{"id":355988,"date":"2025-09-09T15:45:45","date_gmt":"2025-09-09T08:45:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=355988"},"modified":"2025-09-09T15:32:38","modified_gmt":"2025-09-09T08:32:38","slug":"kuliner-semarang-nggak-cocok-di-lidah-orang-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-semarang-nggak-cocok-di-lidah-orang-malang\/","title":{"rendered":"Cerita Orang Malang Merantau ke Semarang, Nggak Cocok dengan Kulinernya dan Berakhir Makan Pecel Lele Hampir Tiap Hari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya teman yang merantau dari Malang ke Semarang. Lahir dan besar di sana membuat teman saya begitu nyaman akan Malang. Cuaca, orang-orang, hingga kuliner Malang adalah zona nyamannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, ketika kawan saya tiba di Semarang, dia mengalami begitu banyak kekagetan. Hampir semua tentang Semarang dia nggak cocok. Baginya, dan mungkin banyak orang lain yang tidak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-duka-tinggal-di-daerah-pesisir-yang-masuk-kawasan-rawan-tsunami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tinggal di pesisir<\/a>, Semarang adalah kota yang sangat panas. Dia mendeskripsikan panasnya Semarang seperti dipanggang hidup-hidup. Tentu deskripsi yang tidak berlebihan mengingat selama ini dia tinggal di Malang yang merupakan daerah pegunungan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, uniknya, arek Malang satu ini ternyata bisa menyesuaikan diri dengan panasnya Semarang. Walau memang perlu waktu hingga akhirnya dia bisa berdamai. Satu hal yang perlu waktu lebih lama untuk penyesuaian diri adalah kuliner Semarang. Bagaimanapun usahanya menyukai kuliner Semarang, lidahnya tak kunjung cocok.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Soto bening, kuliner Semarang paling aneh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali sarapan di Semarang, kawan saya mencicipi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soto-sawah-mbak-tutik-semarang-memanjakan-lidah-dan-mata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">soto<\/a> yang berada di sekitar kosannya di Jalan Pemuda. Tentu itu pilihan tepat. Sebab, orang Semarang memang biasa sarapan soto, itu mengapa begitu mudah menemukan penjual soto di sana. Sarapan soto bakal jadi pengalaman kuliner yang warlok banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan semangat dan ekspektasi tinggi, teman saya memesan seporsi soto. Begitu mangkok datang, dia terkaget-kaget, \u201cLho, kok kuah sotone bening? Kayak air putih saja,\u201d katanya. Saya yang menemaninya hanya bisa tertawa. Bagi orang Jawa Timur seperti dia, soto seharusnya punya kuah yang keruh, pekat, serta berbumbu dan beraoma kuat. Bukannya kuah bening seperti sop.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencoba memahaminya. Sebab, kuah soto gaya Jawa Timur dan Semarang memang berbeda. Di daerahnya soto lebih \u201cberani\u201d soal bumbu. Bahkan, kadang tersedia koya yang bisa memperkuat rasa dan tekstur.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tahu gimbal kok rasanya manis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi warga lokal Semarang, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tahu_gimbal\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tahu gimbal<\/a> adalah salah satu kuliner lokal kebanggaan. Bagi yang belum tahu, tahu gimbal terdiri dari tahu goreng, lontong, kol, telur, dan gamba alias udang goreng tepung. Bahan-bahan itu kemudian disiram oleh bumbu kacang dengan tekstur lembut dan cenderung manis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawan saya yang arek Malang tadi mencicipi makanan ini. Dia memesannya dengan permintaan khusus, \u201cPedesin ya, Bu.\u201d Dia sudah membanyakan seporsi tahu gimbal super pedas yang membakar lidah. Sayangnya, ekspektasi itu tidak terpenuhi ketika seporsi tahu gimbal hadir di hadapannya, \u201cWalah, kok manis, Rek? Ini bumbu apa isine gula merah kabeh?\u201d kata dia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya menjelaskan kalau memang begitulah karakter tahu gimbal Semarang. Bumbu kacangnya manis gurih, bukan pedas. Kalau lidah Jawa Tengah bilangnya pas, tapi bagi kawan saya rasanya terlalu manis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia lalu membandingkannya dengan makanan dari kampung halamannya, tahu tek. \u201cKalau tahu tek itu kan pedes, gurih, ada petisnya. Lha ini kok ini rasanya kayak makan lontong dicampur es teh manis?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak hari itu, teman saya makin sadar perjalanan merantau ke Semarang bukan cuma soal kerjaan, tapi juga harus ditambah perjuangan mencari makanan yang cocok di lidahnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nasi uduk dan pecel lele adalah penyelamat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah beberapa waktu merantau, teman saya ternyata tidak kunjung cocok dengan kuliner Semarang. Karena beberapa kali gagal \u201cnyambung\u201d dengan makanan khas Semarang, akhirnya dia memilih untuk mencari jalan aman. Dia cenderung memilih makanan yang rasanya netral, pilihannya jatuh pada nasi uduk dan pecel lele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni lumayan masuk. Nasi uduk kan bumbunya mirip-mirip nasi gurih di Malang. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-dosa-yang-bikin-kita-malas-makan-di-pecel-lele\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pecel lele<\/a> ya pedasnya bisa diatur. Jadi aman,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saat itu, setiap pagi dia lebih sering beli nasi uduk di warung sekitar kos. Malam harinya, dia jajan pecel lele pinggir jalan. Soal rasa, meski tidak 100 persen cocok dengan lidah Malangnya, setidaknya makanan itu masih bisa dinikmati daripada kuliner Semarang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi ingat, memang banyak perantau di Semarang yang akhirnya memilih menu netral semacam itu. Pecel lele, nasi uduk, atau makanan warteg yang rasanya di mana-mana hampir sama dan harganya terjangkau. Jangan memaksa nyari makanan yang rasanya seperti di kampung halaman, yang ada malah bikin makin kangen kampung halaman dan frustasi sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, saya pikir, memang begitulah merantau. Kita tidak hanya belajar menghadapi pekerjaan baru atau bertemu orang-orang baru, tapi juga belajar bagaimana menerima rasa baru. Kadang-kadang, lidah memang keras kepala. Ia menolak, protes, bahkan bikin kita ingin cepat-cepat pulang kampung. Tapi lama-lama, biasanya lidah bisa luluh juga. Pelan-pelan, rasa manis yang dulu ditolak bisa jadi terasa lumrah di lidah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Andre Rizal Hanafi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/3-keunggulan-tinggal-di-kos-campur-yang-jarang-disadari-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Keunggulan Tinggal di Kos Campur yang Jarang Disadari Banyak Orang.<\/a><\/em><\/strong><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a> ya.<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak pilihan kuliner Semarang, sayangnya tidak semuanya cocok di lidah orang Malang yang suka pedas dan bumbu yang kuat.  <\/p>\n","protected":false},"author":2987,"featured_media":356068,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[7691,985,1418,24012,18529,4652,29815],"class_list":["post-355988","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kuliner-semarang","tag-malang","tag-merantau","tag-orang-malang","tag-perantauan","tag-semarang","tag-warga-semarang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/355988","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2987"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=355988"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/355988\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/356068"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=355988"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=355988"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=355988"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}