{"id":359342,"date":"2025-10-01T09:10:12","date_gmt":"2025-10-01T02:10:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=359342"},"modified":"2025-10-01T09:15:42","modified_gmt":"2025-10-01T02:15:42","slug":"moro-soetta-malioboro-kebumen-yang-layak-diapresiasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/moro-soetta-malioboro-kebumen-yang-layak-diapresiasi\/","title":{"rendered":"Moro Soetta, Malioboro Kebumen yang Layak Diapresiasi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen itu sering dipandang sebelah mata. Katanya cuma jadi kota singgah, kota lewat, kota mampir kalau mudik. Tetapi sekarang ada wajah baru yang bikin warga Kebumen agak bisa jumawa, yaitu Moro Soetta. Kawasan yang katanya &#8220;Malioboronya Kebumen&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan salah, sekarang kalau malam Minggu, anak muda Kebumen nggak harus kabur ke Purwokerto atau Jogja buat sekadar nongkrong. Cukup ke Jalan Moro Soetta, pusat kota jadi hidup. Lampu-lampu jalan kinclong, ada area kuliner, tempat hiburan, bahkan spot foto ala-ala. Kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-tidak-ditemukan-di-malioboro-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malioboro Jogja<\/a> penuh pedagang batik atau gudeg, di sini kamu bisa menemukan sate ambal, sego penggel, sampai kopi-kopi kekinian.<\/span><\/p>\n<h2><b>Suasana baru, harapan baru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saat pertama kali berkunjung ke Moro Soetta Kebumen, saya agak kaget. Rasanya Kebumen mendadak punya ruang publik yang bisa dipamerkan. Orang-orang berjalan santai, keluarga duduk di bangku taman, anak muda sibuk cari angle buat TikTok. Ada juga pedagang-pedagang yang lumayan rapi, nggak kalah dari konsep kuliner di kota besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Moro Soetta memang didesain untuk menjadi ikon baru Kebumen. Beberapa media lokal bahkan sudah menjulukinya sebagai &#8220;Malioboro Kebumen&#8221; atau &#8220;wajah baru kota&#8221;. Setidaknya sekarang kota ini punya magnet lainnya buat menahan laju orang-orang yang biasanya cuma numpang lewat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dari revitalisasi ke identitas kota<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Revitalisasi wajah kota ini sebenarnya sudah digagas beberapa tahun lalu. Kebumen yang dulunya sepi di malam hari, pelan-pelan dipoles. Hasilnya, sekarang ada jalur pedestrian lebih lebar, penerangan jalan yang rapi, plus area kuliner tertata. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dulu identitas Kebumen cuma \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-gajah-kebumen-bikin-orang-kota-terheran-heran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pantainya banyak<\/a> tapi panasnya kejam\u201d, sekarang Moro Soetta jadi alternatif wisata malam yang lebih ramah. Bahkan sudah ada orang bilang, \u201cAyo jalan-jalan ke Moro Soetta, biar kerasa liburan meski masih di kota sendiri.\u201d Narasi ini penting, karena kota kecil jarang punya ruang publik representatif.<\/span><\/p>\n<h2><b>Malioboro vs Moro Soetta Kebumen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbandingan dengan Malioboro Jogja memang nggak bisa dihindari. Begitu nama Moro Soetta muncul, orang langsung nyeletuk, \u201cAh, palingan KW-nya Malioboro.\u201d Padahal kalau dipikir-pikir, bukannya salah juga. Jalan yang rapi, trotoar lebar, lampu-lampu hias, plus pedagang kuliner yang ditata, sekilas memang mirip banget sama apa yang ada di Jogja. Tapi Moro Soetta Kebumen punya ceritanya sendiri. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Malioboro identik dengan sejarah, wisatawan, dan belanja batik, Moro Soetta lebih dekat dengan keseharian orang Kebumen. Di sini, anak-anak muda nongkrong sambil kadang nonton live music, keluarga kecil nyari jajanan malam, atau anak muda yang sekadar hunting konten buat Instagram. Suasananya nggak sepadat Malioboro, tapi justru itu yang bikin Moro Soetta terasa lebih \u201clokal\u201d dan akrab. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketimbang dibanding-bandingkan terus, mungkin lebih adil kalau Moro Soetta dipandang sebagai versi lokal yang lahir dari kebutuhan warganya sendiri. Kebumen jelas nggak butuh jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-jadikan-purwokerto-jogja-kedua\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja kedua<\/a>, tapi punya identitas baru yang bisa bikin warga betah dan bangga sama kotanya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Antara optimisme dan kekhawatiran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya sekarang, apa Moro Soetta Kebumen bakal langgeng? Atau cuma jadi proyek euforia? Karena di Indonesia, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ruang_publik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ruang publik<\/a> baru seringnya kinclong di awal, tapi kemudian terabaikan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan sampai bangku taman jadi tempat nongkrong motor-motor berknalpot brong, atau lampu hias mati satu-satu kayak gigi ompong. Kebumen perlu belajar dari Malioboro Jogja. Di sana, masalahnya bukan cuma soal perawatan, tapi juga tentang tata kelola pedagang, parkir, hingga kebersihan. Kalau Moro Soetta mau benar-benar jadi ikon, ya harus dirawat, bukan cuma dibiarkan setelah seremonial peresmian.<\/span><\/p>\n<h2><b>Moro Soetta Kebumen, Malioboro lokal yang layak diapresiasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya pribadi, Moro Soetta Kebumen penting. Ia jadi bukti kalau Kebumen juga bisa punya wajah kota yang membanggakan. Apakah setara dengan Malioboro Jogja? Jelas belum. Tapi untuk ukuran kota kecil, Moro Soetta sudah cukup bikin warga punya alasan keluar rumah selain ke alun-alun atau warung kopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin inilah versi sederhana dari <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">urban pride<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ala Kebumen. Dan kalau nanti ada yang bertanya, \u201cMalioboro di Kebumen di mana, ya?\u201d Saya bisa jawab sambil senyum, \u201cAda kok, namanya Moro Soetta. Boleh dicoba, asal siapin duit buat sate ambal sama sego penggelnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-kebumen-wajib-dikunjungi-wisatawan-bikin-lupa-pulang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Pantai di Kebumen yang Bikin Wisatawan Lupa Pulang, Sayang Dilewatkan<\/a>.<br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><b><\/b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski Moro Soetta Kebumen disebut-sebut mirip Malioboro Jogja, tapi kehadirannya penting dan layak diapresiasi.<\/p>\n","protected":false},"author":2658,"featured_media":359385,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10477,23614,446,23150,30212,30211],"class_list":["post-359342","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kebumen","tag-kota-kebumen","tag-malioboro","tag-malioboro-jogja","tag-malioboro-kebumen","tag-moro-soetta-kebumen"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359342","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2658"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=359342"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/359342\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/359385"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=359342"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=359342"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=359342"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}