{"id":357543,"date":"2025-09-16T15:13:00","date_gmt":"2025-09-16T08:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=357543"},"modified":"2025-09-16T15:13:00","modified_gmt":"2025-09-16T08:13:00","slug":"privilege-jadi-orang-cirebon-yang-tidak-dimiliki-daerah-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/privilege-jadi-orang-cirebon-yang-tidak-dimiliki-daerah-lain\/","title":{"rendered":"Privilege Jadi Orang Cirebon yang Tidak Dimiliki Daerah Lain, Bisa Jadi Bunglon!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang Cirebon sering kali mengalami krisis identitas, dan mendapatkan banyak pertanyaan dari orang luar, \u201cSebenarnya, kalian itu Jawa atau Sunda?\u201d kalau ditanya hal ini, kadang mereka sendiri sebenarnya bingung jawab apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini sudah dijelaskan pada tulisan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-cirebon-bingung-termasuk-sunda-atau-jawa\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Cirebon Terlalu Jawa untuk Disebut Sunda, Terlalu Sunda untuk Disebut Jawa<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Tulisan tersebut menegaskan bahwa kota ini punya identitas tersendiri, bukan sepenuhnya Jawa, bukan juga sepenuhnya Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebenarnya fenomena krisis identitas ini bukanlah sebuah masalah yang harus diselesaikan, tapi menjadi sebuah keuntungan dan privilege bagi orang Cirebon itu sendiri. Lahir dan dibesarkan di daerah yang menjadi \u201cminiature pertemuan budaya\u201d membuat mereka memiliki kelenturan sosial dan budaya yang jarang dimiliki daerah lainnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bisa jadi bunglon di lingkungan Jawa dan Sunda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Cirebon punya kemampuan menyesuaikan diri dengan lebih mudah seperti bunglon, baik ketika berada di lingkungan Jawa maupun Sunda. Bahasa sehari-hari mereka, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Cirebon\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Cerbonan<\/a>, meskipun unik, memiliki kemiripan kosakata dan intonasi dengan bahasa Jawa meskipun pada dasarnya dialeknya berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi penutur Bahasa Jawa, percakapan orang Cirebon bisa terdengar familiar, meskipun ada beberapa perbedaan kosakata, begitupun sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya situ, orang Cirebon juga diajarkan bebasan, tingkatan Bahasa halus yang serupa dengan krama pada Bahasa Jawa, yang dapat memberikan kesan lebih sopan dalam percakapan. Jadi Ketika berhadapan dengan lingkungan Jawa, orang Cirebon bisa cukup paham apa yang mereka katakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, ketika berinteraksi dengan orang Sunda, orang Cirebon juga tidak merasa asing. Di sekolah, mereka diajarkan mata pelajaran bahasa Sunda, sehingga walaupun tidak fasih, percakapan dasar tetap dapat dipahami. Apalagi banyak kosakata Cerbon yang serumpun dengan bahasa Sunda. Bahkan, beberapa daerah di Cirebon yang dekat dengan Kuningan dan Majalengka, bahasa Sunda dipakai menjadi Bahasa sehari-hari, tapi mereka tetap bisa mengerti Cerbonan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam beberapa situasi dan kondisi, terkadang orang Cirebon bisa menggunakan kata yang berasal dari bahasa Jawa ataupun Sunda. Sebagai contoh kecil, untuk mengungkapkan misalnya \u201crasanya manis banget\u201d, orang Cirebon bisa menggunakan \u201crasane manis pisan\u201d, atau \u201crasane manis temen\u201d. Yang mana, kata \u201cpisan\u201d itu dari bahasa Sunda, sedangkan \u201ctemen\u201d dari bahasa Jawa untuk kata \u201cbanget\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Privilige multikultural orang Cirebon<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keistimewaan lain adalah orang Cirebon tidak terpatok pada adat dan tradisi Jawa atau Sunda, melainkan bisa keduanya. Mereka bisa pilih salah satunya, atau bahkan menggabungkan keduanya. Contoh paling jelas bisa terlihat dalam pelaksanaan pernikahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Cirebon bisa memilih apakah menggunakan adat Jawa atau dengan adat Sunda, bahkan sering kali malah perpaduan unsur keduanya. Fleksibilitas ini merupakan cerminan dari sejarah kota ini sebagai \u201cpelabuhan\u201d yang terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam skala kecil, masyarakat kota ini merepresentasikan berbagai keragaman Indonesia. Di sini, masyarakatnya sejak kecil hidup dalam keberagaman. Bukan hanya Jawa dan Sunda, tetapi juga dengan beragam etnis lain seperti Tionghoa dan Arab turut mewarnai wajah kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota ini juga salah satu daerah di Indonesia yang secara formal mengajarkan dua bahasa daerah sekaligus di sekolah. Mata pelajaran muatan lokal bahasa Cirebon dan bahasa Sunda merupakan bukti bahwa keragaman tidak hanya diakui, tapi juga dilestarikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bukan sekadar memperkaya kemampuan berbahasa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Anak-anaknya tumbuh dengan pemahaman bahwa memiliki banyak identitas bukanlah beban, melainkan sebuah kekayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cirebon membuktikan bahwa hidup di antara berbagai budaya bukan hanya mungkin, tetapi justru memberikan kekuatan untuk bergerak lebih lincah menghadapi dunia. Inilah keistimewaan menjadi orang Cirebon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, buat orang Cirebon, kalau ditanya kalian itu Jawa atau Sunda?\u201d jawablah dengan lantang penuh percaya diri \u201cBukan Jawa, Bukan Sunda, <\/span><b>this is Cirebon<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ahmad Nasihin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuningan-dan-cirebon-berbeda-tapi-saling-melengkapi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kuningan dan Cirebon: Berbeda tapi Saling Melengkapi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, buat orang Cirebon, kalau ditanya kalian itu Jawa atau Sunda?\u201d jawablah dengan lantang penuh percaya diri.<\/p>\n","protected":false},"author":3079,"featured_media":323719,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[29922,763,6512,1499],"class_list":["post-357543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-cerbon","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-sunda","tag-cirebon"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3079"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=357543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357543\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/323719"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=357543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=357543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=357543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}