{"id":357300,"date":"2025-09-15T08:00:45","date_gmt":"2025-09-15T01:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=357300"},"modified":"2025-09-14T22:17:07","modified_gmt":"2025-09-14T15:17:07","slug":"4-kuliner-jogja-untuk-wisatawan-surabaya-yang-lidahnya-rewel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kuliner-jogja-untuk-wisatawan-surabaya-yang-lidahnya-rewel\/","title":{"rendered":"4 Rekomendasi Tempat Kuliner Jogja untuk Wisatawan Surabaya yang Lidahnya Rewel"},"content":{"rendered":"<p><em>Kuliner Jogja satu-satunya hal yang sulit diterima wisatawan Surabaya.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja masih menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-rekomendasi-tempat-wisata-terbaik-di-jogja-yang-sayang-dilewatkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">destinasi wisata favorit wisatawan<\/a>. Apalagi bagi orang Surabaya seperti saya, berwisata ke Jogja menyenangkan karena aksesnya yang begitu mudah. Di antara banyaknya pilihan kendaraan, saya lebih senang naik mobil bersama rombongan . Selain lebih murah, waktu tempuhnya kini tidak memakan waktu lama karena pintu Tol Prambanan sudah dibuka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya, bagi wisatawan Surabaya, Jogja itu paket lengkap. Akses ke Jogja mudah, destinasi wisata beragam hingga banyak pilihan penginapan. Hanya satu kekurangan tempat ini: kulinernya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lidah mayoritas orang Surabaya tidak cocok dengan kuliner Jogja yang cenderung manis. Satu hal ini bisa membuat suasana berlibur mendadak berubah muram. Maklum saja, perkara perut memang bisa mengubah mood.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, tenang saja, berdasar pengalaman menjelajahi Kota Pelajar, saya menemukan beberapa kuliner Jogja yang bakal cocok di lidah arek Suroboyo sekalian. Semoga rekomendasi ini bisa menjaga mood dan perut kalian selama plesir ke Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Mak Semarangan bukan kuliner orisinal Jogja, tapi lebih diterima lidah arek Suroboyo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pengalaman saya, rasa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-semarang-yang-sebaiknya-jangan-dibawa-pulang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliner Semarang<\/a> lebih mudah diterima lidah Surabaya dari pada kuliner Jogja. Meskipun beberapa masakan ada rasa manisnya, tapi lidah Surabaya masih bisa menoleransinya. Buat wisatawan Surabaya yang lidahnya rewel, Mak Semarangan di Jalan Monjali sangat saya rekomendasikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan menu di sanaberagam, tapi kalau udah lapar banget saran saya langsung pesan Lontong Opor Cap Gomeh. Rasa makanan ini mirip dengan bumbu opor Surabaya, bisa jadi aroma ebi atau udang kecil yang bikin rasanya khas kuliner kota tepi laut. Menu ikan juga ada, seperti bandeng bakar plus sambal terasi khas Semarang yang cocok buat lidah Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau ngirit bisa juga pesan menu paket nasi ayam goreng kremes. Harganya sekitar Rp20 ribu sudah dapat es teh. Nggak cuma makanan berat, Egg Tart Mak Semarangan ternyata enak, bisa dibawa pulang juga buat oleh-oleh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain makanannya pas di lidah Surabaya, tempatnya juga menarik karena ornamen vintage di mana-mana. Jadi selain makan enak, sempatkan foto-foto bersama teman di Mak Semarangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kandang Ingkung cabang Kaliurang kuliner Jogja yang harganya bisa bikin kaget orang Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sarankan kalian mencicipi kuliner Jogja, Kandang Ingkung, yang terletak di Jalan Kaliurang. Lokasinya cocok buat perut kelaparan yang baru turun dari wisata Merapi. Meskipun tempatnya biasa saja, tidak terlalu luas, dan tidak ada tempat estetik untuk berfoto, tapi rasa masakannya tidak ada manisnya sama sekali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang belum tahu, <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2020\/08\/20\/191100975\/sejarah-dan-makna-ayam-ingkung-makanan-sesaji-dalam-adat-jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ayam ingkung<\/a> adalah kuliner Jogja asli. Biasanya makanan\u00a0 ini disajikan untuk acara syukuran atau slametan. Saat mencicipi makanan ini, saya baru tahu kalau masakan Jogja asli ternyata ada yang didominasi rasa gurih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menu Kandang Ingkung tentu saja Paket Ayam Ingkung satu ekor utuh. Menu ini disajikan bareng sambal korek, oseng jantung pisang, oseng daun pepaya, peyek bayam dan lalapan. Seporsinya mencapai Rp 150 ribu, tapi bisa disantap untuk 3-4 orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menu porsian juga sangat rekomen buat lidah Surabaya yang doyan jeroan. Ada nasi gurih pedas paru, nasi gurih pedas kikil dan nasi gurih pedas babat. Enak wes to enak, asal jangan sering-sering makan jeroan karena negara ini masih butuh anak muda yang sehat, bugar dan panjang umur.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga untuk sepiring nasi gurih tadi berkisar Rp26 ribu sampai Rp30 ribu. Kalau camilan seperti mendoan atau pisang goreng sekitar Rp12 ribu sampai Rp15 ribu. Wisatawan Surabaya mungkin akan terkejut melihat harga di menu karena mirip dengan makanan di resto Surabaya, resto ya bukan warung.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Sate Kambing Muda Tegal-Pak Harto Tahu bisa jadi pilihan kalau ingin sat-set\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penyuka <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/dosa-pedagang-sate-kambing-yang-sulit-dimaafkan-pembeli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sate kambing<\/a>, saya mengakui kalau olahan sate kambing Jogja dan Jawa Tengah jagoannya. Sate kambing adalah solusi makan paling mudah bagi wisatawan Surabaya yang ingin kulineran enak Jogja. Rasa manisnya ya paling gitu-gitu saja, masih kalah dengan rasa daging kambing yang khas. Apalagi, menu yang disajikan Sate Kambing Muda Tegal Pak Harto Tahu. Semua makanan di sana enak banget, tidak bau prengus dan empuk. Disajikan kodian di atas hotplate dan tempatnya bersih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal harga, sate kambing di Jogja jauh lebih murah dibandingkan di Surabaya. Satu kodi atau 20 tusuk sate di sini hanya Rp110 ribu. Lebih enak lagi kalau dimakan bersama sop balungan yang bening, harga seporsinya Rp30 ribu cukup buat 2 sampai 3 orang. Oiya, menariknya, bersama sambal kecap, tomat hijau selalu disertakan. Mungkin agar lidah terasa segar dan tidak enek.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lokasi tempat kuliner satu ini berada di Tiyasan, tepatnya di Jalan Sidomukti, Condongcatur. Tak jauh dari Jalan Kaliurang. Tempatnya memang tidak terlalu luas, tapi adem karena bisa dinikmati sambil menghadap hamparan sawah. Yang estetik nggak cuma kopi, sate kambing juga bisa.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Desa Palagan, resto yang menjual rasa ndeso idaman wisatawan Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desa Palagan bukan nama desa. Ini nama resto di wilayah Jogja bagian Utara. Lokasinya agak masuk, tapi gampang ditemukan. Alamatnya di Jalan Shinta, Karang Moko, Sariharjo. Atau ketik saja Desa Palagan di Google pasti muncul lokasi sekalian menunya. Resto yang mengusung konsep prasmanan ini bisa didatangi jam berapa saja, seperti Warung Madura, resto ini buka 24 jam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep prasmanan bisa jadi solusi untuk wisatawan Surabaya yang rewel. Sebab, di sana wisatawan bisa\u00a0 bebas memilih lauk yang disuka. Pilihan lauknya banyak, mulai ayam goreng, ayam bakar, ayam bacem, mangut ayam, mangut ikan pe, tahu tempe bacem, lele goreng dan sebagainya.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sayurannya juga beragam, mulai lodeh, sop, bothok, oseng sayur dan garang asem. Lalu ada juga menu angkringan yang menjual aneka camilan, seperti singkong, pisang goreng dan tentu saja sate-satean.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menu masakannya memang khas kuliner Jogja ndeso. Itu mengapa harganya tidak terlalu mahal. Harga lauknya tersedia mulai dari Rp6 ribu sampai Rp45 ribu, sangat bervariasi jadi tinggal dicocokkan saja dengan budget kulineranmu. Yang istimewa di Desa Palagan sebenarnya menu wedangannya. Ada wedang empon-empon, wedang keruk, wedang abang dan masih banyak aneka wedangan yang baru saya dengar namanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga saja 4 rekomendasi tempat kuliner Jogja di atas bisa membantu wisatawan Surabaya yang lidahnya yang rewel, terutama terhadap makanan manis. Sebab, Bagi orang Surabaya, yang seharusnya manis itu memang cuma jajan pasar dan UMR. Semoga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/umr-jogja-bikin-stres-tapi-belum-bikin-gila-kayak-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMR Jogja<\/a> nantinya semanis rasa kotanya, salam manis dari Surabaya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rina Widowati<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lalu-lintas-medan-terlalu-barbar-untuk-perantau-asal-surabaya\/\"><b><i>Lalu Lintas Medan Terlalu Barbar untuk Perantau Asal Surabaya seperti Saya.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>4 rekomendasi tempat makan ini bisa jadi pilihan wisatawan Surabaya yang sering nggak cocok dengan kuliner Jogja yang cenderung manis. <\/p>\n","protected":false},"author":2605,"featured_media":357323,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[115,438,4418,1582,16521,405,29901,939,9830,29902],"class_list":["post-357300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jogja","tag-kuliner","tag-kuliner-jogja","tag-makanan-khas-jogja","tag-orang-surabaya","tag-surabaya","tag-tempat-makan-jogja","tag-wisata-kuliner","tag-wisatawan","tag-wisatawan-surabaya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2605"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=357300"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357300\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/357323"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=357300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=357300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=357300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}