{"id":357252,"date":"2025-09-14T11:09:32","date_gmt":"2025-09-14T04:09:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=357252"},"modified":"2025-09-14T11:09:32","modified_gmt":"2025-09-14T04:09:32","slug":"4-derita-dan-kejadian-konyol-saat-kkn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-derita-dan-kejadian-konyol-saat-kkn\/","title":{"rendered":"Derita dan Kejadian Konyol Pengalaman Saya Saat KKN di Jember: Salah Satunya Dikira Timses Prabowo Hanya karena Berpakaian Necis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat tiba musim KKN, banyak kelompok yang memamerkan prokernya. Sayangnya, berbeda dengan yang saya alami, malah ada derita dan kejadian konyol. Namun, walaupun begitu tidak menjadi persoalan serius bagi saya, justru kadang melalui kejadian tersebut membuat kegiatan ini jadi berkesan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketepatan di waktu itu saya KKN periode kedua tahun 2024. Jadi, tidak dikolaborasikan dengan beberapa kampus di Kabupaten Jember. Kelompok saya bertempat di Desa Sebanen, Kecamatan Kalisat, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nyatanya-jember-itu-lebih-menenangkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jember<\/a> yang warganya cukup ramah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Posko KKN dekat kuburan keluarga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada 2 rumah kosong yang disarankan untuk tempat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasang-foto-rektor-di-baliho-posko-kkn-itu-tujuannya-apa-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">posko<\/a> kami. Meskipun, kami tidak menyangka bakalan berdekatan dengan kuburan keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, kami diarahkan oleh pamong desa suruh menempati rumah kosong di belakangnya balai desa. Saat mengecek lokasi rumah. Ketua kelompok saya namanya Asrof berbisik, \u201cBelakang rumahnya ada kuburan.\u201d Mendengar bisikan itu. Kami memilih untuk tidak bertempat di situ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami memilih opsi kedua. Posko KKN yang berdekatan dengan rumah Pak RT. Fasilitas lumayan bagus dan nyaman. Ya minimal tidak sampai mandi di sungai. Meskipun rumah kosong, tapi tidak terkesan serem banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya kami mengira tidak ada kuburan seperti opsi rumah kosong yang pertama. Tapi, ternyata keesokan harinya kami baru ngerti, kalau depan posko yang ketepatan juga rumah mantan kepala desa itu ada kuburan keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KKN memang mengajarkan mahasiswa untuk berbaur dengan masyarakat. Tapi bukan berarti harus akrab dengan setan dan jinnya. Sebab, kedatangan kami di desa untuk belajar, bukan ritual sesembahan makhluk halus.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sulitnya menemui kepala desa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, mahasiswa KKN itu layaknya tamu. Mereka tidak boleh semaunya sendiri asal masuk desa, tanpa bersilaturahmi terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah pelepasan dari kampus, kami langsung menuju balai desa, untuk penyerahan mahasiswa KKN pada Kepala Desa. Namun, saya cukup heran. Kami tidak disambut langsung oleh Kepala Desa. Dari situ saya sudah janggal dengan keberadaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak pikir panjang. Keesokan harinya. Kami mendatangi rumah Pak Kades. Tujuan kami hanya satu: silaturahmi untuk izin menempati desanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tujuan baik itu tidak semudah yang kami bayangkan. Datang ke rumahnya bisa berbincang riang gembira, sambil presentasi proker. Ternyata, berbanding terbalik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rumah Pak Kades sepi. Kami mencoba datang kedua kalinya. Lagi-lagi tidak bertemu. Kami baru ngerti dan bertemu Pak Kades saat pembagian bansos di balai desa tiap awal bulan. Sungguh derita paling membagongkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Proker KKN bersih-bersih rumput di balai desa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/13-tabiat-mahasiswa-kkn-yang-dibenci-warga-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">balai desa<\/a> saat itu agak sedikit memprihatinkan. Sebab banyak rumput yang tumbuh di sekitaran balai desa. Jadi mau nggak mau, bersih-bersih rumput masuk ke proker KKN kami. Memang kurang begitu menarik, tapi berdampak untuk balai desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peralatan yang kami gunakan seadanya, seperti cangkul dan celurit. Bukan mesin pemotong rumput. Wajar hidup di desa. Apa saja yang kita pakai pasti secara tidak langsung akan disorot oleh masyarakat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pakaian necis dan pakai id card, dikira timses Prabowo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketepatan saya KKN di momen Pemilihan Presiden. Saat itu banyak calon presiden yang berkontestasi, salah satunya Prabowo Subianto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap calon pasti mempunyai jargon andalan dan jaringan timses di pedesaan. Sedangkan kami yang saat itu hanya silaturahmi ke salah satu rumah Pak RT, malah dikira timsesnya Prabowo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa KKN memang identik dengan pakaian necis berjas almamater kampus dan berkalung id card. Kedua tanda tersebut, ternyata telah mengelabui pandangan masyarakat. Sebab, kemiripan antara mahasiswa KKN dengan timses hampir sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi saat itu, efek jargon Prabowo \u201c<a href=\"https:\/\/www.suara.com\/entertainment\/2025\/08\/31\/060000\/dulu-joget-oke-gas-dan-suami-dapat-jatah-jabatan-kini-adik-nagita-slavina-kecewa-situasi-negara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Oke Gas<\/a>\u201d sangat kuat di masyarakat desa, sehingga mengira kami seakan-akan mau ikut mensukseskan pemilihannya. Padahal tidak sama sekali. Sontak kami pun terus terang mengklarifikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, dari beberapa kejadian selama KKN, kami jadi mengerti bagaimana seharusnya menyikapi masyarakat desa. Menjadi sadar untuk tidak sok tau, congkak dan tetap beretika di segala tempat. Itu prinsip yang perlu diperhatikan bagi mahasiswa yang sedang menjalani KKN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M Nur Fadli<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kkn-usang-tidak-membangun-desa-mending-diganti-magang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KKN Sudah Usang. Tidak Mendapat Pengalaman, Tidak Juga Membangun Desa, Mending Diganti Magang<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya menjalani KKN di Kecamatan Kalisat, Jember. Di sana, setidaknya saya mengalami 4 kejadian konyol yang bikin KKN makin greget.<\/p>\n","protected":false},"author":2820,"featured_media":357270,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[275,29893,29891,368,15175,29892],"class_list":["post-357252","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kkn","tag-pelepasan-kkn","tag-posko-kkn","tag-prabowo","tag-proker-kkn","tag-timses-prabowo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2820"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=357252"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/357252\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/357270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=357252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=357252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=357252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}