{"id":359610,"date":"2025-10-03T15:11:19","date_gmt":"2025-10-03T08:11:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=359610"},"modified":"2025-10-03T15:11:19","modified_gmt":"2025-10-03T08:11:19","slug":"pengalaman-yang-bikin-kapok-ke-taman-harmoni-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-yang-bikin-kapok-ke-taman-harmoni-surabaya\/","title":{"rendered":"3 Pengalaman yang Bikin Saya Kapok Mengunjungi Taman Harmoni Surabaya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir pekan lalu, saya mengajak keluarga untuk mengunjungi Taman Harmoni Surabaya. Taman ini berada di Kawasan Keputih Tegal Timur, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. Taman Harmoni Surabaya sedang hype karena baru direvitalisasi dan dibuka kembali pada awal Agustus lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah revitalisasi besar-besaran, taman dengan luas sekitar 8 hektare ini mengusung tema Harmony of The World. Konsepnya memadukan ikon-ikon dari beberapa benua di dunia, seperti Asia, Eropa, Australia, Amerika, dan Antartika. Dilengkapi juga tempat bermain untuk anak-anak, kuliner Pasar Ngisor Pring (Sorpring), dan arena-arena melihat hewan. Ada juga beberapa spot yang cukup rindang yang bisa digunakan untuk duduk-duduk sambil berlindung dari panasnya kota dan merasakan semilir angin. Di sana juga ada beberapa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/uneg-uneg\/spot-foto-berbentuk-cinta-merajalela-perlukah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">spot lokasi foto<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tampilan baru Taman Harmoni tentu saja menarik banyak pengunjung pada akhir pekan. Apalagi, tidak ada biaya masuk alias gratis. Cukup membayar parkir bila membawa kendaraan pribadi. Pengunjung bisa berjalan-jalan santai sambil melihat sekeliling atau hanya sekadar duduk-duduk sambil makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, di balik kemewahan itu semua, ada tiga hal yang membuat saya merana ketika mengunjungi Taman Harmoni Surabaya. Hal itu saya rasakan sejak tiba hingga menjelang pulang dari taman yang berdiri sejak 2014 lalu itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lahan parkir resmi terbatas menumbuhkan parkir liar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ramainya pengunjung membuat tempat parkir yang disediakan oleh pengelola tidak cukup menampung kendaraan, utamanya bagi pengendara roda empat. Dua titik <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/tukang-parkir-liar-di-solo-meresahkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">parkir resmi<\/a> yang berada di bagian depan taman dan belakang taman penuh semua. Alhasil, muncul parkir-parkir liar yang dikelola oleh masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tarif di lokasi parkir resmi untuk roda empat sebesar Rp5.000 yang diberi karcis. Sedangkan di beberapa titik parkir tidak resmi, tarifnya lebih mahal dua kali lipat yakni Rp10.000 tanpa karcis. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya memilih parkir tidak resmi. Lokasi-lokasi parkir tidak resmi ini tak jarang justru menimbulkan kemacetan karena mengambil sebagian bahu jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Praktik seperti ini justru terjadi di depan mata petugas.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Belum ramah bagi pengguna kursi roda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dibandingkan dengan taman-taman lain, Taman Harmoni Surabaya disebut-sebut sebagai taman terbesar di Kota Surabaya ini. Namun, karena berdiri di atas lahan bekas tempat pembuangan sampah akhir, sebagian kontur tanah di Taman Harmoni agak naik dan turun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pengguna kursi roda seperti bapak saya, tentu saja hal itu terasa berat dan menyulitkan bila tidak disertai fasilitas yang memadai. Apalagi, penggunaan <a href=\"https:\/\/pu.limapuluhkotakab.go.id\/berita\/kelebihan-dan-kekurangan-paving-block\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">paving block<\/a> untuk pejalan kaki berkeliling taman, mengakibatkan jalanan tidak rata. Mendorong kursi roda menjadi lebih butuh daya dan tenaga berlebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih tidak ramah lagi ketika hendak ke tempat makan. Tidak ada akses jalan sama sekali bagi pengguna kursi roda yang terhubung dari taman. Konsepnya dibuat anak tangga. Alhasil, pengguna kursi roda tidak bisa langsung ke kantin yang ada di Taman Harmoni Surabaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pengunjung duduk lesehan di tempat pejalan kaki<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ramainya pengunjung Taman Harmoni membuat sebagian orang memilih mencari tempat sekenanya untuk berduduk santai. Rata-rata bernaung di bawah pohon yang rindang agar tidak terkena sengatan cahaya matahari secara langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, sebagian orang duduk di jalanan yang sebenarnya merupakan akses bagi pejalan kaki untuk berkeliling taman. Tak sedikit yang menggelar alas duduk dan lesehan sambil makan-makan di jalanan tersebut, sehingga mengurangi luas jalan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-indonesia-memang-dipaksa-nggak-suka-jalan-kaki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pejalan kaki<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aktivitas pengunjung yang egois seperti itu membuat saya merana ketika mendorong kursi roda dan melewati mereka. Beberapa di antaranya harus melipat alas duduk kemudian sedikit bergeser agar kami bisa lewat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang saya sadari, Taman Harmoni Surabaya adalah fasilitas umum yang bisa diakses oleh siapa saja. Orang dari kalangan manapun bisa mendatanginya untuk sekadar mencari hiburan. Namun, pengunjung dan pengelola setidaknya memiliki kepekaan agar fasilitas ini lebih inklusif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Suluh Dwi Priambudi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tugu-jombang-miliar-bukti-pemerintah-nggak-paham-prioritas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tugu Jombang Senilai Rp1 Miliar Bukti Pemkab Jombang Nggak Paham Prioritas.<\/a><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Taman Harmoni Surabaya setelah renovasi menarik banyak orang berkunjung. Padatnya pengunjung bikin pengalaman ke sana kurang menyenangkan. <\/p>\n","protected":false},"author":2587,"featured_media":359748,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16176,30256,405,30255,30254,17814,30257],"class_list":["post-359610","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-landmark","tag-landmark-surabaya","tag-surabaya","tag-taman-harmoni","tag-taman-harmoni-surabaya","tag-taman-kota","tag-taman-surabaya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359610","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2587"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=359610"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359610\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/359748"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=359610"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=359610"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=359610"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}