{"id":358336,"date":"2025-09-23T11:19:37","date_gmt":"2025-09-23T04:19:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=358336"},"modified":"2025-09-23T11:19:37","modified_gmt":"2025-09-23T04:19:37","slug":"kuliah-s2-tidak-ada-pertanyaan-receh-dan-bodoh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-s2-tidak-ada-pertanyaan-receh-dan-bodoh\/","title":{"rendered":"Kuliah S2 Tidak Ada Pertanyaan Receh dan Bodoh, Semuanya Berbobot!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di artikel sebelumnya, saya menyebutkan kalau kuliah S2 itu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-s2-wajib-caper-atau-kalian-bakal-menyesal-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wajib caper<\/a>. <\/span>Nah, salah satu sarana untuk caper adalah melalui keaktifan memberi pertanyaan dan pernyataan dalam kelas atau forum. Khusus untuk pernyataan, mungkin tidak jadi persoalan karena itu tanda seseorang berpengetahuan. Tapi, untuk pertanyaan, hal ini sering jadi masalah tersendiri.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sedikit mahasiswa S2 terjebak pada rasa takut perihal pertanyaannya diajukan. Apakah pertanyaannya receh? Cukup berbobot? Apakah dia akan terlihat bodoh? Rasa khawatir itu semakin besar ketika berada dalam kelas atau forum dengan tipe orang bermental predator. Orang yang sukanya meremehkan, merendahkan, dan menjustifikasi karena merasa lebih pintar. \u201cHalah, pertanyaan macam apa sih itu,\u201d begitu mungkin respon mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, dalam ekosistem S2, nggak ada pertanyaan bodoh atau receh. Semua yang dilontarkan adalah bentuk diskursus dan dialektika karena output dari magister adalah seseorang dapat menguji sebuah \u201cthesis\u201d (pernyataan umum).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang S2, harus memosisikan ruang kelas bukan lagi tempat menampung jawaban tunggal yang benar, melainkan ruang untuk menguji asumsi. Ruang kelas bisa membuka perspektif baru dan melatih <a href=\"https:\/\/www.generali.co.id\/id\/healthyliving\/1\/7-cara-berpikir-kritis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara berpikir kritis<\/a>. Dari situ, setiap pertanyaan, bahkan yang tampak \u201creceh\u201d atau \u201cabsurd\u201d sekalipun, punya beberapa fungsinya tersendiri. Kita bedah satu per satu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saat kuliah S2, pertanyaan bisa membuka diskusi baru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan sederhana saat kuliah S2 nggak jarang bisa membuka cakupan diskusi yang lebih kaya. Misal, ketika ada pertanyaan, mengapa ilmu ini penting? Apa istimewanya ilmu ini? Toh belum teruji dalam menjawab persoalan makro negeri ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau orang yang nggak punya kedalaman berpikir, mungkin pertanyaan ini bakal direspon, \u201cLah kalau gak penting, ngapain kamu kuliah<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lanjut-kuliah-s2-beda-jurusan-jangan-sampai-salah-keputusan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> jurusan<\/a> ini?\u201d Sebaliknya, ketika direspon dengan mental berdialekika, maka yang muncul adalah diskusi mendalam dari berbagai perspektif dari seisi kelas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, pertanyaan receh atau tidak itu sangat subjektif karena berangkat dari pengalaman dan kerangka berpikir yang diproses masing-masing. Padahal, itu sisi menariknya karena menambah keragaman sudut pandang di kelas. Apalagi S2 isinya orang dengan latar belakang berbeda (profesi, pengalaman riset, bahkan budaya).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang, seseorang bertanya justru karena sudah punya jawaban yang dia pegang selama ini. Mereka butuh validasi atau butuh pengujian secara akademik. Mereka ingin memastikan apakah ada jawaban versi lain yang bisa dikomparasikan atau tidak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengulik kembali hingga ke fundamental<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan yang naif saat kuliah S2 sering kali membuat seisi kelas kembali membuka materi atau teori fundamental yang mungkin telah dilupakan. Terlebih di dunia riset, kadang kita terlalu cepat bergerak ke teknis kompleks. Padahal ada asumsi dasar yang tak pernah dipertanyakan lagi. Dari hal naif pun, kita bisa merapikan logika dasar yang mungkin saja selama ini ditinggalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini membuat seisi kelas, termasuk dosen benar-benar berpikir. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosen-bukan-dewa-tapi-cuma-di-indonesia-mereka-disembah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dosen<\/a> bukan hanya sebagai pemberi jawaban, tapi bisa jadi pemantik untuk menstimulasi jawaban lain dari sesama mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Khusus untuk dosen, saya sangat suka mereka yang selalu menghargai dan antusias menjadi wadah pertanyaan di dalam kelas. Sebab, dosen seperti ini sedang menegakkan sejumlah nilai penting dalam ekosistem pendidikan, yaitu menghargai proses berpikir mahasiswa. Mereka membangun iklim akademik yang inklusif karena mahasiswa bisa nyaman bertanya tanpa khawatir dihakimi. Mereka jadi berani menguji pikiran mereka di ruang kelas tanpa takut dipermalukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para dosen semacam ini menjadi fasilitator yang mengarahkan tanpa mematikan rasa ingin tahu dari mahasiswa S2. Sebab, tugas dosen bukan menjawab semua hal secara tuntas, tapi bisa mengarahkan. Mana yang perlu didalami lebih jauh, mana yang bisa diparkir dulu, dan bagaimana mengubah pertanyaan absurd menjadi riset yang masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua hal di atas adalah impact positif dari membiarkan pertanyaan itu keluar begitu saja di dalam kelas. Kalau pertanyaan dianggap \u201cbodoh\u201d lalu diabaikan, kelas bisa berubah jadi ajang pamer kepintaran. Padahal, justru kerendahan hati dalam mengakui ketidaktahuan adalah pintu menuju diskusi yang otentik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tips untuk mahasiswa yang masih ragu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supaya kalian tetap pede dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pertanyaan-pertanyaan-receh-namun-sangat-berkesan-buat-orang-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pertanyaan sereceh apapun<\/a>, saya punya setidaknya 5 rules sebelum bertanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, analisis urgensi pertanyaan kalian. Tanyakan ke diri sendiri, kalau saya gak nanya ini, apa yang hilang dalam kelas? Kalau jawabannya,\u00a0 \u201cSaya akan tetap bingung, atau kelas akan kehilangan sudut pandang tertentu,\u201d maka pertanyaan itu punya urgensi. Tanyakan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, lihat potensi multi jawaban. Sederhananya, kalau pertanyaan receh itu punya banyak versi dari berbagai sumber, maka pertanyaan itu bernilai diskusi. Lanjutkan pertanyaan itu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, coba hubungkan dengan materi, pengalaman, atau fenomena empiris. Ini penting supaya menjadi dasar argumen kalau pertanyaan yang disampaikan gak receh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, mainkan diksi pertanyaan. Kalau khawatir terdengar absurd, bisa diawali dengan framing, \u201cSaya masih awam di bagian ini, tapi saya ingin tahu bla bla bla,\u201d atau, \u201cMungkin pertanyaan saya agak sederhana, tapi bagaimana kalau bla bla bla.\u201d Framing seperti ini membuat pertanyaan terlihat sebagai inisiatif belajar, bukan klaim kebenaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelima, pertanyaan sama dengan kontribusi. Coba deh, sudah capek-capek kuliah S2, kita ubah perspektifnya. Daripada khawatir dianggap bodoh, lihatlah pertanyaan sebagai kontribusi ide dan masalah di kelas. Barang kali, ada mahasiswa lain juga punya kebingungan serupa tapi malah atau nggak berani menyampaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kenapa-pelajar-di-indonesia-suka-takut-nanya-jawab-pertanyaan-di-kelas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pertanyaan<\/a> adalah sumber dari lahirnya berbagai macam pembaharuan di berbagai bidang. Perlu diingat, para ilmuwan hebat di dunia ini selalu berangkat dari pertanyaan paling receh, dan menemukan jawabannya dengan melalui banyak proses perenungan dan diskusi dengan banyak orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-s2-wajib-caper-atau-kalian-bakal-menyesal-sendiri\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat kuliah S2, pertanyaan bisa membuka diskusi baru hingga memperkuat kembali fundamental. Tidak ada namanya pertanyaan receh atau bodoh.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":358341,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[436,6129,16703,34,29786,6110,17167],"class_list":["post-358336","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-kuliah","tag-kuliah-s2","tag-magister","tag-mahasiswa","tag-mahasiswa-s2","tag-pertanyaan","tag-s2"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/358336","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=358336"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/358336\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/358341"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=358336"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=358336"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=358336"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}