{"id":355945,"date":"2025-09-08T15:23:24","date_gmt":"2025-09-08T08:23:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=355945"},"modified":"2025-09-08T15:23:24","modified_gmt":"2025-09-08T08:23:24","slug":"skincare-routine-anak-sd-yang-semakin-meresahkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/skincare-routine-anak-sd-yang-semakin-meresahkan\/","title":{"rendered":"Anak SD Zaman Sekarang Sudah Punya Skincare Routine Lengkap dan Tampilan Layak Selebgram: Padahal Saya Pas Bocah Bangga Punya Kaos Sablon dari Pasar Malam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, anak SD paling pol berdebat siapa yang paling jago main kelereng atau lompat tali. Sekarang? Mereka sibuk memilih skincare, mengatur angle foto, memilih filter yang bikin pipi tirus, lalu mempostingnya di media sosial demi terlihat \u201cwah\u201d dan \u201ckeren\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Juni 2024, sebuah opini di \u201cThe Minnesota Daily\u201d menyoroti perkembangan mencemaskan. Anak-anak bahkan di usia 8 hingga 12 tahun sudah terdorong untuk tampil seperti orang dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-yang-sering-muncul-dalam-dunia-skincare-dan-makeup\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ber-makeup<\/a>, rutin memakai skincare, mengenakan pakaian dewasa, serta merasa perlu mematuhi \u201crutinitas orang dewasa\u201d yang mereka lihat di media sosial. Ini seharusnya membuat kita bertanya-tanya. Apakah masa kecil sekarang masih ada atau sudah resmi ditukar dengan versi trial kehidupan dewasa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menatap ini sambil mengingat masa kecil ketika anak-anak sekarang sibuk \u201cglow up\u201d demi feed media sosial. Dulu, saya merasa super keren hanya karena punya kaos sablon pasar malam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, melihat bocil memainkan petak umpet utama, lebih suka memakai crop top mini dan lip tint pink, rasanya seperti ditarik anomali waktu. Seoalah masa kecil tidak penting.<\/span><\/p>\n<h2><b>Belum melewati fase lugu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin miris, anak-anak ini bahkan belum sempat melewati fase lugu lucu yang biasanya jadi bahan foto album keluarga. Tiba-tiba langsung loncat ke fase \u201cdewasa mini\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan-hujanan utama? Tidak ada dalam jadwal. Naik sepeda pegal-pegal? Hanya kalau begitu bisa masuk cerita Instagram. Rasanya seperti menonton film yang langsung fast forward dari babak pembukaan hingga klimaks. Dan ketika mereka nanti benar-benar dewasa, anggapan saya yang mereka rindukan adalah masa kecil yang tak pernah mereka miliki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, mereka disebut \u201cdewasa sebelum waktunya\u201d. Padahal, kalau disuruh bayar listrik atau antre di loket pajak, pasti langsung nyari orang tua. Maksudnya, yang dipercepat hanya yang terlihat, bukan hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lihat saja sekarang, di TikTok atau Instagram. Anak SD sudah sibuk memilih skincare, pakai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-sih-bedanya-makeup-mahal-dan-murah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">makeup tebal<\/a>, celana high waist, lengkap dengan pose mirror selfie yang biasa dipakai kakak-kakak kuliahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka memakai caption bahasa Inggris setengah matang, \u201cJust vibin&#8217;\u201d, \u201cSelf love\u201d, padahal PR Matematika belum selesai. Kalau dulu anak seusia itu sibuk main sampai kulit gosong, sekarang sibuk nyobain skincare dan latihan eye contact challenge sambil nyari cahaya matahari yang pas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Diasuh algoritma media sosial<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak zaman sekarang punya pengasuh baru: algoritma media sosial. Pengasuh ini tidak pernah lelah, bahkan tidak pernah minta gaji. Kerjanya mengatur apa yang harus dilihat, siapa yang harus diidolakan, trend yang sedang viral, skincare artis yang harus kamu beli, bahkan gaya berpakaian yang harus diikuti.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dulu anak belajar sopan santun dari orang tua atau guru BP, sekarang mereka belajar pargoy dari FYP TikTok. Meski algoritma ini tidak pernah hadir di pertemuan orang tua murid, pengaruhnya bisa lebih besar daripada wali kelas dan orang tua digabung jadi satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, pengasuh digital ini harus diberi 0 besar. Laporan \u201cState of Mobile 2023\u201d oleh firma riset data.ai mencatat bahwa warga Indonesia menghabiskan rata-rata 5,7 jam per hari di depan layar ponsel atau tablet. Ini menempatkan Indonesia peringkat pertama di dunia. Anak-anak kita? Juga ikut nimbrung, baik secara langsung maupun tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lihat juga studi terbaru dari Universitas Negeri Surabaya yang menyatukan <a href=\"https:\/\/unesa.ac.id\/jangan-sepelekan-dampak-screen-time-anak-ya-bun-sangat-berisiko-bagi-kesehatan-mental-mereka\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">screen time siswa SMP<\/a> di Surabaya selama 2024. Hasilnya, mereka menghabiskan 41,3 jam per minggu di depan layar. Alias \u200b\u200bhampir 6 jam setiap hari untuk scrolling dan yang jelas bukan konten pelajaran .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan. Anak SD hari ini dibentuk oleh algoritma yang diterima lewat feed yang tak pernah bosan. Berbeda dengan pengasuh manusia yang bisa ngambek atau mengobrak-abrik stasiun TV kalau anak terlalu sering main gadget, algoritma ini hanya mengikuti statistik: engagement naik, maka jadi \u201clebih cinta\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rajin belajar skincare dan berdandan sejak dini<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau algoritma media sosial adalah tangan kanan yang membentuk anak-anak menjadi \u201cmini dewasa\u201d, tangan kirinya adalah, ya benar sekali: orang tua mereka sendiri. Bedanya, kalau algoritma bekerja lewat scroll dan like, orang tua melakukannya lewat pilihan kata, sikap, ekspektasi, dan tentu saja barang-barang yang mereka beli termasuk skincare.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di banyak rumah, anak SD sudah jadi objek percobaan didandani seperti calon pengantin prewedding. Orang tua memakaikan busana dewasa, menjadikan anak-anak model konten Instagram keluarga, dan eksperimen skincare bersama-sama. Semua dengan alasan \u201cbiar lucu\u201d atau \u201cbiar percaya diri sejak kecil\u201d, padahal efeknya: masa kanak-kanak mereka dipangkas seperti rok mini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena anak SD yang sudah akrab dengan skincare dan memakai busana orang dewasa ini bahkan punya istilahnya sendiri di ranah sosiologi dan psikologi perkembangan, yaitu kedewasaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara sederhana, ini adalah proses ketika anak-anak diperlakukan, diharapkan, atau ditampilkan layaknya orang dewasa. Baik melalui gaya berpakaian, perilaku, atau beban peran sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, secara mental dan emosional mereka belum siap. Di Indonesia, versi \u201cpop\u201d-nya sering kita lihat dalam bentuk anak SD yang dibelikan gaun pesta dengan skincare lengkap, setelan jas slim fit, heels mini, lalu diunggah ke Instagram dengan caption \u201cprincess mommy\u201d atau \u201cganteng banget kayak papa\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengembalikan masa kecil mereka, melupakan skincare<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masa kecil harusnya menjadi landasan penting untuk kesehatan mental, proses pembelajaran, kreativitas, dan kepercayaan diri anak di masa depan. Ketika anak terdorong untuk berpenampilan atau berperilaku layaknya orang dewasa, mereka kehilangan ruang aman untuk bereksperimen, gagal tanpa malu, dan membangun imajinasi yang bebas dari tekanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua punya peran utama untuk memastikan masa kecilnya tetap utuh. Caranya sederhana sekali, tapi butuh konsistensi. Misalnya dengan memberikan waktu utama bebas tanpa gadget, melibatkan anak dalam permainan fisik atau aktivitas kreatif, dan jangan menuntut mereka tampil sempurna di depan publik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih mengikuti tren media sosial, orang tua bisa jadi \u201ckurator pengalaman\u201d yang relevan dengan usia anak. Mulai dari mengajak piknik, membaca buku cerita, hingga membiarkan mereka kotor-kotoran di halaman. Ingat, masa kecil tidak bisa di-repost atau diulang. Kalau hilang sekarang, ia hilang selamanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Glow up berkat skincare artis nanti-nanti saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi orang tua di era ini bukan hanya soal menafkahi dan mendidik, tapi juga melawan derasnya arus tren, iklan, dan \u201cstandar keren\u201d yang datang silih berganti. Psikolog keluarga, Rose Mini Agoes Salim, dalam wawancaranya dengan Kompas pada tahun 2022, menyebut bahwa tantangan terbesar orang tua masa kini adalah menjaga nilai dan batasan di tengah banjir informasi dan godaan konsumsi instan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, musuh terbesar orang tua mungkin hanya televisi dan jajanan sembarangan di sekolah, sekarang daftar lawannya panjang. Mulai dari gawai dengan notifikasi tanpa henti, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-beauty-influencer-yang-bisa-menjerumuskan-audiens-dalam-masalah-kecantikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">iklan influencer<\/a> yang menyusup di setiap jeda hiburan, skincare keluaran artis, sampai tekanan sosial tak kasat mata yang membuat anak merasa \u201ckurang\u201d jika tidak mengikuti tren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tahu medan tempurnya sudah berubah sedrastis ini, bukankah sudah saatnya strategi kita ikut berubah? Kalau kita paham bahwa nilai dan kebahagiaan anak tidak bisa di-outsourcing ke tren atau teknologi, mengapa tidak mulai hari ini kita berperan lebih aktif sebagai penentu \u201cstandar keren\u201d di rumah, sebelum dunia luar yang melakukannya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Sayyid Muhamad<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasaan-ngirit-skincare-yang-sebaiknya-dihentikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kebiasaan Ngirit Skincare yang Sebaiknya Dihentikan<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dulu, anak SD paling pol berdebat siapa yang paling jago main kelereng atau lompat tali. Sekarang? Mereka sibuk memilih skincare. Prihatin.<\/p>\n","protected":false},"author":3038,"featured_media":355949,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[4915,29797,71,29796,7608],"class_list":["post-355945","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-anak-sd","tag-make-up-anak-sd","tag-skincare","tag-skincare-anak","tag-skincare-routine"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/355945","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3038"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=355945"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/355945\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/355949"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=355945"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=355945"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=355945"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}