{"id":356043,"date":"2025-09-10T11:02:06","date_gmt":"2025-09-10T04:02:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=356043"},"modified":"2025-09-10T11:02:30","modified_gmt":"2025-09-10T04:02:30","slug":"dosa-jurusan-pendidikan-yang-membuat-mahasiswanya-menderita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-jurusan-pendidikan-yang-membuat-mahasiswanya-menderita\/","title":{"rendered":"Dosa Jurusan Pendidikan yang Membuat Hidup Mahasiswanya Menderita"},"content":{"rendered":"<p><em>Jurusan Pendidikan &#8220;berdosa&#8221; pada para mahasiswanya karena tidak memberi cukup bekal.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan tidak pernah jadi hal yang benar-benar serius di negara ini. Mungkin banyak orang dan pejabat yang menghargai kerja guru dan tenaga pendidik. Namun, itu hanya di mulut. Tidak pernah ada aksi yang benar-benar nyata untuk menghargai kerja mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, gelagat itu sudah terbaca sejak para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-guru-paud-dianggap-aneh-dan-nggak-punya-masa-depan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">guru dan tenaga pendidik<\/a> duduk sebagai mahasiswa di Jurusan Pendidikan. Kuliah di jurusan ini kerap dipandang sebelah mata. Selain itu, mahasiswanya tidak pernah benar-benar tahu kondisi lapangan atau kondisi pendidikan tanah air. Mungkin saja tahu, tapi berbagai narasi yang beredar di jurusan ini membuatnya semakin kabur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah yang saya sebut dengan dosa Jurusan Pendidikan pada para mahasiswanya. Jurusan tidak memberikan cukup bekal. Mahasiswa tidak bisa bertahan, atau bahkan mungkin terseok-seok, di belantara bernama profesi guru di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Narasi guru adalah pekerjaan mulia yang perlu diwaspadai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu yang lalu, potongan video <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/hikmah\/khazanah\/d-8094924\/minta-maaf-menag-tegaskan-guru-adalah-profesi-yang-sangat-mulia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menteri Agama (Menag) <\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Nasaruddin Umar viral. Pada pembukaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (3\/9\/2025), dia mengatakan guru adalah profesi mulia. Nasaruddin Umar menambahkan, para guru jangan minder dan jangan ikut-ikutan pedagang yang tujuannya memang mencari uang.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu kalimat yang jadi sorotan netizen, \u201cKalau mau cari uang jangan jadi guru, jadi pedagang,\u201d begitu katanya. Netizen menilai kalimat itu hanya akan melanggengkan kondisi guru yang tidak sejahtera di Indonesia. Asal tahu saja, selama ini gaji guru tidak layak karena bersembunyi di balik kata \u201cpengabdian\u201d dan \u201ckerja mulia\u201d. Dan, kata-kata dari Menag hanya memperburuk keadaan tersebut,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percaya atau tidak, tapi itulah yang juga terjadi di Jurusan Pendidikan. Jurusan ini selalu menjual \u201cpanggilan hati\u201d atau \u201cpekerjaan mulia\u201d. Itu tidak salah memang, hanya saja, jurusan kadang lupa, kesejahteraan juga jadi poin penting yang perlu diperjuangkan. Bagaimana mungkin guru atau tenaga pendidik bekerja dengan maksimal kalau kesejahteraannya tidak terjamin?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jurusan Pendidikan terlalu banyak teorinya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sedikit mahasiswa lulusan Jurusan Pendidikan gagap ketika masuk dunia kerja. Sebab, selama di bangku kuliah, mereka terlalu banyak belajar teori, tidak diimbangi dengan pengetahuan lapangan yang mumpuni.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, teori-teori pendidikan seperti seperti filsafat pendidikan, teori belajar, psikologi perkembangan sangatlah penting. Namun, apabila tidak dibarengi dengan penerapan atau analisanya di lapangan, semua akan terasa sia-sia belaka. Mata kuliah-mata kuliah itu hanya jadi dongeng akademis.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Praktik mengajar yang tidak \u201cngena\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, mahasiswa diberi kesempatan untuk menerapkan teori-teori yang sudah dipelajari di praktik mengajar alias <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-ppl-banyak-dimanfaatkan-sedikit-dapat-ilmu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)<\/a>. Di saat itu, mahasiswa diberi kesempatan untuk masuk ke kelas-kelas dan berperan sebagai guru atau pengajar sungguhan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu idealnya. Kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa PPL yang dimanfaatkan sebagai pesuruh. Mahasiswa Jurusan Pendidikan jadi lebih jago <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/usaha-fotokopi-lakukan-praktik-kotor-bikin-resah-pelanggan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">fotokopi<\/a> dan bikin minuman daripada mengajar. Kalaupun tidak dijadikan pesuruh, mahasiswa tidak dilibatkan secara bermakna dalam proses di kelas. Intinya, mereka tidak bisa mendapat banyak ilmu dari sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entahlah, ini salah siapa. Bisa jadi salah sekolah yang dituju untuk PPL. Namun, tidak menutup kemungkinan salah Jurusan Pendidikan yang tidak punya kontrol terhadap sekolah-sekolah yang dituju dan mahasiswanya. Bisa juga, memang sejak awal sistem pendidikan di Indonesia keliru. Itu semua merambat pada banyak hal, termasuk kurikulum yang diterapkan di Jurusan Pendidikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menuliskan ini membuat hati saya miris. Jurusan Pendidikan seharusnya menghasilkan pengajar-pengajar yang berkualitas dan terjamin kehidupannya. Namun, kenyataannya, lulusannya bak berjalan di jalanan berkabut. Serba tidak jelas. Mereka tidak punya cukup bekal dan pengetahuan akan dunia kerja yang serba tidak pasti. Itu semua berujung pada rasa frustrasi pada diri sendiri, pada jurusan, hingga pada pekerjaan sebagai guru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-guru-paud-dianggap-aneh-dan-nggak-punya-masa-depan\/\"><b><i>Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurusan Pendidikan &#8220;bersalah&#8221; pada para mahasiswanya karena tidak memberi cukup bekal untuk menghadapi dunia guru yang serba tidak pasti. <\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":356455,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[2094,29818,6475,2093,21245,29817,175],"class_list":["post-356043","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-guru","tag-guru-indonesia","tag-jurusan","tag-jurusan-pendidikan","tag-mahasiswa-jurusan-pendidikan","tag-mahasiswa-pendidikan","tag-pendidikan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/356043","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=356043"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/356043\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/356455"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=356043"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=356043"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=356043"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}