{"id":35548,"date":"2020-04-10T15:17:41","date_gmt":"2020-04-10T08:17:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=35548"},"modified":"2020-04-10T15:17:41","modified_gmt":"2020-04-10T08:17:41","slug":"membongkar-alasan-zuppa-soup-mendadak-jadi-menu-wajib-pesta-pernikahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membongkar-alasan-zuppa-soup-mendadak-jadi-menu-wajib-pesta-pernikahan\/","title":{"rendered":"Membongkar Alasan Zuppa Soup Mendadak Jadi Menu Wajib Pesta Pernikahan"},"content":{"rendered":"<p>Ada menu-menu di gubuk pesta pernikahan yang terkesan wajib dan harus ada, salah satunya zuppa soup. Entah bagaimana awal mulanya, makanan ini tiba-tiba aja mewabah di setiap pesta pernikahan. Bahkan, ia disukai para tamu yang bikin sering kali dalam sekejap saja dia habis lebih dulu dibanding menu lain.<\/p>\n<p>Lalu, apa yang sekiranya membuat zuppa soup seakan menjadi primadona baru di pesta pernikahan\u2014bahkan berpotensi menggeser kepopuleran kambing guling?<\/p>\n<p>Untuk menjawab rasa penasaran ini, saya coba berdiskusi dengan dua orang teman. Teman yang pertama, sekolah dan bekerja di bidang <em>hospitality, <\/em>hobi masak, sekaligus bekerja sebagai <em>freelancer<\/em> di <em>wedding organizer<\/em>. Teman kedua juga hobi masak dan penikmat menu gubukan tiap kali datang ke pesta pernikahan.<\/p>\n<p>Dari diskusi yang kami lakukan, kami membagi menjadi dua sudut pandang. Kurang lebih sebagai berikut.<\/p>\n<h4>Pertama, dari sudut pandang yang punya acara<\/h4>\n<p>Setiap orang yang membuat pesta pasti ingin memuaskan tamu undangan; ingin memberi kesan yang baik dari sisi visual (dekorasi) dan penyajian makanan, termasuk bagaimana rasanya. Pemilihan zuppa soup sebagai salah satu menu yang disajikan (terlebih jika kita menggunakan WO) pasti sudah melalui diskusi antara WO juga pihak keluarga.<\/p>\n<p>Dan kenapa menu tersebut bisa dipilih sekaligus hampir ada di setiap pesta pernikahan, hal itu nggak terlepas dari hasil observasi tim WO, menu apa yang menjadi favorit, paling digemari, cepat habis, dan bisa memuaskan lidah khalayak. Semua kriteria tersebut ada pada zuppa soup, yang ternyata betul-betul disukai generasi tua dan muda.<\/p>\n<p>Dari sisi penyajian pun terbilang simpel, sudah ada pada satu mangkuk. Tinggal ambil, dan kalau ingin pedas, bisa ditambah saos sesuai selera. Kelebihan lain, perhitungan antara total porsi dan jumlah undangan bisa diperkirakan dengan baik karena sudah disajikan pada satu mangkuk (satu mangkuk untuk satu orang). Selain itu, jadi tahu juga kapan harus <em>restock<\/em> porsi sup ini dengan menyesuaikan kedatangan tamu undangan<\/p>\n<h4>Kedua, dari sudut pandang tamu undangan<\/h4>\n<p>Seperti yang sudah dibahas pada poin pertama, zuppa soup ini betul-betul bisa menyesuaikan selera khalayak. Soal rasa sudah pasti enak dan nggak perlu diragukan. Mau bagaimana pun, sup ini seperti memiliki standar rasa sendiri. Bisa dibilang, se-nggak enak-nggak enaknya zuppa soup, masih terasa enak dan tetap layak dicoba. Dengan kata lain, punya cita rasa sendiri meski <em>topping<\/em>-nya beda-beda. Selain teksturnya yang kental, isian zuppa soup yang bisa ditemui antara lain ada potongan ayam, jagung manis, bisa juga kepiting, udang, atau <em>topping<\/em> lain sesuai kreasi si koki.<\/p>\n<p>Pada umumnya zuppa soup disajikan dalam mangkuk dan nggak pake ribet makannya. Ada yang mengaduk roti <em>(pastry)<\/em> secara keseluruhan ke dalam supnya. Ada juga yang hanya menghancurkan bagian tengah roti, dicampur dengan sup, lalu sisa pinggiran roti dimakan terakhir atau terpisah. Soal gimana cara makan, menyesuaikan selera masing-masing aja.<\/p>\n<p>Selain itu, dari sisi klasifikasi menu kontinental, zuppa soup termasuk ke dalam hidangan kedua setelah <em>appetizer<\/em> (makanan pembuka), jadi bisa untuk membangkitkan gairah makan. Selain penyajiannya yang hampir selalu hangat, porsi zuppa soup nggak banyak. Untuk sebagian orang Indonesia, mungkin malah tergolong sedikit. Itu kenapa dia bisa jadi menu yang cocok dikonsumsi sebelum beralih ke menu <em>buffet<\/em> yang isinya makanan berat.<\/p>\n<p>Alasan terakhir, ya, zuppa soup jarang ada yang jual. Sekalipun ada, terbilang mahal. Kalaupun ada, adanya di restoran atau kafe, dan jarang banget kan kita pesan zuppa soup. Jadi, selama ada yang gratisan di depan mata, kenapa nggak dijadikan opsi utama atau menu wajib yang harus dicoba. Gituuu.<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/resepkoki.id\/resep\/resep-zuppa-soup\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Resepkopi.id<\/a>, tengok resep zuppa soup di tautan tersebut.<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/teori-soal-kenapa-orang-sunda-tidak-menikah-dengan-orang-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Teori Soal Kenapa Orang Sunda Tidak Menikah dengan Orang Jawa<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Seto Wicaksono<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tiba-tiba aja dia muncul. Tiba-tiba aja dia populer.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":35585,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6092,365,2490,6091],"class_list":["post-35548","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kawinan","tag-pernikahan","tag-pesta","tag-zuppa-soup"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35548","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35548"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35548\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35585"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35548"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35548"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35548"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}