{"id":35825,"date":"2020-04-11T13:39:23","date_gmt":"2020-04-11T06:39:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=35825"},"modified":"2020-04-11T14:18:54","modified_gmt":"2020-04-11T07:18:54","slug":"bukti-s-pd-bukan-sarjana-pendidikan-tapi-sarjana-penuh-derita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukti-s-pd-bukan-sarjana-pendidikan-tapi-sarjana-penuh-derita\/","title":{"rendered":"Bukti kalau Kepanjangan S.Pd. itu Bukan Sarjana Pendidikan, tapi Sarjana Penuh Derita"},"content":{"rendered":"<p>Suatu hari saya bertemu dengan mbak satu kosan, karena mbak ini kebetulan sudah lulus. saya jadi kepo pengin tahu soal bagaimana rasanya kehidupan setelah lulus kuliah dan bagaimana nasib saya sebagai sarjana pendidikan, kira-kira adakah pekerjaan yang relevan dengan jurusan saya ini di luar sana.<\/p>\n<p>Lalu mbak kos malah jawab pertanyaan saya seperti ini, \u201ckamu udah lulusan FKIP, sejarah pula. Lebih susah buat kerja di perusahaan,\u201d. Saya hanya membalasnya dengan senyuman meski dalam hati jadi sangat dongkol.<\/p>\n<p>Ya beginilah derita sarjana pendidikan, lebih sulit mendapatkan pekerjaan di perusahaan sedangkan semua jurusan bisa menjadi guru hanya dengan mengikuti PPG, termasuk sarjana pendidikan juga harus mengikuti PPG untuk bisa menjadi mengajar.<\/p>\n<p>Untuk bisa menjadi sarjana pendidikan bukanlah hal yang mudah. Sejak menjadi maba, kami sudah <em>dicekoki <\/em>mata kuliah-mata kuliah kependidikan yang saya sendiri banyak nggak ngertinya daripada ngertinya, mulai dari dasar-dasar pendidikan, managemen pendidikan, pengenalan peserta didik, desain dan model pembelajaran sampai <em>micro teaching <\/em>yang bahkan untuk ukuran <em>heels<\/em> sepatu saja harus diperhitungkan.<\/p>\n<p>Sayangnya, ketika kami menjelang lulus, dosen kami mengatakan, \u201ckalian harus mengikuti PPG atau pendidikan profesi guru agar bisa mengajar.\u201d Lebih sedihnya lagi lulusan non-FKIP juga bisa disetarakan dengan lulusan FKIP yang sudah belajar materi kependidikan dan keguruan selama 7 semester hanya dengan mengikuti PPG. Lalu apa guna kami belajar materi kependidikan selama ini?<\/p>\n<p>Sejak kecil saya tidak pernah memasukan guru dalam list pekerjaan impian saya. Ketika kuliah, saya menjadi salah satu mahasiswa salah jurusan ala anak PTN. Tapi lambat laun karena setiap semester belajar materi keguruan dan pendidikan, saya mulai menikmati kehidupan saya sebagai mahasiswa FKIP. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, apalagi jika sudah berhadapan dengan silabus dan RPP. Banyak dari kami yang <em>sambat <\/em>seketika saat harus membuat silabus dan RPP. Mulai dari bingung sampai nggak ngerti.<\/p>\n<p>Belum lagi perkara desain, model dan metode pembelajaran yang teori dan praktinya beda banget. Lalu ketika kami lulus, kami harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan guru bukan hanya dengan sesama sarjana pendidikan, tapi juga dengan sarjana non pendidikan yang dengan mudahnya mereka mengatakan, \u201ckan nanti bisa ikut PPG dan sama kayak lulusan FKIP.\u201d<\/p>\n<p>Perihal gaji guru yang menyedihkan sudah menjadi rahasia umum. Banyak guru-guru honorer di kampung saya yang mengeluh. Sudah nominal gaji yang tidak seberapa, guru harus menunggu selama tiga bulan untuk mendapatkan gaji. Jadi untuk mendapatkan #gaji8juta, kami harus mengumpulkan gaji selama lebih dari 2 tahun. Di saat para guru ingin protes dengan keadaan, orang-orang di sekelilingnya menenangkan dengan cara, \u201cnanti kan lama-lama akan diangkat menjadi PNS.\u201d Nanti kapan, Pak, Bu?<\/p>\n<p>Mahasiswa FKIP emang selalu diidentikan dengan \u2018mereka yang ingin jadi PNS\u2019. Dalam sebuah obrolan sembari menunggu bimbingan skripsi, kakak tingkat saya mengatakan, \u201clulusan kita\u2013-FKIP Sejarah-\u2013untuk benar-benar sukses susah, kecuali emang benar-benar hebat dari awal atau jadi PNS.\u201d Saya juga pernah membaca artikel yang mengatakan serupa. Mahasiswa FKIP adalah mereka yang ingin menjadi PNS.<\/p>\n<p>Ketika saya sedang idealis, saya sering menyangkal bahwa tidak semua mahasiswa dan lulusan FKIP ingin menjadi PNS tapi ketika sedang realistis saya membenarkannya. Bapak dan ibu saya juga ingin saya menjadi guru PNS. Ya gimana lagi, kami tidak bisa masuk ke perusahaan kecuali untuk klasifikasi semua jurusan, gaji guru honorer yang menyedihkan dan persaingan dengan lulusan non-FKIP yang mengambil lapangan pekerjaan kami, menjadi PNS seketika menjadi impian terbesar kami.<\/p>\n<p>Mahasiswa non-FKIP tidak pernah merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh mahasiswa FKIP. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya diusir dosen karena memakai jeans. Bagi FKIP jeans adalah sebuah keharaman. Baik celana jeans maupun rok jeans. Banyak dari kami yang diusir dari kelas karena memakai jeans, meski ada beberapa dosen yang toleran tapi lebih banyak dosen yang mengharamkan jeans di lingkungan FKIP.<\/p>\n<p>Jangan pernah berharap bisa melihat mahasiswa gondrong dengan celana jeans babel ketika berada di lingkungan FKIP. Pemandangan sehari-hari kami di lingkungan FKIP adalah mahasiswa bercelana bahan dan berpakaian batik. Jika dilihat secara tampilan, mahasiswa FKIP adalah sekelompok manusia baik-baik yang sering diidentikan dengan agen dakwah. Apalagi jika ditambah dengan jenggot dan celana bahan dibuat sedikit cingkrang.<\/p>\n<p>Mahasiswi pun, kami juga diharuskan memakai rok. Saya yang sejak SMA tidak pernah memakai rok kecuali saat kuliah dan pengajian, mendadak menjadi kolektor rok ketika kuliah di FKIP. Mulai dari rok span yang sempit sampai rok yang lebar yang harus dilindungi ketika naik motor. Ketika ada teman dari fakultas lain yang ingin hijrah dan mengatakan, \u201caku mau mengganti celana-celanaku dengan rok mulai sekarang, aku mau hijrah menjadi perempuan yang lebih baik.\u201d Sebagai mahasiswi FKIP, saya tidak perlu menunggu hijrah untuk memakai rok.<\/p>\n<p>Dengan semua \u2018keidentikan\u2019 kami sebagai mahasiswa FKIP dan perjuangan kami untuk bisa mendapatkan ijazah sarjana pendidikan, kami selalu mengelus dada ketika lulusan non keguruan mengambil lapangan kerja kami. Di universitas saya, FKIP menjadi fakultas dengan mahasiswa paling banyak dan tentu saja memiliki lulusan paling banyak pula. Tidak hanya harus bersaing dengan lulusan FKIP dari sesama universitas, sarjana pendidikan juga banyak tersebar di berbagai daerah, baik dari PTN maupun PTS. Baik dari kota maupun kabupaten. Bayangkan dong kami harus bersaing dengan mereka semua <em>plus <\/em>sarjana non keguruan yang ingin menjadi guru.<\/p>\n<p>Makanya jangan heran ketika ada sarjana pendidikan yang setelah lulus memilih untuk langsung menikah dengan alasan, \u201caku mau menjadi guru dari anak-anakmu saja, Mas. Jadi guru anak orang lain berat.\u201d<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-susah-bayarnya-mahal-pas-lulus-jadi-tukang-pijat\/\">Kuliah Susah, Bayarnya Mahal, Pas Lulus Jadi Tukang Pijat<\/a><\/strong>\u00a0<strong>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/desi-murniati\/\">Desi Murniati<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Derita sarjana pendidikan, kuliahnya susah, pakaiannya diatur, mau jadi guru saingannya semua jurusan yang ikut PPG, mau kerja di perusahaan juga susah.<\/p>\n","protected":false},"author":640,"featured_media":35836,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[2094,34,2064,2513],"class_list":["post-35825","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-guru","tag-mahasiswa","tag-sarjana","tag-sarjana-pendidikan"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35825","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/640"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35825"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35825\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35836"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35825"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35825"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35825"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}