{"id":357384,"date":"2025-09-15T14:53:16","date_gmt":"2025-09-15T07:53:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=357384"},"modified":"2025-09-15T14:53:16","modified_gmt":"2025-09-15T07:53:16","slug":"mahasiswa-kelas-menengah-tetap-sengsara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-kelas-menengah-tetap-sengsara\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Kelas Menengah: Tidak Miskin Menurut Data, Tetap Sengsara Menurut Realitas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya ditanya, \u201cApakah kamu miskin?\u201d, dompet saya dengan tegas menjawab: iya. Tapi begitu dicek lewat data pemerintah, jawabannya berubah: tidak. Dari sinilah saya sering berpikir, nasib mahasiswa kelas menengah itu mirip anak tiri yang tidak diistimewakan, tapi juga tidak terlalu diperhatikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan angka di kertas, keluarga saya bukan kategori miskin. Tapi ketika UKT (Uang Kuliah Tunggal) datang mengetuk, dompet kami terasa sangat miskin. Ironisnya, kami juga tidak cukup kaya untuk membayar semua biaya kuliah tanpa perhitungan panjang. Jadilah kami mahasiswa kelas menengah yang statusnya absurd: terlalu kaya untuk dibilang miskin, terlalu miskin untuk bisa bayar UKT dengan senyum lebar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasib ini ibarat nyangkut di tengah jalan tol: nggak bisa maju, nggak bisa mundur. UKT harus dibayar, beasiswa tak terjangkau. Slip gaji orang tua bilang \u201cmapan\u201d, tapi realitas sehari-hari bilang \u201cngos-ngosan.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Siapa yang dianggap miskin menurut data?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut <\/span><b>Badan Pusat Statistik (BPS)<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, seseorang disebut miskin kalau pengeluaran per kapitanya di bawah Rp595.242 per bulan (per September 2024). Untuk rumah tangga dengan 4\u20135 anggota, garis kemiskinan adalah sekitar Rp2,8 juta per bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau pakai standar <\/span><b>Bank Dunia<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, orang dianggap miskin di negara berpendapatan menengah atas kalau penghasilannya di bawah US$8,30 per hari, atau sekitar Rp1,5 juta per bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, kalau orang tua punya gaji Rp3\u20134 juta per bulan, data resmi menyebut: \u201cAnda bukan keluarga miskin.\u201d Secara administrasi, saya dianggap cukup mampu untuk kuliah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Realitas biaya hidup mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi mari kita tabrakan dengan kenyataan. Survei Biaya Hidup Mahasiswa di Yogyakarta (2024) menunjukkan rata-rata mahasiswa menghabiskan Rp2,9 juta per bulan untuk kos, makan, transportasi, dan kebutuhan dasar. Itu belum termasuk UKT.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara UKT di perguruan tinggi negeri bervariasi, ada yang Rp500 ribu, tapi juga bisa Rp20\u201325 juta per semester, tergantung jurusan. Bahkan UKT Rp5\u20137 juta saja sudah cukup bikin mahasiswa kelas menengah megap-megap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi bagaimana bisa gaji Rp3\u20134 juta dianggap \u201ccukup\u201d, kalau biaya hidup mahasiswa saja hampir menyentuh Rp3 juta per bulan, belum ditambah UKT belasan juta per semester?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>KIPK dan salah sasaran yang jadi rahasia umum<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah himpitan itu, sebenarnya ada program <\/span><b><a href=\"https:\/\/kip-kuliah.kemdiktisaintek.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KIPK<\/a> (Kartu Indonesia Pintar Kuliah)<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dirancang untuk membantu mahasiswa dari keluarga miskin. Tujuannya mulia. Masalahnya, di lapangan, penerimanya sering tidak tepat sasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua pasti pernah dengar cerita klasik bahwa ada mahasiswa penerima KIPK yang nongkrong tiap minggu di coffee shop Rp30 ribuan segelas, naik motor matic terbaru, pakai iPhone keluaran terbaru, bahkan liburan ke Bali saat libur semester. Sementara di dokumen kampus, ia tercatat sebagai \u201cmahasiswa dari keluarga tidak mampu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, ada mahasiswa yang benar-benar kesulitan, orang tua petani, buruh serabutan, atau PNS golongan rendah, yang tiap bulan harus hitung-hitung rupiah untuk makan dan bayar kos. Mereka ini justru sering gagal dapat KIPK karena data administratif bilang \u201cmasih mampu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironis, bukan? Yang hidupnya serba mewah bisa lolos dapat bantuan, sementara yang benar-benar butuh justru terpinggirkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa bisa begini? Kenapa mahasiswa jadi korban terus-terusan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, pemerintah terlalu bergantung pada data administratif seperti slip gaji, status pekerjaan, kepemilikan rumah, atau tanah. Data di atas kertas seolah jadi satu-satunya kebenaran, padahal kondisi nyata bisa jauh berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, kampus jarang benar-benar memverifikasi kondisi mahasiswa sehari-hari. Padahal mereka bisa melihat siapa yang tiap hari makan di warteg dengan utang, siapa yang harus kerja sampingan buat bayar kos, dan siapa yang nongkrong di kafe mahal. Tapi sering kali kampus memilih tutup mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, sistem beasiswa kita masih berpikir hitam-putih: hanya untuk yang benar-benar miskin atau benar-benar berprestasi. Mahasiswa kelas menengah? Tidak miskin, tidak cukup kaya, dan akhirnya tidak dianggap.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hidup dengan logika micin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, kami mahasiswa kelas menengah harus hidup dengan logika ala micin. Micin memang bisa bikin makanan nikmat, tapi tidak bikin gizi seimbang. Sama halnya dengan kuliah: cukup untuk sekadar hadir di kelas, tapi tidak cukup untuk bikin hidup tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kalau ada yang bilang kelas menengah itu enak karena serba cukup, percayalah: itu mitos. Yang cukup hanyalah keluh kesah, bukan rekening tabungan. Dan selama sistem UKT dan beasiswa masih buta data riil, mahasiswa kelas menengah akan tetap jadi \u201canak tiri\u201d pendidikan: selalu diminta bayar, tapi jarang sekali dipedulikan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Arrauna Bening Aji Kus Indriani<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sulitnya-mahasiswa-kelas-menengah-yang-tak-pintar-pintar-amat-mendapatkan-beasiswa-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sulitnya Mahasiswa Kelas Menengah yang Tak Pintar-pintar Amat Mendapatkan Beasiswa di Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi kalau ada yang bilang kelas menengah itu enak karena serba cukup, percayalah: itu mitos. Yang cukup hanyalah keluh kesah.<\/p>\n","protected":false},"author":3056,"featured_media":263102,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[3228,26441,19570,20069,5957],"class_list":["post-357384","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-beasiswa","tag-kipk","tag-mahasiswa-kelas-menengah","tag-middle-class","tag-ukt"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357384","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3056"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=357384"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357384\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263102"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=357384"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=357384"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=357384"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}