{"id":3573,"date":"2019-06-12T14:00:55","date_gmt":"2019-06-12T07:00:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3573"},"modified":"2022-01-17T13:44:18","modified_gmt":"2022-01-17T06:44:18","slug":"sumber-lelahmu-hari-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sumber-lelahmu-hari-ini\/","title":{"rendered":"Sumber Lelahmu Hari Ini"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Apa kamu lelah? Kamu harus selalu sehat dan jangan mati hari ini\u2014banyak yang belum kamu raih dalam hidupmu. Tidak baik jikalau menyerah secepat ini\u2014hidup harus terus bergulir apa pun itu.\u00a0 <\/span><span class=\"s1\">Tak peduli kondisimu seperti apa. Sakit?\u2014dunia ini hanya mengenal kata &#8220;sehat&#8221;. Lemah?\u2014tempat hidupmu hanya tahu kata \u201cmampu\u201d.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Ingatlah kamu bisa berprestasi. Kemampuanmu baru sedikit kamu curahkan\u2014lagi. Keluarkan lagi\u2014terabas batas ketidakmampuanmu.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0 <\/span>Kesuksesan akan berdiri tegak\u2014menantimu di depan.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Kamu sudah melakukan semuanya, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Di kamar kamu tidak pernah tenang memikirkan apa yang kamu kerjakan. Kamu sudah bekerja keras, mematuhi <\/span><span class=\"s2\"><em>deadline<\/em> dengan<\/span><span class=\"s1\">\u00a0disiplin<\/span><span class=\"s2\">.\u00a0<\/span><span class=\"s1\">Namun lama-kelamaan kamu merasa diburu sesuatu\u2014dikejar-kejar sampai ke dalam mimpi\u2014dan kamu stres, depresi, lelah berkepanjangan. Kalau sudah seperti ini yang kamu derita maka akan sangat sulit dicari obatnya. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Mungkin kamu menderita <\/span><a href=\"https:\/\/www.psychologytoday.com\/us\/basics\/burnout\"><em><span class=\"s2\">burnout<\/span><\/em><\/a><span class=\"s1\">\u2014p<\/span><span class=\"s1\">enyakit apa itu? Pada tahun 1974 seorang psikoanalis Amerika Serikat memperkenalkan sindrom <\/span><em><span class=\"s2\">burnout<\/span><\/em><span class=\"s2\"><span class=\"s1\">\u2014d<\/span><\/span><span class=\"s1\">ia adalah Herbert Freudenberger. Dalam beberapa tulisan tentang sindrom ini disebutkan bahwa apabila kamu merasa kelelahan berkepanjangan secara mental, fisik maupun emosi akibat kerja, kemungkinan kamu sedang menderita <\/span><em><span class=\"s2\">burnout<\/span><\/em><span class=\"s1\">. Ciri pokoknya\u2014seperti <a href=\"https:\/\/www.alinea.id\/gaya-hidup\/burnout-sindrom-psikologis-kelelahan-bekerja-memicu-stres-b1XeF9j2o\">ditulis Annisa Saumi di alinea.id<\/a>\u2014ada tiga: kelelahan, sinisme, dan ketidak efisienan secara profesional.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Namun ketahuilah bahwa akar penyakit ini dari dalam dirimu sendiri. Bukan virus yang datang dari alien atau wabah yang ditularkan tikus. Ketika kamu terus-menerus menggumamkan mantra \u201caku bisa\u201d atau \u201caku mampu\u201d dan merasa hal itu kamu lakukan karena kebebasanmu sendiri\u2014karena kamu manusia bebas\u2014, ketahuilah kamu adalah contoh subjek di era neoliberal seperti dibahas <em>Byung-Cul Han<\/em> dalam buku-bukunya, terutama <\/span><span class=\"s2\">Burnout Society (2015)<span class=\"s1\">\u2014d<\/span><\/span><span class=\"s1\">alam hal ini kemudian kamu bersimpuh dalam lelah, stres, depresi.\u00a0<\/span><span class=\"s1\">Penjelasan Han\u2014filsuf Korea yang tinggal di Jerman itu\u2014tentang <em>burnout<\/em> agak berbeda. Lebih tepatnya sebenarnya ia membahas subjek neoliberal yang hari ini tampak sering lelah, membahas kepengaturan (<em>govermentality<\/em>) di era neoliberal. <\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Subjek Prestasi<\/strong><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Kelelahanmu \u00a0datang karena kamu mengeksploitasi dirimu sendiri atas nama kebebasan atau kesukarelaan. Kamu menyetorkan dirimu ke dalam perputaran sistem neoliberal lantaran \u201ckebebasan\u201d sudah diedar seluas-luasnya\u2014<a href=\"https:\/\/mojok.co\/zel\/esai\/merokok-sukarela\/\">kamu masuk secara sukarela<\/a>. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Padahal kebebasan hari ini, dalam beberapa kasus, terutama kasusmu, beralih wujud menjadi \u201cpengontrol.\u201d\u00a0<\/span><span class=\"s1\">Ya\u2014itu karena modus eksplotasi di era neoliberal sudah bergeser. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sebelumnya, dalam masyarakat berbasis kontrol ala menara panoptikon, subjek didisiplinkan dalam skema (1) pengawasan, (2) pelarangan, dan (3) perintah. \u201cAku tidak boleh\u201d begini, \u201cAku seharusnya\u201d tidak begini. Di sini kebebasan dan tubuhmu yang didisiplinkan dan makanya disebut <\/span><span class=\"s2\">sistem biopolitik.\u00a0 <\/span><span class=\"s1\">Kamu\u2014yang disebut-sebut sebagai bonus demografi\u2014barangkali tidak mengalami era biopolitik. Kamu mengalami yang sekarang\u2014sebuah tatanan sosial dengan <\/span><span class=\"s2\">sistem psikopolitik. <\/span><span class=\"s1\">Kamu didisiplinkan psikismu dalam sistem ini\u2014ya, psikismu. Dengan skema pendisiplinan berkedok (1) prestasi, (2) inisiatif, dan (3) motivasi\u201d kamu mendorong dirimu sendiri untuk menjadi berprestasi\u2014untuk selalu punya inisiatif dan terobosan-terobosan anyar dan untuk tidak lelah menyemangati diri apa pun yang terjadi.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Singkatnya kamu memotivasi dirimu bahwa \u201caku bisa\u201d atau \u201caku mampu\u201d dalam segala hal yang bisa memajukanmu ke masa depan terbaik. \u201cAku bisa\u201d dan \u201caku mampu\u201d adalah mantra yang menggelindingkan perekonomian di era neoliberal. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Kamu di sini bebas\u2014itu bedanya. Kamu yang menentukan hidupmu adalah tanganmu sendiri\u2014tidak ada yang melarang dan membatasimu mengerjakan apa saja. Tidak ada relasi tuan dan budak\u2014kamu bukan budak siapa pun dan kamu adalah tuan bagi dirimu sendiri.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Tapi ironisnya kamu adalah budak bagi dirimu sendiri. Kamu punya laci pengetahuan yang lengkap tentang dirimu\u2014kamu lebih tahu dari siapa pun tentang caramu berpikir, tentang apa pun dari dirimu sendiri. Jika tidak\u2014di luar sana berjibun jasa pendidikan atau pelatihan yang siap memahamkanmu menyangkut siapa dirimu. Lalu dengan segala pengetahuan itu\u2014kamu mengeksploitasi diri lebih giat dari sebelumnya. Sebab kamu sudah tahu <em>passion<\/em>-mu, bakatmu, dan keahlianmu. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Kamu pun meluncur menjadi pekerja rentan. Tidak istirahat\u2014dan kamu akhirnya lelah, kemudian stres dan depresi jika tak tertolong.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p class=\"p1\"><strong><span class=\"s3\">Menjadi Tidak Mampu<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Bagaimana jalan keluarnya? Maka kamu mungkin perlu menerapkan <\/span><span class=\"s2\">seni hidup lambat<\/span><span class=\"s1\">. Pilih satu dua pekerjaan secukupnya dalam seminggu dan kerjakan dengan santai tapi kelar. Atau menjadilah tidak \u201cmampu\u201d. Jika kamu didorong untuk selalu mampu\u2014kenapa tidak dengan menjadi tidak mampu?<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Atau jadilah amatir. Kamu ahli dalam satu hal tapi memilih tidak menjalani kehidupan sebagai seorang profesional. Profesionalisme adalah pendisiplinan yang lain, dan menjadi amatir berarti menolak pendisiplinan itu.\u00a0<\/span><span class=\"s1\">Dengan itu hiduplah dengan baik\u2014mungkin selama ini kamu terlalu sibuk dengan hidup sehingga lupa pada apakah kualitas hidupmu sudah baik atau belum. Hal yang membuat kamu lupa adalah hasratmu menjadi subjek berprestasi. Lupakan\u2014menjadilah tidak mampu berprestasi.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamu pun meluncur menjadi pekerja rentan. Tidak istirahat\u2014dan kamu akhirnya lelah, kemudian stres dan depresi jika tak tertolong.<\/p>\n","protected":false},"author":127,"featured_media":3626,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[914,241,913,915],"class_list":["post-3573","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-pencapaian-hidup","tag-psikologi","tag-sumber-lelah","tag-tuntutan-masyarakat"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3573","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/127"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3573"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3573\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3626"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}