tutup mata untuk menciptakan ruang aman dan nyaman bagi anak. Di kabupaten ini sulit menemukan area yang menyenangkan bagi anak-anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba renungkan, ke mana kalian akan membawa anak-anak untuk bermain di kabupaten ini? Jawabannya pasti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alun-alun-bangkalan-madura-kumuh-sudah-waktunya-direnovasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">alun-alun<\/a>, kan. Ah, jika benar itu jawabannya, sungguh itu adalah jawaban yang menggelitik. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Taman bermain yang kotor, sampah berserakan, hingga kolam ikan yang berubah warna coklat merupakan gambaran Alun-Alun Bangkalan Madura saat ini. Lalu, sarana permainan juga banyak yang berkarat, bahkan rusak. Sangat tidak aman!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah itu yang membuat anak-anak senang dan bahagia? Kalau iya, berarti kabupaten ini sangat miris. Kalian ke alun-alun hanya terpaksa, karena memang tidak ada tempat lain untuk bermain di kabupaten ini!<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan mimpi jadi kabupaten\u00a0layak anak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika boleh saya ilustrasikan cita-cita kota layak anak ini, sebenarnya itu hanyalah mimpi di siang bolong para pemimpin yang cuma suka omon-omon. Yakinlah, harapan itu tidak akan pernah kita capai. Mau bikin kebijakan atau program sebanyak apa pun, kalau tetap tidak diimplementasikan dengan serius, ya tetap saja tidak akan ada hasilnya. Hanya mimpi di siang bolong!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, semua tahu bahwa harapan untuk menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/taman-bermain-di-pamekasan-madura-nggak-ramah-anak-diisi-pasangan-mesum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kabupaten layak anak<\/a> ini sudah ada sejak awal tahun lalu. Tapi hasilnya nihil. Tahun lalu saja, Bangkalan Madura tetap berada di posisi madya untuk kota layak anak. Posisi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada peningkatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, apakah tahun ini akan ada peningkatan? Jangan harap, deh, ya! Kasus pemerkosaan pada anak saja mandek sampai berbulan-bulan, malah mau jadi kota layak anak. Anak siapa? Anak para pejabat doang? Hadeh!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Abdur Rohman<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-strategi-bertahan-hidup-di-bangkalan-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Strategi Bertahan Hidup di Bangkalan Madura supaya Tetap Waras dan Bahagia, Setidaknya Tidak Sampai Gila!<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bangkalan Madura &#8220;Kabupaten Layak Anak&#8221; hanya omong kosong. Buktinya tidak ada ruang aman dan nyaman di kabupaten ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2507,"featured_media":359775,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24504,16112,22434,18781,30258,5020],"class_list":["post-359759","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-alun-alun-bangkalan-madura","tag-bangkalan","tag-bangkalan-madura","tag-kabupaten-bangkalan","tag-kabupaten-layak-anak","tag-madura"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359759","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2507"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=359759"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359759\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/359775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=359759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=359759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=359759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}