{"id":359619,"date":"2025-10-04T09:00:05","date_gmt":"2025-10-04T02:00:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=359619"},"modified":"2025-10-04T07:08:34","modified_gmt":"2025-10-04T00:08:34","slug":"lemper-bu-sri-jogja-oleh-oleh-nggak-kalah-dari-bakpia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lemper-bu-sri-jogja-oleh-oleh-nggak-kalah-dari-bakpia\/","title":{"rendered":"Lemper Bu Sri, dari Suguhan Hajatan Jadi Oleh-oleh Jogja yang Nggak Kalah dari Bakpia"},"content":{"rendered":"<p><em>Wisatawan yang datang ke Jogja punya opsi oleh-oleh selain bakpia, yakni Lemper Bu Sri. Tenang aja, lemper ini nggak gampang basi, kok.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mendengar kata \u201coleh-oleh Jogja\u201d, pikiran kita biasanya langsung meluncur ke bakpia. Dari bakpia Pathok, bakpia kukus, sampai bakpia kekinian rasa tiramisu, semuanya jadi ikon yang sudah terlalu sering diceritakan. Seperti ada aturan tak tertulis kalau ke Jogja tanpa membeli bakpia rasanya kurang afdal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi diam-diam ada pendatang baru di dunia oleh-oleh Jogja, yaitu Lemper Bu Sri. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jualan-jajanan-pasar-tidak-kalah-cuan-dibanding-es-teh-jumbo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jajanan pasar<\/a> sederhana yang biasanya muncul di nampan hajatan bareng pastel, nagasari, dkk., ini sekarang naik kelas jadi oleh-oleh modern. Rasanya gurih, lengket, bikin kenyang meski ukurannya kecil. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, lemper punya satu kelemahan klasik, yaitu nggak tahan lama. Baru sehari saja sudah basi. Jadi, meskipun enak, ia jarang kepikiran jadi oleh-oleh. Bayangkan, makanan yang dulu cuma nongkrong di piring tamu mantenan, kini bisa masuk freezer modern, awet berhari-hari, dan dikemas cantik. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bakpia udah terlalu sering jadi bahan ribut \u201cenakan yang isi kacang ijo atau coklat?\u201d, Lemper Bu Sri Jogja hadir dengan pertanyaan baru, \u201cmau dimakan sekarang atau nanti setelah dihangatkan?\u201d Itulah inovasi dari toko oleh-oleh kecil yang berada di <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pelemgurih, Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, yaitu lemper frozen.<\/span><\/p>\n<h2><b>Naik kelas dari piring hajatan ke freezer modern<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lemper Bu Sri Jogja ini mulai dikenal sekitar 2020. Awalnya sederhana, cuma lemper isi ayam dengan resep tradisional. Tapi kemudian Toko Lemper Bu Sri menemukan cara agar lemper bisa awet lebih lama, yaitu dengan dibekukan. Lemper frozen inilah yang bikin brand ini cepat naik daun. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangin, jajanan pasar yang biasanya kita temui di hajatan atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rumah-dekat-pasar-tradisional-bikin-sengsara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasar tradisional<\/a>, sekarang bisa jadi oleh-oleh Jogja yang bisa kita bawa ke luar kota, bahkan tahan berhari-hari. Dari \u201clemper suguhan hajatan\u201d berubah jadi \u201clemper berkelas dengan kemasan modern\u201d. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dulu lemper cuma bertahan beberapa jam, sekarang bisa disimpan di freezer dan dihangatkan lagi tanpa mengurangi rasa. Inovasi sederhana tapi jenius. Makanan enak itu nggak selalu harus \u201cbaru\u201d, kadang tinggal dikemas ulang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lemper Bu Sri dari Jogja untuk Nusantara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja sendiri, Lemper Bu Sri cepat populer. Tapi yang menarik, pemasarannya nggak berhenti di toko offline. Lemper Bu Sri juga masuk ke marketplace, pakai Instagram, bahkan TikTok. Endorse selebgram lokal, bikin konten unboxing, sampai iklan digital, semuanya digeber. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasilnya? Lemper Bu Sri nggak cuma terkenal di Jogja, tapi juga mulai merambah ke kota-kota lain. Bagi perantau yang kangen makanan kampung halaman bisa pesan online, lalu tinggal thawing saja di rumah. Jadi, bukan cuma bakpia yang bisa jadi obat rindu dan pilihan oleh-oleh khas Jogja, lemper juga bisa. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa media kuliner bahkan sudah menyebut Lemper Frozen Bu Sri sebagai salah satu oleh-oleh unik Jogja yang bisa jadi alternatif bakpia. Sejujurnya itu kabar baik yang mana Jogja butuh variasi. Masa oleh-oleh Jogja cuma muter di bakpia sama<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Geplak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> geplak<\/a> melulu?<\/span><\/p>\n<h2><b>Antara nostalgia dan inovasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang bikin Lemper Bu Sri Jogja menarik bukan cuma soal frozen-nya, tetapi juga nilai nostalgia yang dibawa. Banyak orang bilang, makan lemper itu mengingatkan mereka pada masa kecil, pada hajatan keluarga, atau pada ibunya yang sering bikin lemper isi ayam. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, Lemper Bu Sri berhasil \u201cmenjual nostalgia\u201d itu dalam bentuk yang lebih modern. Kemasan rapi, ada label, bisa masuk freezer, dan tetap praktis dimakan kapan saja. Jadi semacam jembatan antara generasi orang tua yang terbiasa bikin lemper manual, dan generasi anak muda yang lebih suka makanan praktis tapi tetap autentik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lemper vs bakpia, mana yang paling Jogja?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau dibandingkan, posisi Lemper Bu Sri ini bisa jadi penantang serius bakpia Jogja. Bedanya, bakpia sudah terlalu mainstream. Orang Jogja aja kadang bosan kalau ditanya, \u201cOleh-oleh Jogja bakpia, kan?\u201d Lemper bisa hadir sebagai opsi lain. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangin aja kalau branding-nya makin kuat. Bisa jadi suatu saat, kalau orang mudik dari Jogja ditanya bawa apa, jawabannya bukan cuma bakpia, tapi juga lemper frozen. Dan saya yakin, kalau suatu saat ada cafe hipster di Jakarta jual \u201cFrozen Lemper with Chicken Floss Filling\u201d dengan harga 30 ribu per biji, orang bakal tetap beli. Di mana sekarang aja <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kopi-sachet-yang-bikin-saya-kapok-rasanya-aneh-manisnya-kebangetan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kopi sachet<\/a> bisa naik kelas kalau dijual di kafe.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lemper Bu Sri Jogja layak dibanggakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang sering mendengar \u201coleh-oleh Jogja wajib bakpia\u201d, saya merasa Lemper Bu Sri ini opsi alternatif lainnya saat memilih oleh-oleh khas Jogja. Ia membuktikan bahwa jajanan pasar juga bisa naik kelas, bisa jadi ikon, bahkan bisa mendobrak dominasi bakpia. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lemper frozen ini bukan sekadar inovasi teknis, tapi juga cara baru merayakan identitas kuliner lokal. Jadi, kalau nanti ada yang tanya, \u201cJogja punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-jogja-malas-ke-malioboro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malioboro<\/a>, punya bakpia, lalu apa lagi?\u201d Saya akan jawab, \u201cJogja juga punya Lemper Bu Sri. Dan percayalah, ini bukan sekadar lemper biasa. Ini lemper masa depan.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-oleh-oleh-jogja-yang-sebaiknya-dipikir-ulang-sebelum-dibeli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Oleh-Oleh Jogja yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang sebelum Membelinya<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wisatawan yang datang ke Jogja punya opsi oleh-oleh selain bakpia, yakni Lemper Bu Sri. Tenang aja, lemper ini nggak gampang basi, kok.<\/p>\n","protected":false},"author":2658,"featured_media":359777,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[16299,4418,9971,30259,30260,26806,24471],"class_list":["post-359619","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jajanan-pasar","tag-kuliner-jogja","tag-lemper","tag-lemper-bu-sri-jogja","tag-lemper-frozen","tag-oleh-oleh-jogja","tag-oleh-oleh-khas-jogja"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359619","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2658"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=359619"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359619\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/359777"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=359619"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=359619"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=359619"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}