{"id":356461,"date":"2025-09-11T15:21:22","date_gmt":"2025-09-11T08:21:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=356461"},"modified":"2025-09-15T08:40:37","modified_gmt":"2025-09-15T01:40:37","slug":"perempuan-sunda-nggak-matre-tapi-jago-atur-keuangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempuan-sunda-nggak-matre-tapi-jago-atur-keuangan\/","title":{"rendered":"Sering Dianggap Matre, Padahal Perempuan Sunda Paling Unggul Mengelola Keuangan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saya sempat mengalami sebuah kendala. Saya adalah laki-laki yang tumbuh besar di keluarga yang masih memegang erat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memilih-hidup-sendiri-ketimbang-tunduk-pada-budaya-patriarkis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tradisi Jawa<\/a>. Kondisi ini membuat saya mengalami kendala saat pertama kali menceritakan rencana saya untuk menikahi perempuan Sunda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma miring tentang perempuan Sunda, yang katanya matre, sepertinya sudah bersarang di kepala keluarga saya. Dan saya yakin, tanpa dasar yang jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah darimana stigma tersebut muncul. Seolah telah dianggap sebagai hal yang umum oleh sebagian orang yang sebenarnya justru hidup di luar dari wilayah Sunda itu sendiri. Tentu ini sangat mengganggu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, saya yang menjalani hubungan secara langsung, malah tidak pernah menemukan stigma buruk ini di pasangan saya. Bahkan selama hampir lima tahun menjalin hubungan, pasangan saya tidak pernah menunjukan sikap itung-itungan ataupun meminta-minta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang membuat saya yakin untuk menikahinya. Meski memang, stigma di dalam kepala keluarga saya tidak sepenuhnya hilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, setelah menjalani kehidupan rumah tangga bersama istri di salah satu pelosok wilayah di Jawa Barat, saya jadi mengerti asal munculnya stigma matre ini. Saya menemukannya saat mempelajari kehidupan serta budaya masyarakat Sunda dari akar rumput.<\/span><\/p>\n<h2><b>Posisi perempuan dalam budaya Sunda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kali pertama menginjakan kaki di tanah Sunda, hal membuat saya terkesan adalah kekayaan di sektor agrarisnya. Dengan wilayah yang masih asri dan dikelilingi oleh pegunungan, menjadikan masyarakat Sunda kaya akan sawah dan ladang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dalam budaya agraris Sunda, perempuan memiliki peran yang penting melalui pasar tradisional. Mereka menjadi aktor utama dalam jual beli hasil bumi serta terbiasa dalam pengelolaan rumah tangga dan hasil panen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada adagium lokal yang cukup merepresentasikan posisi wanita Sunda dalam rumah tangga. Bunyinya: \u201cIistri teh pangatur dapur jeung warung.\u201d Artinya: Istri adalah pengatur dapur dan ekonomi kecil.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hak waris untuk perempuan relatif lebih kuat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain mendapat peran yang cukup sentral, dalam tradisi keluarga Sunda tradisional, perempuan juga mendapat anugerah hak waris berupa tanah pertanian. Tanah ini biasanya disebut sebagai <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jabar\/cirebon-raya\/d-7325912\/menyingkap-filosofi-indung-dari-sawah-buyut-lumbung-dalem-indramayu\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sawah indung<\/a> atau tanah pusaka indung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Filosofinya, karena perempuan lebih dekat dengan urusan rumah dan pangan, maka sawah sebagai sumber kehidupan akan diwariskan kepada mereka. Sementara anak laki-laki mendapat bagian lain misalnya harta bergerak, ternak, atau peluang sosial melalui perantauan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa hal yang baru saya ketahui tersebut saya jadi mengerti. Bahwa stigma perempuan Sunda matre ini bukan cerminan sifat etnis, tetapi salah tafsir suku lain akibat perbedaan kerangka budaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Wilayah Sunda sejak dulu memang dikenal subur mulai dari sawah, kebun teh, kopi, sayur, hingga perkebunan kolonial<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kehidupan agraris yang relatif stabil itulah yang memberi ruang lebih bagi perempuan Sunda untuk berperan sentral dalam ekonomi. Hingga saat menjalin relasi asmara pun mereka ada kecenderungan untuk lebih eksplisit menilai kemampuan finansial calon pasangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara suku lain, dengan budaya yang lebih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pentingnya-transparansi-uang-laki-dalam-hubungan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">patriarkis<\/a>, cenderung akan menganggap perempuan Sunda matre karena lebih vokal soal keuangan. Padahal itu hanyalah ekspresi peran budaya mereka masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma buruk itu bisa dengan mudah dihilangkan. Kita hanya perlu mau untuk mempelajari dan memahami budaya. Saya yakin, budaya yang baik akan menghasilkan manusia yang baik pula. Kita hanya perlu memahaminya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Indra Januar Gunardi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempuan-sunda-katanya-matre-dan-stereotipe-keliru-lainnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stigma perempuan Sunda matre ini bukan cerminan sifat etnis, tetapi salah tafsir suku lain akibat perbedaan kerangka budaya.<\/p>\n","protected":false},"author":3077,"featured_media":356893,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[29851,29849,10071,29848,1152,29850],"class_list":["post-356461","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-cewek-matre","tag-cewek-sunda-matre","tag-perempuan-sunda","tag-stigma-cewek-sunda","tag-sunda","tag-sunda-matre"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/356461","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=356461"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/356461\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/356893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=356461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=356461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=356461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}