{"id":3565,"date":"2019-06-12T15:00:15","date_gmt":"2019-06-12T08:00:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3565"},"modified":"2022-01-17T13:44:04","modified_gmt":"2022-01-17T06:44:04","slug":"kiat-menjadi-pakar-dengan-modal-kuota-internet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kiat-menjadi-pakar-dengan-modal-kuota-internet\/","title":{"rendered":"Kiat Menjadi Pakar dengan Modal Kuota Internet"},"content":{"rendered":"<p>Kata siapa untuk menjadi pakar dalam suatu bidang harus sekolah tinggi-tinggi dan baca buku sebanyak mungkin? Udah nggak zaman lagi yang kayak begitu. Sekarang udah era Revolusi Industri 4.0. Ingat, Revolusi Industri 4.0\u2014ada jalan pintas untuk menjadi pakar.<\/p>\n<p>Tidak harus dengan cara menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin. Apalagi seperti Maudy Ayunda yang sampai kebingungan memilih Stanford atau Harvard University.\u00a0Yang kamu butuhkan cukup sebuah <em>gadget<\/em> dan kuota internet\u2014dengan kedua hal itu, kamu bisa menjadi pakar segalanya.<\/p>\n<p>Mau menjadi pakar agama? Gampang\u2014tinggal rajinlah sowan ke Syekh Google. Nggak perlu lagi itu yang namanya belajar kitab kuning atau nyantri bertahun-tahun. Sekarang kamu bisa belajar melalui Google\u2014yang warna logonya bukan cuma kuning, tapi merah, kuning, hijau, dan biru sekaligus. Lebih berwarna, bukan?<\/p>\n<p>Kamu juga bisa belajar lewat YouTube. Sudah nggak perlu lagi datang jauh-jauh ke suatu daerah untuk bersimpuh di hadapan kiai\u2014apalagi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/nvb\/esai\/belajar-menghukum-koruptor-sampai-ke-negeri-cina\/\">sampai pergi ke negeri Cina<\/a>. Selain Cina itu jauh banget dan mahal ongkos buat ke sananya, bisa-bisa kamu nanti dicurigai sebagai <em>antek aseng<\/em>. Jadi, mendingan duduk kalem di depan layar laptop. Ketik <em>keyword<\/em> apa pun yang pengen kamu kuasai\u2014maka jadilah.<\/p>\n<p>Mau jadi pakar politik? Itu lebih gampang lagi. Sekarang ilmu politik ada di mana-mana. Bukan lagi menjadi monopoli institusi pendidikan atau seorang ahli yang kepalanya botak dan kalau ngomong bahasanya njelimet.<\/p>\n<p>Kamu bisa belajar ilmu politik melalui berita-berita media <em>online<\/em>, Wikipedia, blog-blog yang <span style=\"text-decoration: line-through;\">sama sekali nggak kredibel dan nggak jelas siapa penulisnya <\/span>sangat bermanfaat, dan potongan-potongan video YouTube. Bahkan, kamu juga bisa belajar dari <em>broadcast<\/em> WhatsApp yang katanya kebanyakan mengandung hoaks itu\u2014bohong itu, karena nggak pernah ada hoaks di dalam <em>broadcast-broadcast <\/em>WhatsApp. <span style=\"text-decoration: line-through;\">Nggak pernah ada sedikit, maksudnya<\/span>. WhatsApp adalah sumber kebenaran.<\/p>\n<p>Untuk paham soal komunisme, sosialisme, anarkisme, dan isme-isme yang lain juga bukan lagi hal rumit. Kamu bisa menjadi pakar dari semua isme dengan cara yang praktis. Kalau mau menguasai komunisme\u2014misalnya. Nggak perlu lagi melahap <em>Das Kapital<\/em> yang setebal bantal beserta segala penjelasannya. Kamu hanya perlu mendengarkan \u201cBahaya Komunis\u201d-nya Jason Ranti selama sehari semalam. Maka jadilah kamu pakar komunisme!<\/p>\n<p>Atau kamu bisa menonton film Pengkhianatan G 30 S-PKI yang banyak beredar di YouTube. Putarlah film itu berulang-ulang sampai seluruh adegannya kamu hafal di luar kepala. Jika sudah hafal, resmilah sekarang kamu menjadi pakar komunisme terbesar di abad ini. Gimana, gampang banget, kan?<\/p>\n<p>Perlu juga kamu tahu, kiat belajar nan mudah yang saya paparkan ini bukan omong kosong saya belaka. Kamu tahu Eka Kurniawan, Sastrawan Indonesia yang telah mendunia itu? Beliau pernah membahas soal ini.<\/p>\n<p>\u201cSeperti banyak bisnis, artis, selebriti, bermunculan melalui dunia internet dan digital. Saya yakin dunia intelektual seharusnya juga demikian,\u201d tulis<a href=\"https:\/\/www.jawapos.com\/opini\/06\/04\/2019\/intelektual-publik\/\"> Eka dalam opininya di Jawa Pos<\/a> (6\/4\/2019). \u201cApa yang disebut sebagai intelektual publik, yakni intelektual atau pakar yang tidak berasal dari lingkungan akademis, justru sangat mungkin lahir dari kultur tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Lihat\u2014beliau tidak mengharuskan menjadi seorang intelektual atau pakar mesti melalui jenjang akademis pada umumnya. Tapi bisa juga melalui dunia internet dan digital!<\/p>\n<p>\u201cOrang bisa belajar pemrograman dan bahkan merakit mesin melalui internet. Jadi, kenapa tidak belajar sosial, politik, agama, juga filsafat? Sekarang pokok soalnya, bagaimana kita menciptakan pakar-pakar baru sama baiknya melalui perguruan tinggi maupun YouTube atau layanan lain. Itu seharusnya menjadi tantangan baru dunia intelektual kita,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p>Tuh, dengar baik-baik kata beliau. Kita bisa menciptakan pakar-pakar lewat YouTube. Kamu bisa menjadi pakar hanya bermodal YouTube dan Google\u2014hanya dengan bermodalkan kuota internet!<\/p>\n<p>Jadi, kamu nggak perlu lagi membebani orang tua dengan UKT perguruan tinggi yang mahalnya minta ampun. Atau membeli buku yang harganya kian hari kian melangit. Ingat, kamu hanya butuh seperangkat <em>gadget<\/em> dan kuota internet\u2014yang sangat murah dan mudah didapatkan.<\/p>\n<p>Bagaimana, sudah siap menjadi pakar? Sudah siap membuat status-status <span style=\"text-decoration: line-through;\">sok pinter<\/span> bergizi dan penuh ilmu di media sosial? Sudah siap menyelesaikan semua persoalan umat? Sekarang sudah tahu kan caranya? Yap, betul. Kamu sudah nggak memerlukan lagi guru, buku, kampus\u2014yang kamu butuhkan hanyalah kuota internet!<\/p>\n<p><span style=\"text-decoration: line-through;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Soal ketika listrik padam kamu tiba-tiba jadi kebingungan nyari referensi, nggak usah dipikirin!<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata siapa untuk menjadi pakar dalam suatu bidang harus sekolah tinggi-tinggi dan baca buku sebanyak mungkin? Udah nggak zaman lagi yang kayak begitu.<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":3634,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[401,916,917,717],"class_list":["post-3565","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-kritik-sosial","tag-menjadi-pakar","tag-modal-kuota-internet","tag-revolusi-industri-4-0"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3565","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3565"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3565\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3634"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3565"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3565"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3565"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}