{"id":357381,"date":"2025-09-15T15:45:46","date_gmt":"2025-09-15T08:45:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=357381"},"modified":"2025-09-15T15:45:46","modified_gmt":"2025-09-15T08:45:46","slug":"ini-alasan-kenapa-kabupaten-rembang-sebaiknya-ikut-jawa-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ini-alasan-kenapa-kabupaten-rembang-sebaiknya-ikut-jawa-timur\/","title":{"rendered":"Dari Budaya Sampai Hiburan, Ini Alasan Kenapa Kabupaten Rembang Sebaiknya Ikut Jawa Timur"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dan besar di Rembang. Kabupaten kecil di ujung timur laut Jawa Tengah, berbatasan langsung dengan Tuban, Jawa Timur. Kalau lihat peta, posisi Rembang itu kayak anak kos yang kamarnya paling ujung, agak jauh dari pintu peradaban dunia luar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara administrasi, Rembang memang Jawa Tengah. Tapi, jujur saja saya sering merasa kalau orang-orang Rembang itu lebih mirip Jawa Timur daripada \u201cmas-mas Jawa\u201d yang selama ini orang bayangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesadaran itu baru makin kuat ketika saya kuliah empat tahun di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Semarang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Semarang.<\/a> Pertama kali sampai, saya langsung kena culture shock. Bayangan saya, semua orang Jawa Tengah itu sama saja. Ternyata keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketemu teman-teman dari Magelang, Temanggung, Wonosobo, sampai kota Semarang itu sendiri bikin saya merasa seperti orang asing dari \u201csuku lain\u201d. Saya baru sadar kalau Rembang ini memang beda. Bukan hanya beda tipis, tapi kayak beda genre.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hiburan di Rembang itu sound horeg dan dangdutan, bukan karawitan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling nyata ada di soal hiburan. Di desa saya, setiap Agustusan, puncak acaranya bukan pertunjukan seni gamelan atau jalan sehat. Puncaknya adalah karnaval dengan sound horeg yang volumenya bisa bikin ayam tetangga stres. Dari jauh, dentumannya sudah bikin dada bergetar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya kira sound horeg itu monopoli Jawa Timur. Eh, ternyata di Rembang itu jadi budaya wajib juga. Hampir semua desa kalau bikin acara besar pasti pakai sound horeg. Teman-teman saya di Semarang sering mengejek, katanya itu hiburan kampungan. Tapi ya gimana, wong masyarakat desa saya memang bahagianya di situ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada juga orkes dangdut. Levelnya pun nggak main-main, sering kali artis dan grupnya didatangkan langsung dari Jawa Timur. Jadi jangan kaget kalau acara hajatan di Rembang bisa serasa konser musik di Lamongan atau Bojonegoro. Hiburan masyarakat kami memang lebih \u201cTimuran\u201d daripada \u201cTengahan\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mulut kami pun lebih Jawa Timur, dari cara ngomong sampai selera lidah ikut terbawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang bikin saya kaget di Semarang adalah soal bahasa. Teman-teman saya yang asli Jawa Tengah (Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan sekitarnya) bicaranya halus, sopan, dan sabar. Bahkan umpatan mereka pun lebih terdengar seperti pujian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan dengan anak-anak muda di Rembang. Kami ngomong keras, ceplas-ceplos, dan penuh energi. Umpatan \u201cjancuk\u201d itu biasa banget di sini, bahkan sering dipakai dengan nada bercanda. Kalau di Semarang saya nyeletuk \u201cjancuk\u201d ke teman baru, bisa-bisa mereka langsung kaget setengah mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal makanan juga begitu. Di Semarang, saya sempat bingung kenapa hampir semua masakan rasanya manis. Dari mulai soto, sayur asem, lontong sayur, sampai gorengan pun sering ada rasa gula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga asli Rembang, lidah saya terbiasa dengan masakan gurih, asin, bahkan pedas. Sama seperti khas masakan Jawa Timur. Kalau makan lontong tahu di Semarang, saya sering merasa kayak lagi makan makanan penutup, saking manisnya. Tapi kalau di rumah, sambal petis saja bisa bikin mandi keringat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kalau bicara rasa dan selera, perut saya memang lebih condong ke Jawa Timur daripada Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pola dan kebiasaan dalam merantau bikin Surabaya lebih dekat daripada Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada faktor pendukung yang bikin Rembang lebih \u201cJawa Timur\u201d ketimbang \u201cJawa Tengah\u201d: soal merantau. Orang-orang Rembang kalau kerja, merantau, atau cari rezeki, arahnya bukan Semarang atau Solo. Justru lebih banyak ke Surabaya, Gresik, atau Sidoarjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lapangan pekerjaan di wilayah timur memang lebih luas. Wajar kalau akhirnya kultur itu kebawa pulang. Orang-orang yang kerja di Surabaya bawa pulang gaya bicara, musik, bahkan makanan. Akhirnya Rembang semakin terasa ketimuran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rembang: Jawa Tengah yang rasanya Jawa Timur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin lama saya pikirkan, semakin masuk akal kalau Rembang ini memang anak kampung sebelah yang salah pergaulan. Administratif iya Jawa Tengah, tapi kultur, bahasa, makanan, hiburan, sampai migrasinya lebih condong ke Jawa Timur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan heran kalau kadang saya merasa jadi orang asing di Semarang. Padahal sama-sama Jawa Tengah. Tapi ya gimana lagi, Rembang memang beda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya pribadi, ini bukan soal ingin memisahkan diri atau apa. Cuma lucu aja kalau dipikir. Kayak hidup di rumah kontrakan bareng keluarga besar, tapi watak saya lebih mirip tetangga sebelah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini yang bikin Rembang istimewa. Kami bisa menikmati formalitas Jawa Tengah, tapi jiwanya lebih mirip Jawa Timur. Dan bagi saya, itu bukan masalah. Justru jadi identitas unik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada yang bertanya, \u201cRembang itu Jawa Tengah atau Jawa Timur?\u201d Jawaban saya gampang: \u201cSecara KTP Jawa Tengah, tapi secara hati ya Jawa Timur.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Sholihul Abidin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rembang-punya-wisata-alam-menawan-tapi-tidak-berkembang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rembang Punya Wisata Alam yang Menawan, Sayang Kotanya Tidak Berkembang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau ada yang bertanya, \u201cRembang itu Jawa Tengah atau Jawa Timur?\u201d Jawaban saya gampang: \u201cKTP Jawa Tengah, tapi secara hati ya Jawa Timur.\u201d<\/p>\n","protected":false},"author":3081,"featured_media":300401,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10004,2501,29914,4652],"class_list":["post-357381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-tengah","tag-jawa-timur","tag-kabupaten-rembang","tag-semarang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3081"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=357381"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357381\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/300401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=357381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=357381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=357381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}